Sura, Asyura, dan Bulan Bersyukur

TANDA SYUKUR - Laku Budaya Mbisu Mubeng Beteng Keraton di Bangsal Ponconiti dan di Plataran Keben Kraton, Selasa malam (7/12/2015). Mubeng benteng adalah wujud rasa syukur dan selalu mawas diri. (Foto: Alfiansyafril WordPress)
TANDA SYUKUR – Laku Budaya Mbisu Mubeng Beteng Keraton di Bangsal Ponconiti dan di Plataran Keben Kraton, Selasa malam (7/12/2015). Mubeng benteng adalah wujud rasa syukur dan selalu mawas diri. (Foto: Alfiansyafril WordPress)

MASYARAKAT Jawa bersiap menyambut Wulan Sura pada awal Muharam; bulan pertama kalender Hijriah Islam. Mari sejenak berbagi ilmu seputar suroan dan manfaatnya bagi kita semua.

Kata sura berasal dari kata asyura, dipungut dari Bahasa Arab ‘asyara, berarti bilangan sepuluh yang dihubungkan dengan tanggal sepuluh. Dalam konteks budaya Islam-Jawa, kata asyara-asyura-sura yang bermakna sepuluh itu digunakan untuk menggantikan nama Bulan Muharam.

Penggantian kata sura untuk mengganti nama Bulan Muharam menunjuk pada pentingnya arti tanggal 10 Muharam bagi Muslim Jawa.

Mengutip Prof Simuh (1988), Agus Sunyoto, sejarawan Universitas Brawijaya menegaskan bahwa perayaan Hari Asyura pada 10 Muharam yang dirayakan masyarakat Jawa dengan sajian bubur sura, adalah selamatan dan peringatan yang diperuntukkan bagi Imam Husain ra, cucu Nabi Muhammad SAW, yang terbunuh dalam Pertempuran Karbala, 10 Muharam 67 H/ 680 M.

Hal ini terlihat pada upacara mengarak Tabut Hasan-Husain yang dilakukan masyarakat Sumatera Barat dan Bengkulu.

Abu Bakat Atjeh (1988) menguatkan pendapat ini. Menurutnya, tradisi selamatan membuat bubur asyura yang dilakukan masyarakat Aceh, juga untuk memperingati wafatnya Imam Husain di Karbala.

Untuk mewujudkan rasa prihatin itu, sebagian masyarakat Jawa selama Bulan Muharam pantang mengadakan pesta-pesta hajatan bernuansa sukacita, seperti walimah nikah, walimah khitan, pindah rumah, tasyakuran.

Sebaliknya, masyarakat Jawa melakukan hal-hal yang berhubungan dengan usaha mengirim doa kepada arwah leluhur, ruwatan, membersihkan desa dari balak (selametan desa), membersihkan diri dari anasir buruk (sukerta), larung sesaji, mahesa lawung, dan lain-lainnya.

Untuk menghadapi segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi, sebagian masyarakat beramai-ramai mencuci berbagai benda pusaka (jamasan) yang dimilikinya, seperti keris, tombak, cundrik, patrem, meriam kuno, gamelan, dan semua benda yang diangap bertuah.

Puncak keramaian dari tradisi itu diwujudkan dalam perayaan Gerebeg Sura di Keraton Surakarta, Yogyakarta, maupun Ponorogo, sebagai penerus tradisi Kerajaan Demak dan Pajang.

Pada Bulan Sura, orang melakukan berbagai amaliah berlatar keagamaan seperti berpuasa, membaca amalan doa-doa dan wirid, mandi dan bersuci, bersedekah, menyantuni anak yatim (yatiman). Semua itu menunjukkan bahwa Bulan Sura adalah bulan Istimewa.

Agus Sunyoto menambahkan, asal usul berbagai amaliah tradisi yang dijalankan masyarakat Nusantara, terutama masyarakat Jawa, yakni tradisi Suroan, memperingati Bulan Sura sebagai bulan istimewa, baru muncul pada saat Islam disebarkan, perempat akhir abad ke-15.

Ketika itu para penyebar Islam, Walisanga, melakukan gerakan dakwah melalui pendekatan seni dan budaya. Artinya, tradisi Suroan tidak ditemukan pada zaman Majapahit dan sebelumnya.

Khusus di Keraton Surakarta, tradisi Suroan menjadi menarik. Selain arak-arakan pusaka keraton, juga diarak beberapa ekor kerbau keturunan Kebo Kyai Selamet. Kebo tersebut merupakan keturunan kerbau peliharaan Sinuhun Paku Buwana I. Hewan yang pada hari-hari biasa dapat ditemui di Alun-alun Kidul (Alkid) Kraton Surakarta ini, khusus pada malam satu Sura atau 1 Muharam, akan diarak berjalan di jalanan.

Kebo Kyai Slamet dan keturunannya, oleh sebagian masyarakat Solo dianggap hewan keramat, karena hewan ini semacam amanah yang ditinggalkan mendiang raja mereka. Mungkin sama dengan warga Jepang yang membuat patung anjing untuk mengenang anjing setia bernama Hachiko atau Nabi Muhammad SAW dengan unta kesayangannya, Al-Qushwa.

Bulan Bersyukur

Sebenarnya, Asyura tidak hanya tentang syahidnya cucu kinasih Baginda Muhammad SAW. Masih banyak peristiwa penting lain yang jatuh pada tanggal sama.

Misalnya, peristiwa diterima tobatnya Nabi Adam as, diangkatnya Nabi Idris as ke langit, turunnya Nabi Nuh as dari bahtera setelah banjir global, keluarnya Nabi Ibrahim as dari gunungan api raja Namrud yang sekian lama membakarnya, keluarnya Nabi Yusuf as dari penjara.

Selain itu, sembuhnya Nabi Ya’qub as dari kebutaan, sembuhnya Nabi Ayub as dari penyakit kusta yang telah tujuh tahun dideritanya, keluarnya Nabi Yunus as dari perut ikan, diturunkannya Kitab Taurat kepada Nabi Musa as.

Selanjutnya, tenggelamnya Firaun saat Nabi Musa membelah lautan, diampuninya Nabi Daud as, dinobatkan Nabi Sulaiman as sebagai raja, dan jaminan terampuninya dosa Nabi Muhammad SAW baik yang telah lalu dan yang akan datang.

Jadi, Asyura tidak hanya soal keprihatinan; lebih tepat jika dimaknai dengan ‘bulan bersyukur’, ketimbang ‘bulan keprihatinan’, melihat banyak peristiwa penting yang sebaiknya disyukuri.

Banyak hadits sahih Nabi SAW yang menyiratkan upaya bersyukur ini, di antaranya

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, Ketika Rasulallah SAW tiba di Madinah, beliau menemukan Yahudi Berpuasa pada 10 Muharram (Asyura). Ditanya mengenai hal itu, mereka menjawab, “Pada hari ini, Allah memberi kewenangan pada Musa dan Bani Israil atas Firaun, dan kami berpuasa pada hari ini sebagai bentuk pengagungan kepadanya.” Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Kami lebih berhak dengan Musa daripada kalian.” Rasul lalu memerintahkan berpuasa pada hari itu. (HR Al-Bukhari No. 3943).