RM Donny Surya Megananda: Seni Tradisi Tetap Dinamis Tanpa Lupakan Akar Tradisi Leluhur

KGPAA Paku Alam X bersama keluarga. (Foto: Panitia Gelar Pentas Mangayubagya Jumeneng Dalem KGPAA PA X)
KGPAA Paku Alam X bersama keluarga. (Foto: Panitia Gelar Pentas Mangayubagya Jumeneng Dalem KGPAA PA X)

Pakualaman, JOGJADAILY ** Budayawan Yogyakarta, RM Donny Surya Megananda, berpandangan, seni tradisi akan terus dinamis. Meski demikian, seni tradisi tidak pula melupakan akar tradisi leluhur. Penilaian ini membersamai Gelar Pentas Mangayubagya Jumeneng Dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X, Sabtu (6/2/2016).

“Seni tradisi jelas perlu aktualisasi-dinamisasi, dengan tidak melupakan kultur asalnya,” ujar Donny, Minggu (7/2/2016), di Pakualaman.

Ia memisalkan, wayangan yang dipentaskan dalang sepuh, Ki Simun Cermojoyo, seorang abdi dalem kraton asal Gunungkidul, sebagai persembahan gaya Jogja klasik asli.

“Meski demikian, tata panggung sudah rigging dipadu kemasan yang enak dipandang. Ini saja sudah mengajak untuk kekinian, yang tidak meninggalkan akar tradisi leluhur,” tutur Ketua Panitia Bidang Kesenian Rakyat tersebut.

Menurutnya, kesenian tradisional jelas pasti yang dipilih untuk memeriahkan Gelar Pentas Mangayubagya, karena merupakan peristiwa sejarah unggulan, dan pantas apabila kearifan lokal yang diangkat.

“Reyognya reyog wayang yang merupakan pusaka sejarah. Reyog prajuritan lakon Babad Mataraman yang pastinya menarik. Jathilan sudah jelas seni populer yang masih setia tradisi,” terang Donny.

Seni tradisi sebagai warisan Nusantara, sambungnya, memiliki muatan pendidikan, budi pekerti, sekaligus nilai-nilai utama untuk dapat diajarkan kepada generasi penerus.

“Jelas pengemban kebudayaan berarti melanjutkan yang terbaik milik bangsa,” tegas Museum Director Museum Wayang Kekayon Yogyakarta ini.

Meriah

Gelar Pentas Mangayubagya Jumeneng Dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X berlangsung meriah di Kagungan Dalem Alun-alun Sewandanan Pakualaman, mulai pukul 12.30.

Pada sesi pertama, ditampilkan pertunjukan tradisi Sendratari Kolosal Reyog Wayang dari Karang Taruna ‘Tunas Karang Kemuning’ Brosot, Galur, Kabupaten Kulonprogo. Sendratari ini merupakan penampil unggulan dalam Karnaval Kemerdekaan Kulonprogo tahun 2015.

RM Donny Surya Megananda. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
RM Donny Surya Megananda. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Selanjutnya, Reyog Prajuritan ‘Tresno Budoyo’ dari Tanjungsari Kabupaten Gunungkidul tampil pada sesi kedua. Mereka juara pertama Festival Reyog Gunungkidul tahun 2015.

Sesi ketiga, Jathilan Putra-putri ‘Arum Sari’ dari Pedes, Argomulyo, Sedayu, Kabupaten Bantul. Arum Sari merupakan kelompok Jathilan yang pernah menjuarai Festival Jathilan tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2011.

Pada malam harinya, mulai pukul 19.00, masuk sesi keempat, digelar kesenian macapat dari Pawiyatan Macapat Sestramardawa Kadipaten Pakualaman serta kesenian spontanitas warga.

Sebagai puncak acara, yakni sesi kelima, dilaksanakan Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk bersama Dalang Ki Simun Cermojoyo dengan lakon ‘Semar Bangun Khayangan’.

Keseluruhan rangkaian acara berlangsung terbuka untuk masyarakat dan gratis, sebagai ungkapan rasa syukur seluruh rakyat Yogyakarta atas terlaksananya dengan lancar tata rakit prosesi Jumeneng Dalem PA X serta pengejawantahan tagline Pakualaman sebagai Pengemban Kebudayaan.