Idul Adha 1436 H, Memaknai Qurban Setelah 3700 Tahun

BERDOA - Jamaah haji memanjatkan doa saat pelaksanaan ibadah wukuf. (Foto: Bagus Sigit Setiawan)
BERDOA – Jamaah haji memanjatkan doa saat pelaksanaan ibadah wukuf. (Foto: Bagus Sigit Setiawan)

SETIAP tahun, kita merayakan Hari Raya Kurban atau ‘Id al-Adha. Kiranya, semua orang Muslim mengetahui bahwa hari raya itu sangat erat kaitannya dengan pengalaman ruhani seorang tokoh dan pemimpin umat manusia, Nabi Ibrahim as.

‘Id al-Adha itu, serta ibadah haji di Tanah Suci sebagai bentuknya yang lebih lengkap, dapat dikatakan sebagai usaha pelestarian pengalaman ruhani Nabi Ibrahim as dan putranya, Nabi Ismail as.

Selain diperintah Allah untuk mendirikan bayt atau Rumah Suci di sebuah lembah tandus, Ibrahim juga menerima perintah melalui mimpi yang haq untuk mengorbankan Sang Putra. Dengan penuh sikap pasrah (islam) kepada Allah, Ibrahim memutuskan untuk melaksanakan perintah Tuhannya itu, dan keputusan itu membawa kepada pengalaman-pengalaman keruhanian sejak dari Makkah, Arafat, dan Mina, kemudian kembali ke Makkah. Inilah dasar ritus-ritus ibadah haji dan pelaksanaan qurban/korban.

Kiai Nurcholish Madjid, cendekiawan Islam yang akrab disapa Cak Nur, pernah menulis dengan singkat namun apik mengenai tema qurban atau korban pada Hari Raya ‘Id al-Adha. Korban menurut Cak Nur tidak seperti yang dimaksudkan dalam, misalnya sebuah kalimat, “Seorang nenek menjadi korban penodongan di bus.” Sebab, ‘korban’ dalam berita itu mempunyai arti yang sama dengan kata-kata Inggris victim. Berkorban atau dalam arti menjadi korban atau victim, tentu tidak sama dengan berkorban pada upaya mempersembahkan atau menyembelih hewan korban dalam konteks ‘Id al-Adha.

Sebenarnya, kata Indonesia ‘korban’ adalah pinjaman dari kata Arab, qurban. Terkait dengan ini, kata-kata pinjaman lain ialah ‘karib’, yang diambil dari kata qarib dan ‘kerabat’ dari kata qarabat atau qarabah. Jadi, ungkapan ‘sahabat karib’ dan ‘karib kerabat’, semuanya menunjukkan makna ‘dekat’. Maka secara peristilihan atau semantik, kata ‘korban’ atau ‘qurban’ adalah tindakan seseorang yang menghasilkan kedekatan dengan ridha Tuhan, dan merupakan bagian dari ajaran-ajaran agar kita selalu berusaha mendekati Allah (taqarrub).

Oleh karena itu, Cak Nur dalam tulisannya menyimpulkan bahwa sesungguhnya, dalam berkorban itu yang penting ialah sikap batin kita. Tindakan-tindakan lahiriah tetap penting, selama itu berasal dari batin yang jujur. Maka dari itu dalam ‘Id al-Adha kita memang dianjurkan untuk melakukan korban, mencontoh Nabi Ibrahim as, dengan menyedekahkan hewan bagi orang lain, khususnya kaum miskin.

Mengenai kejujuran polah-tingkah, kita sudah diingatkan dalam Kitab Suci bahwa yang akan diterima oleh Allah, yang betul-betul menjadi ‘qurban’ (yaitu, upaya yang membuahkan kedekatan kepada Allah), bukanlah bentuk fisik hewan korban itu, melainkan nilai takwa yang ada dalam jiwa kita. Allah berfirman,

Tidak akan sampai kepada Allah daging (hewan) itu, dan tidak pula darahnya. Tetapi yang akan sampai kepada-Nya ialah takwa dari kamu. (QS al-Hajj/22:37).

Senada dengan firman Allah di atas, Kanjeng Bendara Muhammad Saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk luarmu dan harta bendamu, tetapi Dia melihat hatimu dan perbuatanmu.” (HR. Muslim, Mukhtashar No. 17776)

Zikir dan Takbiran

Usaha mendekati Tuhan memang sudah seharusnya kita lakukan sehari-hari secara terus-menerus tiada henti (dinamis). Karena itulah agama disebut sebagai ‘jalan’, yang dalam Kitab Suci diwakili dengan kata-kata seperti: syari’ah, thariqah, shirath, sabil, mansak, dan minhaj, semuanya mempunyai arti dasar ‘jalan’, yaitu jalan menuju dan mendekatkan diri kepada Allah. Allah berfirman,

Maka barangsiapa mengharap bertemu Tuhannya, hendaknya dia berbuat kebaikan, dan janganlah beribadat kepada-Nya itu memperserikatkan-Nya kepada suatu apa pun juga. (QS al-Kahfi/18:110)

Karena itu, sudah tepat dalam setiap ‘Id al-Adha, selain menyiapkan tempat dan hewan qurban, kita juga dianjurkan untuk terus-menerus mengucap zikir kalimat-kalimat pengagungan kepada Tuhan, seperti tahmid, dan takbir atau takbir-an.

Berzikir melantunkan gema suara takbir juga mengingatkan kita akan limpahan nikmat yang telah kita terima sepanjang hidup, sekaligus mengingat kilasan sejarah laku dan doa pengharapan Nabi Ibrahim pada 3700 tahun lalu, yang tergambar pada ritual haji, dan qurban.

Jejak doa Nabi Ibrahim tergambar abadi dalam diri putranya yang bernama Ismail atau Ishma-El dalam bahasa Ibrani, yang berarti ‘Tuhan telah mendengar’. Kelak, dari jalur keturunan Nabi Ishma-El inilah Kanjeng Nabi Muhammad Saw. berasal.