Ikon Kebudayaan, Kepala UPT Pusat Bisnis Beringharjo: Pasar Tradisional Harus ‘Njawani’

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Bisnis Pasar Beringharjo, Gunawan Nugroho Utomo. (Foto: Arif Giyanto)
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Bisnis Pasar Beringharjo, Gunawan Nugroho Utomo. (Foto: Arif Giyanto)

Depok, JOGJADAILY ** Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Bisnis Pasar Beringharjo, Gunawan Nugroho Utomo, berpandangan, pasar tradisional di Yogyakarta harus njawani. Karena, bagi Jogja, pasar tradisional adalah ikon kebudayaan.

“Pasar tradisional itu harus terus njawani. Pasar Beringharjo, misalnya. Karena berkah dan doa para pendiri Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang memilih tanah tempat berdirinya Pasar Beringharjo, sampai kini, masih menjadi magnet utama DIY,” ujarnya saat berkunjung ke Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (3/2/2016).

Ia mengungkapkan, meski kini pasar modern banyak berdiri dan keadaan sosial-ekonomi warga Yogyakarta berubah lebih kosmopolitan, keberadaan Pasar Beringharjo masih difavoritkan oleh hampir semua kalangan.

“Kami berusaha sekuat mungkin untuk memberikan pelayanan maksimal, baik saat mengelola pasar atau bersinggungan dengan pembeli. Kenyamanan transaksi menjadi prioritas utama. Salah satunya, mempertahankan dan terus mengeksplorasi khasanah Jawa di dalam Pasar Beringharjo,” tutur Gunawan.

Menurutnya, dalam waktu dekat, nuansa Mataraman akan dihadirkan di Pasar Beringharjo, untuk semakin memperkuat brand pasar tradisional yang menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur.

“Pembenahan struktur bangunan Pasar Beringharjo terus kami lakukan secara bertahap. Dalam waktu bersamaan, kami juga akan menggarap mindset publik tentang pasar tradisional yang nguri-nguri kebudayaan dan sarana pembelajaran budaya,” terangnya.

Semakin Nyaman

Belakangan, Pasar Beringharjo memang terus berbenah. Kini, ruang publik di pasar tradisional terbesar se-Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut semakin tertata baik. Anda bahkan dapat berlama-lama berbelanja, karena sebagian pasar telah dilengkapi dengan pengatur udara.

“Bagi kami, kenyamanan pengunjung itu nomor satu. Tim kami bekerja keras untuk terus berinovasi, agar penjual dan pembeli dapat bertransaksi dengan nyaman,” ujar kata Gunawan.

Aakses jalan menuju Pasar Beringharjo, sambungnya, kini tidak lagi semerawut, meski belum sempurna. Setidaknya, sebagian ruas jalan yang biasanya digunakan sebagai parkir luar, kini tidak lagi ada. Tempat penurunan barang pun mulai diatur sedemikian rupa agar tak memacetkan jalan.

Bukan hanya jalan, pengunjung Beringharjo dapat menikmati suasana dan berfoto ria. Taman, kursi, dan tulisan besar ‘Beringharjo’ tak jauh dari pasar menjadi background menarik untuk mendokumentasikan kunjungan atau berlatih fotografi.

“Ada lagi yang menarik. Bila biasanya pengunjung hanya beredar di lantai satu, karena udara yang terasa panas, silakan mencoba berbelanja ke lantai di atasnya. Kami telah memasang AC. Jarang-jarang kan, pasar tradisional dilengkapi AC?” papar Gunawan sembari tersenyum.

Semua itu, menurut Gunawan, didedikasikan kepada pengunjung pasar. Suhu udara dapat mendukung transaksi lebih menyenangkan, dan tentu, menguntungkan.

Ia menambahkan, pihaknya tengah mengupayakan one stop shopping, untuk memuaskan pengunjung.

“Banyak pengunjung Jogja yang tidak sempat berkeliling. Bila mereka datang dan puas hanya dengan berbelanja di Pasar Beringharjo, Jogja tetap mengesankan buat mereka, meski mereka tidak berkesempatan mendatangi tempat-tempat menarik lain di Kota Jogja dan sekitarnya,” tuturnya.

Bertahap, tambahnya, Pasar Beringharjo akan terus ia upayakan agar semakin merepresentasi Jogja. Bukan hanya produk massal, tapi juga produk khusus dengan peminat dan harga khusus.