Pemuda, Gitar, dan Pengangguran

Ilustrasi: Android Central
Ilustrasi: Android Central

Malam itu, dari Bilik Literasi, aku pulang menggunakan motor. Di jalan, tepatnya di perempatan sebuah desa, aku menemukan pemuda-pemuda tengah asyik mengobrol sambil memainkan alat musik gitar.

Musik gitar menjadi bahasa bagi pemuda desa yang asyik nongkrong di perempatan. Bahasa tersebut menceritakan rahasia-rahasia yang tersimpan di hati pemuda. Alunan musik mengalir, dan nada yang hadir pun merupakan dialog isi hati.

Menurut Kahlil Gibran (2000), musik telah dijadikan sesembahan oleh Bangsa Kaledonia dan Bangsa Mesir. Mereka menyembah dan bersujud pada musik layaknya sosok Dewa Agung.

Bahkan bagi Bangsa Persia dan Bangsa India, musik adalah penjelmaan ruh-ruh para Dewa di kehidupan bumi. Ruh-ruh tersebut sebagai bentuk dialog isi hati untuk menceritakan rahasia-rahasia yang ada di hati. Dalam dunia permusikan, ada bermacam aliran musik beserta alat musiknya.

Nah, salah satu aliran musik yang dinikmati di Indonesia adalah jazz. Dalam musik, untuk mengapresiasi sebuah karya, dibuatlah festival. Banyak tempat di dunia yang menjadi ajang penyelenggaraan festival jazz. Tak terhitung banyaknya tempat yang telah menjadi ajang penyelengaraan tersebut.

Pada 1954, festival jazz pertama kali diadakan dan George Wein sering disebut sebagai Bapak Festival Jazz. Pada 1988, North Sea Jazz Festival diadakan. Sekitar 30 ribu penonton menyaksikan festival ini. Berbagai jenis corak jazz disuguhkan, yakni swing, be bop, cool jazz, jazz rock, jazz latin, jazz funk gospel, soul, rhythm and blues.

Di Indonesia sendiri, festival jazz diselenggarakan di Senayan Jakarta pada 1987. Dalam Samboedi (1989), Joko WH adalah seorang gitaris jazz Indonesia. Ia muncul tiga kali berturut-turut di North Sea Festival, yaitu 1986, 1987, dan 1988.

Pada sebuah festival musik beraliran jazz, gitar menjadi salah satu instrumen untuk menghasilkan sebuah karya melalui petikan.

Gitar memiliki bermacam bentuk dan petikan. Yapi Tambayong (2011) menulis, lead guitar di Indonesia disebut sebagai gitar melodi. Rhythm guitar biasa disebut gitar kocok. Sementara gitar bass biasa disebut stringbass. Bass yang dimainkan secara petik biasa disebut bas betot.

Gitar melodi sering dipakai pemuda desa sebagai intrumen musik untuk mengekpresikan suasana hati, terlebih ketika berkumpul dengan pemuda yang lain.

Aku mendengar lirik mereka meski sedikit. Nyaring seperti puisi. Lirik lagu seperti puisi. Ia terdiri dari beberapa kalimat. Ia menyiratkan maksud agar pendengar mendapatkan oleh-oleh.

Pemuda yang nongkrong di perempatan desa menyiratkan bahwa ia adalah seorang pengangguran. Pengangguran yang ingin meluapkan isi hati lewat petikan gitar. Sebuah ironi tentang pemuda dan kepemudaan.

Karena, Bung Karno bisa berbicara berapi-api tentang pemuda. Melalui mulutnya, pemuda menjelma tak sekadar batas umur. Dalam Catatan Pinggir, Goenawan Muhammad menyebutkan, pada abad ke-20, masyarakat Indonesia belum berada dalam masyarakat teknokratis modern. Akan tetapi, waktu itu menunjukkan bahwa usia bukan kelebihan lagi. Usia bukan jaminan bahwa yang heroik dan penuh semangat itu pemuda. Semangat tak mengenal usia.

Duduk-duduk tanpa aktivitas menjadi wajah pemuda yang bertitel pengangguran. Predikat semangat yang tak melekat di sana.

Dalam novel Bunga Liar karya Chintya Kadohata, pemuda seperti kakak sepupu Sumiko. Ia pemuda keturunan Jepang dan Amerika yang diungsikan ke kamp barak di gurun paling panas di Amerika. Ketika itu, pemerintah mencurigai semua warga keturunan Jepang sebagai mata-mata kerajaan.

Sebelumnya, Sumiko bekerja di perkebunan bunga milik keluarganya. Setiap hari dia memberikan pupuk, memetik bunga, lalu memebersihkan tangkai, lalu menjualnya sebagai upah kerja. Dia selalu bekerja meskipun hasilnya tak pasti.

Namun, ketika di kamp pengungsian, ia tak bisa berbuat apa-apa; hanya duduk-duduk. Pemuda tersebut bingung ketika ia hanya duduk-duduk tanpa pekerjaan atau menganggur di barak kamp.

Barak pengungsian berada di gurun pasir yang panas. Bisa dipastikan bunga tak akan bisa hidup di sana.

Kebingungan sepupu Sumiko tak dirasakan pemuda di desa yang duduk di perempatan. Ia malah membawa gitar sembari menyanyikan lagu cengeng sebagai tanda suasana hati.