Lailatul Qadar, Malam Kehormatan dan Pembebasan Kesengsaraan Manusia

IKTIKAF - Pesan iktikaf di Masjid Al-Muflihun Manukan Condongcatur Depok Sleman. (Foto: Arif Giyanto)
IKTIKAF – Pesan iktikaf di Masjid Al-Muflihun Manukan Condongcatur Depok Sleman. (Foto: Arif Giyanto)

Seorang ulama Nusantara asal Rembang, Kiai Muhammad Cholil Bisri, pernah menulis, Bulan Ramadhan mengumpulkan tiga macam dambaan setiap orang beriman, yakni rahmah, maghfirah, dan ‘itq min an-naar atau kasih sayang, pengampunan, dan pembebasan dari kesengsaraan (terutama kesengsaraan neraka).

Karena itu, ketika Ramadhan usai, di antara kita ada yang merasa kecewa dengan cepatnya Ramadhan berlalu, karena merasa belum banyak khairat atau hasanat (kebaikan-kebaikan).

Rasanya di antara kita ada yang mendambakan terus berada di Bulan Suci itu, seperti Rasulullah Saw. katakan, “Bila umatku tahu apa yang bakal diperoleh dan janji yang akan diberikan di Bulan Ramadhan, dia tentu akan menginginkan, sepanjang tahun adalah Ramadhan.”

Disebutkan, pada Bulan Ramadhan, setan berada dalam pasungan. Ia tidak leluasa menghalangi setiap insan yang ingin berbuat kebaikan. Kebaikan yang dilakukan di Bulan Ramadan tidak hanya berpahala dengan gandaan hingga 700 kali lipat; bahkan lebih dari itu.

Menurut hadis qudsy, seolah-olah pelaku kebaikan boleh ‘mengambil’ pahalanya sendiri sampai berkelipatan berapa pun. Gusti Allah menyabdakan, Dan Aku sendiri yang akan menerimakan pahalanya (Wa Ana ajzii bih).

Selanjutnya, Kiai Cholil menyebut bahwa pada bulan ini, Gusti Allah menebarkan kasih sayang-Nya di antara makhluk-makhluk hidup yang berhati. Mereka pun sangat menikmati anugerah kasih sayang itu.

Kasih sayang Allah yang hanya diterimakan kepada mereka yang berhati. Yang tidak berhati dibiarkan tetap memangsa sesamanya. Yang tidak mendapat bagian kasih sayang, yang tetap memuat keinginan memangsa sesama, pasti akan dijauhi atau dihindari atau ditakuti atau diperangi oleh lingkungannya.

Ampunan dan kasih sayang adalah pasangan yang nyaris tak terpisahkan. Oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw. disebut sebagai yang bisa mengangkat hamba dari kesengsaraan, kenistaan, dan segala yang membuatnya tertekan.

Pengampunan atau maghfirah itu sendiri menjanjikan peringanan beban dan pengurangan tekanan batin. Seperti utang yang dilunasi, atau seperti janji yang ditunaikan. Plong sensasinya.

Dosa-dosa dan maksiat yang menumpuk, disadari atau tidak, adalah beban yang menekan ‘kebebasan’ moral seseorang. Seperti utang yang belum dilunasi, padahal sudah datang tempo untuk membayarnya. Dosa-dosa yang dilakukan bisa membuat orang enggan, jengah, dan tidak bebas untuk berbuat baik, dan berupaya mengubah kemungkaran.

Dosa bagaikan sumbat yang menghalangi munculnya keinginan nurani. Diriwayatkan oleh banyak hadis, bahwa pengampunan Allah itu bagaikan ‘alat’ yang membuka segala sumbat. Kekakuan, apriori, keangkuhan, prasangka buruk, kecurigaan tak berdasar, dan lain-lain adalah sumbat.

Lailatul Qadar

Paruh ketiga Bulan Ramadhan disebut sebagai itqun min an-naar, pembebasan dari kesengsaraan neraka. Berarti atau seharusnya tidak ada lagi penderitaan. Ketiadaan derita setelah melewati hari-hari kasih sayang dan hari-hari pengampunan. Saat itulah kesempatan berburu ‘malam kehormatan’ terbuka luas.

Malam kehormatan atau Lailatul Qadar yang punya nilai lebih dari seribu bulan itu menanti untuk disambut, diarungi, dan dinikmati. Malam ketika prosesi malaikat yang dipimpin oleh Jibril mengitari cakrawala bagaikan pelangi. Malam yang menyebarkan kedamaian hingga fajar menyingsing.

Kiai Cholil menutup tulisannya dengan pesan bernada tanya, “Mana ada ibadah khusyuk dilakukan tanpa kedamaian?”