Permukiman Padat dan Lahan Terbuka Kering Sebabkan Suhu Kota Yogyakarta Tinggi

Kepadatan Kota Yogyakarta. (Foto: Tofer Photography)
Kepadatan Kota Yogyakarta. (Foto: Tofer Photography)

Depok, JOGJADAILY ** Permukiman padat dan lahan terbuka kering menjadi penyebab tingginya suhu di Kota Yogyakarta. Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Geografi UGM, Retnadi Heru Jatmiko, dalam ujian terbuka promosi doktor di Auditorium Merapi, Fakultas Geografi UGM, Selasa (16/2/2016).

“Distribusi suhu tinggi ada di pusat Kota Yogyakarta pada tutupan lahan bangunan permukiman padat yang ada di daerah pinggiran. Di sana juga terdapat lahan terbuka kering yang menghasilkan suhu tinggi,” ujarnya, dirilis Humas UGM.

Ia menjelaskan, perkembangan perkotaan dari masa ke masa berpengaruh pada perubahan iklim. Suhu merupakan parameter kedua yang terdampak oleh perubahan iklim perkotaan setelah bencana alam. Diperkirakan, dari 67 persen kota di dunia, 40 persennya mengalami perubahan iklim perkotaan.

“Salah satu kawasan yang berpotensi mengalami perubahan suhu permukaan adalah wilayah Kota Yogyakarta, karena tingkat kepadatan penduduknya. Selain itu, Kota Yogyakarta merupakan wilayah yang padat bangunan dengan sedikit tutupan vegetasi, sehingga memberikan suhu yang tinggi,” terang Heru.

Menurutnya, berdasarkan hasil penggunaan citra saluran infra merah termal terhadap perubahan iklim perkotaan Yogyakarta, diketahui suhu tinggi  berada di pusat perkotaan.

Setelah itu, suhu yang lebih rendah menuju ke arah pinggiran, dan mulai mendingin ke arah luar fisik kota. Suhu kemudian menjadi lebih dingin apabila semakin menjauh dari wilayah perkotaan.

Pada penelitian indikator perubahan iklim perkotaan di Yogyakarta, Heru menggunakan citra saluran inframerah termal.

Penelitian dilakukan Heru sepanjang 2013 hingga 2014. Ia mengungkapkan, tutupan lahan terbangun, aspal, atap bangunan, dan tutupan lahan di pusat Kota Yogyakarta memiliki temperatur lebih tinggi jika dibandingkan dengan tutupan lahan berupa tutupan vegetasi dan tutupan non-bangunan yang berada di luar perkotaan.

“Perubahan tutupan lahan di daerah perkotaan ternyata memengaruhi suhu permukaan obyek di perkotaan, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap suhu udara secara mikro di perkotaan,” tuturnya.

Suhu, sambungnya, merupakan parameter iklim yang langsung dapat dirasakan. Perubahan temperatur suatu daerah sangat berkaitan dengan perubahan tutupan lahan. Penggunaan citra saluran termal pada landsat 8 mampu menjadi indikator dari dinamika suhu permukaan lahan yang ada di area perkotaan.

Tata Ruang Keistimewaan

Pada kesempatan sebelumnya, Dosen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gadjah Mada, Suryanto, dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Teknik, Jumat (28/8/2015), berpandangan, dalam dasa warsa terakhir, Kota Yogyakarta menghadapi permasalahan dilematis dengan maraknya pembangunan hotel berbintang dan pusat perbelanjaan di penjuru kota.

Pada satu sisi, menurutnya, fenomena tersebut mendorong pertumbuhan investasi daerah. Namun, di sisi lain, dinilai telah menggerus indeks kenyamanan hidup Kota Yogyakarta.

“Konflik tersebut bahkan berujung pada kekhawatiran hilangnya keistimewaan Yogyakarta. Pasalnya, pembangunan kota tidak lagi berlandaskan pada acuan sejarah dan budaya, namun dari sisi ekonomi semata,” kata Suryanto.

Konsep pembangunan Kota Yogyakarta saat ini, tambahnya, justru dikembangkan melalui pengetahuan modern berbasis Negara Barat. Ia berpendapat, apabila sejarah dan budaya menjadi haluan pembangunan maka keistimewaan Yogyakarta akan tetap lestari.

Ia melihat, ketentuan mengenai penataan ruang dalam Undang-Undang No. 13/2012 tidak cukup sebagai acuan dalam pengaturan keistimewaan tata ruang kota Yogyakarta.

“Jika ekonomi menjadi haluan, selamat tinggal keistimewaan. Semua itu kembali ke rakyat Mataram sendiri; mau atau tidak,” pungkasnya.