Pelantikan Bupati, Gubernur DIY Imbau Bantul dan Gunungkidul Budayakan Dagang Layar

Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Bupati dan Wakil Bupati di DIY. (Foto: Humas DIY)
Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Bupati dan Wakil Bupati di DIY. (Foto: Humas DIY)

Kepatihan, JOGJADAILY ** Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengharapkan Bupati Gunungkidul dan Bupati Bantul terpilih dapat memaksimalkan potensi kelautan yang dimiliki.

“Gunungkidul dan Bantul berbatasan dengan Laut Selatan. Diharapkan agar bisa memanfaatkan potensi pesisir dan kelautan yang dimilikinya untuk meningkatkan budaya cinta laut bagi para penduduknya,” ujar Sultan saat Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Bupati dan Wakil Bupati, Rabu (17/2/2016), di Bangsal Kepatihan.

Dengan begitu, sambung Gubernur, budaya Dagang Layar dapat merasuk, menjadi budaya kerja dinamis bagi aparat maupun masyarakat.

Sultan melantik Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul, Badingah dan Immawan Wahyudi; Bupati dan Wakil Bupati Sleman, Sri Purnomo dan Sri Muslimatun; serta Bupati dan Wakil Bupati Bantul, Suharsono dan Abdul Halim Muslih.

Pelantikan dan pengambilan sumpah berdasar pasal 164 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pilkada bahwa Bupati dan Walikota dilantik oleh Gubernur di Ibu Kota Provinsi.

Pejabat yang digantikan setelah memangku jabatan bupati selama enam bulan sebelumnya adalah Sigit Sapto Raharjo di Kabupaten Bantul, Budi Antono di Kabupaten Gunungkidul, dan Gatot Saptadi di Kabupaten Sleman.

Gubernur mengimbau pejabat baru periode 2016-2021 untuk menjaga kelancaran dan kesinambungan program-program pembangunan, dengan meningkatkan pelayanan publik dan pembenahan good governance berkoordinasi dan bersinergi bersama Pemerintah DIY.

“Bupati/Wakil Bupati agar cerdik mengatur skala prioritas, sehingga program-program yang dijanjikan pada arena kampanye lalu dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tandas Sultan, dirilis Humas DIY.

Dagang Layar

Paradigma ‘Among Tani Dagang Layar’ merupakan kesatuan kalimat yang memiliki arti kegiatan usaha pertanian dan kelautan secara simultan dan terintegrasi membentuk sinergi dalam pengembangan potensi pantai selatan DIY.

“Among Tani ke Dagang Layar bukan terjadinya perubahan fisik dari petani yang biasa mencangkul pindah ke perahu. Tapi pergeseran pola pikir bahwa potensi kelautan di bagian selatan DIY sudah waktunya menjadi bonus dalam menyejahterakan rakyat Yogyakarta. Jadi, stakeholder tidak hanya berpikir ke daratan,” ujar Gubernur, Rabu (11/3/2015), saat kunjungan kerja ke Kulon Progo dalam rangka peningkatan kapasitas aparatur Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.

Perubahan paradigma tersebut, sambungnya, didasarkan pada kecenderungan mengkhawatirkan terhadap usaha pertanian tradisional, antara lain terjadinya alih fungsi lahan setiap tahun, yakni kurang lebih 200 hektar lahan subur beralih fungsi.

“(Selain itu), tenaga kerja di bidang pertanian memiliki pemasukan yang paling rendah dibandingkan sektor lain. Penyerapan tenaga kerja di bidang pertanian terus menurun tiap tahun, serta generasi muda perdesaan enggan terjun ke bidang pertanian,” terang Gubernur.

Gubernur juga menyampaikan sembilan renaisans yang dimanifestasikan dalam slogan gerakan ‘Jogja Gumregah’, yaitu bidang pendidikan, pariwisata, teknologi, ekonomi, energi, pangan, kesehatan, keterlindungan warga, serta tata ruang dan lingkungan.