Budaya Pemerintahan Satriya, Transformasi Birokrasi Berbasis Nilai Kearifan Yogyakarta

Workshop ‘Budaya Pemerintahan Satriya’ yang diselenggarakan Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kota Yogyakarta. (Foto: Coki Anwar)
Workshop ‘Budaya Pemerintahan Satriya’ yang diselenggarakan Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kota Yogyakarta. (Foto: Coki Anwar)

Umbulharjo, JOGJADAILY ** Penerjemahan transformasi birokrasi oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diwujudkan dalam Budaya Pemerintahan Satriya, ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Nomor 72 Tahun 2008 tentang Budaya Pemerintahan di DIY.

“Budaya Pemerintahan Satriya adalah bentuk komitmen Pemerintah DIY dalam mencapai keberhasilan transformasi birokrasi yang berbasiskan pada nilai nilai kearifan lokal, yaitu filosofi hamemayu hayuning bawana dan ajaran moral sawiji, greget, sengguh ora mingkuh, serta dengan semangat golong gilig,” ujar Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, RR Titik Sulastri.

Titik menyampaikannya di depan para Kepala Sekolah TK, SD, dan SMP se-Kota Yogyakarta dalam Workshop ‘Budaya Pemerintahan Satriya’ yang diselenggarakan Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kota Yogyakarta, di Ruang Bima, Kompleks Balaikota, Rabu (10/2/2016).

Salah satu pemateri workshop, dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Ambar Teguh Sulistiyani, memaparkan Teknik Penyusunan Action Plan dan Implementasi Budaya Satriya.

“Dengan penerapan action plan yang tepat akan menghemat waktu dan uang, membantu memastikan bahwa intervensi memilih koalisi, mengurangi masalah di organisasi, dan membantu mengalokasikan sumberdaya yang dibutuhkan untuk implementasi,” jelasnya.

Budayawan Yogyakarta, KRT Jatiningrat menyampaikan materi Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Pelestarian dan Pengembangan Budaya Ngayogyakarta Hadiningrat yang adiluhung hanyalah merupakan angan-angan belaka, apabila kita tidak cerdas dengan membuka ‘pikiran’ dan membuka ‘hati’ kita,” katanya.

Budaya simbol, sambung KRT Jatiningrat, merupakan hasil (ujut) dari budaya ide, filosofi, gagasan, dan norma. Budaya menurutnya, tidak hanya menghasilkan sesuatu yang ber-ujut, tetapi termasuk falsafah dan kepemimpinan.

Darma Bakti

Hamemayu hayuning bawana mengandung makna kewajiban melindungi, memelihara, serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk masyarakat, daripada memenuhi ambisi pribadi.

Dunia yang dimaksud mencakup seluruh peri-kehidupan, baik dalam skala kecil (keluarga), atau pun masyarakat dan lingkungan hidupnya, dengan mengutamakan darma bakti untuk kehidupan orang banyak; tidak mementingkan diri sendiri.

Turunan filosofi hamemayu hayuning bawana dalam konteks aparatur dapat dijabarkan menjadi tiga aspek.

Pertama, rahayuning bawana kapurba waskithaning manungsa (kelestarian dan keselamatan dunia ditentukan oleh kebijaksanaan manusia). Kedua, darmaning satriya mahanani rahayuning nagara (pengabdian kesatria menyebabkan kesejahteraan dan ketenteraman negara).

Ketiga, rahayuning manungsa dumadi karana kamanungsane (kesejahteraan dan ketentraman manusia terjadi karena kemanusiaannya).

Sementara Satriya memiliki dua makna. Makna Pertama,

(konsentrasi, semangat, percaya diri dengan rendah hati, dan bertanggung jawab).

Semangat yang dimaksud adalah golong gilig yang berarti semangat persatuan kesatuan antara manusia dengan Tuhannya dan sesama manusia. Sifat atau watak inilah yang harus menjiwai seorang aparatur dalam menjalankan tugasnya.

Makna kedua, Satriya sebagai singkatan dari Selaras, Akal budi Luhur, Teladan-keteladanan, Rela Melayani, Inovatif, Yakin dan percaya diri, Ahli-profesional.