Islam Nusantara, Sebuah Pendekatan Kebusanaan

SONGKOK HITAM - Kiai Musthofa Bisri, atau akrab dikenal dengan Gus Mus, mengenakan songkok hitam untuk menegaskan tradisi nusantara. (Foto: Bagus Sigit Setiawan)
SONGKOK HITAM – Kiai Musthofa Bisri, atau akrab dikenal dengan Gus Mus, mengenakan songkok hitam untuk menegaskan tradisi nusantara. (Foto: Bagus Sigit Setiawan)

Kemarin, saya kerawuhan saudara dari Rembang yang sekarang sering wara-wiri ke Madiun, karena istrinya asli Madiun. Dia dulu pernah nyantri di Leteh Rembang, sejak zaman Mbah Cholil Bisri. Sebab itu, dia hapal betul setiap lekuk pesantren yang letaknya berada di tengah Kota Rembang itu.

Waktu masih bujang, masih suka gojekan-lepas, dia sering mengirimi saya buku-buku karya Kiai Musthofa Bisri. Setiap ada buku baru, pasti tak lupa dia kasih kabar ke saya. Kado pernikahan untuk saya pun dia wujudkan dalam bentuk buku. Untuk soal ini, dia tahu apa yang saya suka, selain kopi Lasem yang ampasnya lembut itu.

Meski lebih terlihat gagah dari sebelum menikah, saudara saya ini agak sedikit berubah. Dia agak pendiam. Wajahnya pun tampak sedikit kaku. Barangkali karena telah menjadi Bapak. Namun, ada satu yang tidak berubah dari saudara saya ini, yaitu suaranya agak sedikit diturunkan manakala membicarakan salah seorang kiainya di pondok, Mbah Mus, sebutan akrab untuk Kiai Musthofa Bisri. Publik mengenalnya sebagai Gus Mus.

Malam itu, dia mengabarkan Mbah Mus menggelar ngaji pasan di Pondok, dan disiarkan langsung melalui radio Mata Air. Tentu saya senang mendengarnya. Setelah panjang lebar menceritakan ini-itu, dengan nada suara naik-turun, pembicaraan kami sampai pada perkara ringan yang ada dan menjadi kekhasan pada sosok Kiainya itu, yakni cara berpakaian.

Saya ingat, Mbah Mus pernah memposting fotonya dengan keterangan ’kalung usus’, yang menegaskan dengan sedikit bercanda bahwa beliau ini pantesan atau serba-pantas pada saat mengenakan pakaian dengan gaya apa pun. Beliau dalam postingan foto itu tampak mengenakan beberapa model topi atau penutup kepala, mulai dari udeng atau iket Jawa, topi pet, kopyah haji, songkok, sampai dengan surban ala Syekh Hisyam Kabbani. Semuanya memang tampak pantas dikenakan oleh Mbah Mus.

Bersamaan dengan ingatan mengenai postingan itu, saya juga mengingat postingan salah satu putra mantunya yang memperlihatkan foto Mbah Mus pada saat mbalah kitab ngaji pasan di lokasi pondok. Dengan luwes-peni, Mbah Mus tampak mengenakan surban putih kecil di kepalanya. Surban putih yang mirip juga pernah saya lihat pada waktu beliau menerima kunjungan Syekh Rojab Dib dari Syiria di kediamannya.

Malam itu, saya nyatakan kepada saudara saya, meski tentu dia lebih paham perihal Kiainya itu bahwa Mbah Mus ini tipikal ulama lawas. Menggunakan pakaian sesuai pada tempat dan situasinya, sebuah perkara yang gagal ditiru oleh banyak orang hari ini. Saya menyebut itu sebagai etika pergaulan. Menempatkan diri pada tempatnya.

Lumrah diketahui, Mbah Mus kadang terlihat mengenakan setelan celana dan topi. Kadang juga mengenakan celana kain dengan songkok hitam. Kadang terlihat mengenakan setelan sarung dan baju koko putih dengan songkok hitam pada saat mengisi pengajian di daerah-daerah. Dan pada kunjungannya ke Amerika beberapa tahun lalu, beliau terlihat elok-wangun mengenakan setelan jas, meski tetap mengenakan songkok hitamnya.

Pemandangan gagah model serupa bisa Anda lihat pada foto-foto dokumentasi era kemerdekaan. Foto-foto Perjanjian Renville, Linggarjati, Konferensi Asia-Afrika, dan lain sebagainya. Bahkan gaya busana inilah (songkok hitam), yang membedakan atau menjadi ciri khas Muslim Indonesia (baca: Islam Nusantara) dalam pergaulan Internasional.

Akar Kuat

Gaya berpakaian Mbah Mus yang demikian ini sebenarnya mempunyai akar kuat dalam tradisi kuna. Al-Farabi (alpharibius), salah satu murid paling lengkap al-Kindi, di samping kemahirannya dalam bidang logika dan filsafat politik, ia juga menjalani hidupnya sebagai seorang sufi bahkan sejumlah istilah sufi teknis mewarnai seluruh karnyanya.

Ia tidak menyukai kehidupan duniawi yang berlebihan dan memiliki kecintaan khusus pada alam dan kesederhanaan hidup yang dijalani. Bahkan al-Farabi melaksanakan beberapa pengajaran dan berbagai diskusinya di persawahan di dekat sungai di luar keramaian kota.

Kekhususan dalam pembahasan ini adalah al-Farabi juga tercatat sering memakai pakaian bercorak Asia Tengah dengan surban dari kain bulu yang besar, sebuah pakaian lokal atau pakaian tradisional yang ada di lingkungannya, selain karena tidak mau patuh pada aturan-aturan tata-pakaian di Istana. Tapi, pada saat yang lain, ia tampak berpakaian lebih baik dari orang lain. Mungkin untuk berbaur dengan para pengkritiknya di Istana.

Gaya berpakaian ini juga tampak pada gambaran profil Sunan Kalijaga yang sampai hari ini terus dijaga dan dipraktikkan oleh keturunannya, seperti almarhum Gus Dur, dan anak turun murid-muridnya, seperti Den Cahyo Hening Wahyu Rino.

Tindakan mengganti-ganti pakaian antara pakaian sederhana dan mewah juga dilakukan oleh sejumlah Sufi terkenal, seperti Imam Abu al-Hasan al-Syadzili, pendiri Tarekat Syadziliyah. Hal itu mungkin untuk menunjukkan independensi mereka tidak hanya dari dunia, tapi juga dari penolakan terhadap dunia, atau yang oleh Maulana Rumi disebut dengan ‘penolakan terhadap penolakan’ atau Tark-I tark.