Upawasa, tentang Sejarah Puasa dan Puasa dalam Islam

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta 1925. (Foto: Het Nationaal Archief)
Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta 1925. (Foto: Het Nationaal Archief)

Pada asalnya, dalam Bahasa Arab, kata ash shiyam memiliki arti yang sama dengan kala al imsak, yakni menahan dari melakukan sesuatu atau meninggalkannya. Ketika kuda tunggangan enggan berjalan walaupun dihela berkali-kali maka akan dikatakan, Shomaat al khailu ‘an as sairi (kuda menahan jalannya). Begitu pula perbuatan-perbuatan lain. Ketika tertahan berlangsungnya maka dapat kita gunakan kata ash shaum atau ash shiyam.

Aktivitas puasa dengan pengertian paling sederhana, yaitu kondisi ketika badan tidak mengonsumsi makanan untuk beberapa saat atau beberapa hari, ternyata tidak hanya dialami oleh spesies manusia. Dari sekian banyak spesies hidup, ada sebagian yang juga melakukan aktivitas semakna dengan pengertian puasa di atas. Ada yang melakukannya karena terdesak kondisi alam, dan ada juga yang melakukannya secara sukarela karena sedang menjalani fase tertentu dalam siklus hidupnya.

Unta, hewan padang pasir itu, kadang kala harus melakukan puasa atau menahan makan-minum karena masih berada di pasang pasir. Ular dapat bertahan hidup tanpa makan dalam waktu yang lama. Begitu pula beruang kutub, beberapa spesies hewan pengerat, ikan, dan beberapa jenis burung.

Beberapa serangga meninggalkan makan dan minum selama dalam kepompong. Setelah menyelesaikan fase ini, mereka dapat hidup lebih baik, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Induk ayam juga tidak mencari makan selama beberapa hari pada saat mengerami telurnya.

Sejarah Puasa

Sedang dalam sejarah umat manusia, puasa dikenal sejak zaman kuno, baik untuk tujuan pengobatan maupun ritual keagamaan tertentu. Dalam dunia pengobatan klasik, puasa dipakai, di antaranya oleh para dokter dari Alexandria, Mesir, pada masa pemerintahan Batlimus. Seorang dokter Yunani kuno, Hippocrates, yang hidup pada abad ke-5 SM, telah menyusun cara-cara puasa untuk terapi pengobatan.

Ovivo Corna menggunakan terapi puasa untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Sebelumnya, ia mencoba pada dirinya sendiri dan berhasil sembuh dari penyakit kronis yang dideritanya. Ia berumur hampir 100 tahun lamanya. Di penghujung hayat, ia mengarang sebuah buku tentang pentingnya puasa dalam mengobati beberapai penyakit. Buku itu ia beri judul Siapa yang Sedikit Makan, Akan Berumur Panjang. Begitu tulis Hasan bin Ahmad Hammam dalam karyanya At Tadawi bi Al Istighfar bi Ash Shadaqah bi Ad Du’a bi Al Qur’an bi Ash Shalah bi Ahs Shaum.

Pada Abad ke-6 SM, seorang tabib dari Tiongkok bernama Shu Jhu Chi yang hidup di Tibet menulis satu bab khusus dalam kedokterannya tentang terapi puasa dan terapi makanan. Epicurus, seorang filsuf besar sebelum memasuki ujian akhir di Universitas Alexandria, berpuasa selama 40 hari untuk menambah kekuatan pikiran dan daya kreativitasnya.

Menurut Louis Ma’luf (2003), dalam dunia keagamaan, puasa merupakan ritual kuno dan sudah banyak dikenal. Dalam masyarakat yang memiliki peradaban maju, seperti Mesir dan Bangsa Phoenisia yang hidup di wilayah Lebanon sekitar abad ke-26 SM, puasa telah dikenal. Mereka berpuasa untuk menghormati Izis. Penganut Hindu, Brahma, serta Budha di India dan dunia Timur, melakukan puasa sesuai aturan yang tertera dalam Kitab Suci mereka.

Sebagaimana dalam tradisi kita tentang penyebutan kata puasa yang dijadikan kata ganti untuk menyebut ash Shiyam, rupanya berasal dari Bahasa Sansekerta, yang terdiri dari kata upa yang berarti dekat atau mendekat, dan wasa yang berarti Tuhan. Upawasa atau Puasa mempunyai arti mendekatkan diri kepada Tuhan. Tradisi Upawasa atau puasa menjadi perkara lazim dalam sejarah Bangsa Indonesia, bersanding dengan istilah tirakat.

Sejarah puasa bangsa-bangsa terdahulu juga disinggung dalam Al-Quran, yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 183, yang menjadi dalil kerap disitir pada saat menjelaskan kewajiban Puasa Ramadhan.

Sejarah ini banyak dituturkan mufasir atau ahli tafsir klasik ketika menjelaskan maksud kata-kata, ‘Orang-orang sebelum kamu’ dalam kalimat, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QQ Al Bawarah: 183)

Menurut Imam Ath Thabari dalam Jami’ Al Bayan fi Ta’wil Al Qur’an, yang dimaksud dengan ‘Orang-orang sebelum kamu’ tidak lain adalah umat Nasrani pada masa lalu yang sudah diwajibkan berpuasa pada Bulan Ramadhan. Mereka tidak makan sebelum tidur dan tidak berhubungan badan sama sekali selama satu bulan penuh.

