Setengah Abad Masjid Jogokariyan, Potret Sinergisitas Dakwah dan Kemasyarakatan

Peringatan 50 Tahun Masjid Jogokariyan. (Foto: Coki Anwar)
Peringatan 50 Tahun Masjid Jogokariyan. (Foto: Coki Anwar)

Mantrijeron, JOGJADAILY ** Minggu (31/1/2016), Masjid Jogokariyan Kelurahan Mantijeron Kecamatan Mantrijeron Kota Yogyakarta menggelar Peringatan 50 Tahun dengan tema ‘Berdakwah Membangun Kampung Indonesia’. Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, menilai Masjid Jogokariyan sebagai contoh dari sinergisitas yang baik antara dakwah dan kegiatan kemasyarakatan.

“Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, namun juga pusat kegiatan sosial dan budaya di Kampung Jogokariyan. Semoga sinergisitas ini terus terbangun dan menjadi sumber inspirasi bagi takmir masjid lain di Yogyakarta,” ujar Walikota.

Ia berharap, peringatan 50 tahun Masjid Jogokariyan dijadikan sebagai evaluasi dari apa yang sudah, sedang, dan akan dilaksanakan.

Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, Ustad Jazir ASP, menambahkan, Masjid Jogokariyan mampu mentransformasikan diri sebagai sebuah institusi pemersatu kaum Muslimin dari berbagai pemahaman.

“Masjid Jogokariyan mampu membuktikan diri sebagai institusi yang tak mendikotomi identitas seseorang sebagai Muslim, warga negara Indonesia yang patriotik, sekaligus menjunjung akar budayanya sebagai orang Jawa,” tutur Ustad yang juga budayawan tersebut.

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mengapresiasi Masjid Jogokariyan sebagai benteng terhadap radikalisme agama yang marak belakangan ini.

“Masjid seharusnya menjadi pusat bersemainya semangat beragama yang rahmatan lil alamin, bukan justru menumbuhkan bibit-bibit radikalisme,” tutur Lukman dalam sambutan tertulis yang dibacakan Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Prof Mahasin.

Menteri Agama berpandangan, diperlukan beberapa langkah dalam membentengi masjid dari radikalisme. Misalnya, memakmurkan masjid dengan aktivitas produktif, menumbuhkan kreativitas pengurus masjid untuk melakukan kegiatan yang melibatkan publik, serta melaksanakan standar pembinaan sesuai dengan Islam yang rahmatan lil alamin.

Islamic Center dan Rumah Tahfizh

Pada kesempatan tersebut, Masjid Jogokariyan meresmikan Islamic Center untuk memperkaya kegiatan dakwah serta pendidikan. Selain itu, diresmikan pula Rumah Tahfizh Masjid Jogokariyan.

Selanjutnya, dilakukan penandantangan MoU antara Masjid Jogokariyan dan Yayasan Dana Sosial Al-Falah dalam program pembangunan air bersih di Kabupaten Kulonprogo dan berbagai daerah lainnya.

Pada 7 Februari mendatang, akan diselenggarakan Talksohw Kewirausahaan, menghadirkan Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia, Valentino Dinsi, sebagai pembicara, serta Tabligh Akbar bersama Ustad KH Muhammad Arifin Ilham pada 14 Februari 2016.

Masjid Jogokariyan mulai dibangun pada September 1966 di sebuah kampung yang saat itu terkenal sebagai basis Komunis. Dalam perjalanannya, Masjid Jogokariyan mampu mentranformasikan stigma Kampung Kiri menjadi Kampung Islami, melalui pendekatan sosio-kultural.

Tidak hanya berdiri sebagai bangunan untuk ritual kegamaan, masjid yang terletak di Jalan Jogokariyan 36 ini juga menjadi pusat kegiatan kemasayarakatan dan paguyuban hobi, seperti Bregada Prajurit Jogokaryo, Komunitas Djamboel (D’jamah Masjid Bersepeda Onthel), Paguyuban Jemparingan Parto Jogokaryo, Paduan Suara Senandung Masjid, Drum Band, dan Hafiah Tahfizh HAMAS (Himpunan Anak-anak Masjid Jogokariyan).

“Awalnya, Jogokariyan merupakan sebuah kampung Komunis di mana LEKRA berani mementaskan ketoprak ‘Patine Gusti Allah’ di dalamnya. Namun, berkat kegigihan para perintis dakwah, kampung Jogokariyan telah bertransformasi menjadi kampung Islami atau Darussalam,” papar Ketua Panitia, Ustad Salim A. Fillah.