Bangun Perekonomian Desa, Lima Mahasiswa UGM Kembangkan Hidroponik dan Aquaponik

Tim Aloevera UGM tengah melakukan survei pengembangan metode pertanian hidroponik di sebuah perusahan pertanian hidroponik Sleman. (Foto: Humas UGM)
Tim Aloevera UGM tengah melakukan survei pengembangan metode pertanian hidroponik di sebuah perusahan pertanian hidroponik Sleman. (Foto: Humas UGM)

Sanden, JOGJADAILY ** Kesejahteraan desa menjadi prioritas penting pembangunan nasional. Potensi desa dapat dikembangkan lebih maksimal dan mendatangkan profit dengan inovasi. Salah satunya, sistem pertanian hidroponik dan aquaponik.

Berjalan-jalanlah ke Desa Pucanganom 1, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Di sana, lima mahasiswa UGM dan kalangan muda Desa tengah bahu-membahu menanam sayur mayur dengan hidroponik dan aquaponik.

Lima mahasiswa tersebut adalah Bima Sakti VP, Hengky Anang Wijaya, Rahma Firdiana Nurnahar, Rima Darmawanti, serta Rian Nur Hidayat. Mereka tergabung dalam tim mahasiswa pengembang program pertanian hidroponik.

Program alokasi pengembangan aquaponik vertikultur sayur-ikan desa atau yang disebut Aloevera ini dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) UGM.

Alovera ini muncul sebagai solusi atas persoalan pemuda di Desa Pucanganom, kampung dari Hengky Anang W. Aloevera lahir dari keresahan pemuda di kampung itu. Mereka berkeinginan menjalankan usaha agar bisa lebih produktif dan mandiri dalam perekonomian. Persoalan keterbatasan modal masih menjadi kendala utama yang menghambat produktivitas mereka.

“Sebenarnya mereka punya semangat dan etos kerja yang tinggi, tapi terhambat persoalan finansial,” ujar Hengky, Rabu (20/4/2016), di Kampus UGM, dirilis Humas UGM.

Dari persoalan itulah mereka menawarkan pengembangan usaha pertanian hidroponik dan aquaponik bagi warga setempat.  Program ini ternyata disambut antusias oleh pemuda dan warga sekitar.

Bima Sakti menuturkan, pertanian hidroponik dan aquaponik sengaja dikembangkan karena perawatan pola tanam yang lebih mudah dibandingkan dengan pola tanam konvensional. Selain itu, tidak membutuhkan lahan yang luas, sehingga bisa dilakukan di pekarangan rumah dengan lahan terbatas dan juga hemat air.

Mereka memanfaatkan lahan warga setempat seluas 10×10 meter untuk pembuatan satu buah rumah kaca (green house) untuk pengembangan pola tanam hidroponik dan aquaponik. Nantinya, tanaman yang akan dibudidayakan antara lain sawi kriting, selada, seledri, kangkung, cabai, terong, daun bawang, dan tomat.

“Rencananya juga akan membudidayakan ikan lele dalam kolam seluas 4×4 meter. Nantinya, kotorannya digunakan sebagi pupuk dalam pertanian aquaponik,” kata mahasiswa D3 Elektronika dan Instrumentasi SV UGM ini.

Program telah dimulai sejak awal Maret 2016. Saat ini, Bima dan kawan-kawan bersama dengan pemuda setempat tengah dalam proses membangun rumah kaca untuk pelaksanaan program aloevera. Selain membangun fasilitas fisik, mereka juga memberikan sejumlah pelatihan terkait pengembangan pertanian hidroponik dan aquaponik mulai dari pembibitan, perawatan, panen, dan pengelolaan pasca-panen.

“Kami menggandeng sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian hidroponik untuk berbagi pengalaman dan memberikan pelatihan pada pemuda Pucanganom 1,” ungkapnya.

Dengan pemberdayaan pemuda untuk menjalankan pertanian seperti itu, ia berharap, mampu meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan desa.

Sentuhan Teknologi

Hengky menuturkan, dalam menjalankan program, tim memberikan tambahan sentuhan teknologi. Mereka mengembangkan sebuah sistem otomatis untuk mengontrol kadar pH air dalam pertanian hidroponik agar tetap netral.

Dengan begitu, diharapkan dapat menjaga laju pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Sistem pengontrol kadar pH air ini dibuat terintegrasi dengan smartphone berbasis android dan website http://aloeveraproject.tk/

“Jika kadar air mengalami kenaikan atau penurunan akan muncul notifikasi dan secara otomatis sistem akan menyeimbangkan kembali kadar pH air,” jelasnya.

Hengky menyebutkan pengembangan website ditujukan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat. Di dalamnya memuat berbagai materi maupun artikel pertanian hidroponik. Selain itu, terdapat pula tutorial dalam menjalankan sistem pertanian ini.

Dengan fasilitasi program yang berhasil mendapatkan dana hibah dari DIKTI ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian warga. Tidak hanya itu, bisa menjadikan Desa Pucanganom 1 sebagai menjadi sentral pendidikan hidroponik di masa mendatang.