Pada umumnya, bulan puasa jatuh pada musim panas yang sangat terik atau pada musim dingin yang menusuk tulang, sehingga ibadah ini dirasa mengganggu aktivitas perekonomian mereka. Hal ini mendorong para cendekiawan Nasrani bersepakat memindah waktu puasa pada musim semi untuk memudahkan ritual puasa ini bagi umatnya. Mereka menambahkan sepuluh hari, sebagai kafarah (penebus) atas perbuatan mereka, sehingga hari wajib puasa bagi umat Nasrani adalah 40 hari.

Ats Tsa’labi dalam Al Kassyaf wa Al Bayan menulis, seorang raja yang pada waktu itu sedang sakit parah bernazar kepada Allah. Jika ia sembuh maka akan mewajibkan kepada rakyatnya puasa satu minggu. Setelah benar-benar sembuh, ia menjalankan nazarnya itu. Hingga kemudian puasa wajib menjadi 47 hari. Setelah sang raja wafat dan digantikan raja lain, raja baru ini memerintahkan agar puasa itu disempurnakan menjadi 50 hari, dengan menambahkan 3 hari.

Puasa dalam Islam

Puasa Ramadhan baru diperintahkan kepada umat Islam pada Bulan Syaban, dua tahun setelah hijrah ke Madinah. Artinya, ibadah puasa baru disyariatkan 15 tahun setelah dikabarkannya agama Islam. Pertanyaannya, mengapa puasa tidak diwajibkan pada era awal kelahiran Islam?

Jawabannya, penggemblengan dan penguatan akidah adalah prioritas utama dalam misi dakwah di awal kemunculan Islam. Hal ini bisa kita buktikan dengan adanya perbedaan karakteristik antara surat-surat Makkiyah dan Madaniyyah.

Az-Zarqani menginventarisasi beberapa perbedaan tersebut. Pertama, ayat Makkiyah sering menggunakan redaksi ya ayyuha an nas (wahai manusia), menunjukkan pesan-pesan yang ingin disampaikan bersifat universal, karena mencakup mereka yang mukmin dan non-mukmin. Kedua, dalam ayat-ayat Makkiyah tidak terdapat penyebutan adanya kelompok munafik sebagaimana banyak ditemui dalam ayat-ayat Madaniyyah. Ketiga, ayat-ayat Makkiyah pada umumnya menjelaskan dasar-dasar agama (ushul ad din), sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan sudah menjelaskan detail-detail ajaran agama.

Akidah yang tertancap kuat dapat menjadikan perintah syariat mudah diterima dan dijalankan dengan ketulusan dan ketundukan. Berbeda ceritanya jika umat sudah diperintahkan menjalankan kewajiban syariat, padahal akidahnya masih rapuh. Alih-alih syariat akan dijalankan, yang terjadi justru muncul penolakan terhadap syariat.

Hikmah inilah yang kemudian digunakan oleh Walisongo ketika menyampaikan ajaran Islam di Nusantara. Kemampuan para wali menggalang kepercayaan umat melalui perjalanan dakwah yang tidak kenal lelah dibarengi apresiasi yang sangat tinggi pada agama lama, seperti Kapitayan, Hindu, Budha, maupun lainnya. Kematangan dalam mengelola budaya membuat ajakan mereka diterima oleh hampir seluruh penduduk Nusantara.

Strategi para wali dalam mengembangkan ajaran Islam di bumi Nusantara dimulai dengan beberapa langkah strategis. Pertama, tadrij (bertahap); tidak ada ajaran yang diberlakukan mendadak, semua melalui proses penyesuaian.

Kedua, ‘adamul haraj (tidak menyakiti). Para wali menyampaikan ajaran Islam tidak dengan cara mengusik tradisi yang ada, bahkan tidak mengusik agama dan kepercayaan mereka, tetapi memperkuatnya dengan cara islami, seperti yang terlihat dalam penyebutan kata sembah-Hyang atau Sembayang untuk menyebut kata Sholat, dan Upawasa, poso, atau puasa untuk menyebut ash shaum atau ash shiyam.

Upaya atau strategi yang dilakukan Walisongo ini kiranya penting untuk dipelajari lagi, mengingat seringnya terjadi gesekan antar-etnis atau antar-pemeluk agama yang terjadi belakangan ini. Karena, dakwah secara santun sudah menjadi ciri khas para sahabat. Sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW kepada Sahabat Mu’adz ibn Jabal pada saat diperintah berdakwah kepada masyarakat Yaman, “Ajaklah mereka dengan hal-hal yang mudah. Janganlah memberatkan mereka. Berilah mereka kabar gembira dan jangan membuat mereka lari ketakutan.” (Sahih Bukhari: 4.341)

Ajaran cinta damai ini tentu penting untuk dikembangkan. Seperti yang disebutkan oleh Imam Jalaluddin al- Suyuti dalam Al-Dur al-Manshur fi bi al-Ma’tsur bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah ngendika, “Aku tidak diutus untuk mencaci-maki, tetapi aku diutus untuk menebarkan kasih sayang.”