Putri Penjual Gorengan Itu Kini Mahasiswi Fakultas Kedokteran UGM

Dyah Utami Nugraheni (19) bersama sang ibu, Ngatinem (58). (Foto: Humas UGM)
Dyah Utami Nugraheni (19) bersama sang ibu, Ngatinem (58). (Foto: Humas UGM)

Gamping, JOGJADAILY ** Bersyukur dan ikhlaslah akan takdir Tuhan. Dengan begitu, manusia bisa giat bekerja keras dan tidak berkeluh kesah bila gagal atau kurang. Barangkali pesan itulah yang dapat ditangkap dari kisah sukses putri penjual gorengan yang kini, berkesempatan mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM).

Namanya Dyah Utami Nugraheni (19). Ia bercita-cita menjadi dokter sejak kecil. Dyah bertutur, ketertarikannya menjadi dokter berawal dari kenyataaan di kampungnya yang masih minim dokter. Kelak, ketika telah menjadi dokter, ia ingin kembali mengabdi di daerahnya dan melayani masyarakat setempat.

Terlahir dari keluarga sederhana menjadikan Dyah terbiasa hidup prihatin. Meski begitu, tidak menyurutkan semangatnya dalam belajar. Hal itu justru dijadikannya sebagai cambuk untuk lebih berprestasi di sekolah.

Hasilnya pun tidak sia-sia. Sejak bangku SD, ia selalu menyandang juara kelas. Naik ke jenjang SMP dan SMA, Dyah selalu meraih 3 besar di kelasnya.

Sang ibu, Ngatinem (58), menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga sejak sang ayah meninggal dunia pada 2007 silam. Sehari-hari, Ngatinem bekerja serabutan sembari berjualan gorengan yang biasa ia titipkan ke tetangga untuk dijual di sebuah kantin sekolah. Penghasilan yang didapat setiap bulannya dari hasil tersebut tidak pernah lebih dari Rp500 ribu.

Keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang dalam mengejar pendidikan. Begitu juga dengan kemauan dan usaha keras dalam belajar yang mengantarkan Dyah diterima kuliah di Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UGM. Selama menjalani kuliah nanti, dia dibebaskan dari biaya kuliah hingga usai, dengan berbekal beasiswa Bidikmisi.

“Semoga apa yang diimpikan bisa tercapai. Menjadi orang sukses dan bisa membantu masyarakat,” harap Ngatinem, di rumahnya, Nyamplung Kidul, Balecatur, Gamping, Sleman, dirilis Humas UGM, Senin (20/6/2016).

Ngatinem mengaku bangga, putrinya bisa kuliah di jurusan yang dicita-citakan, apalagi tanpa dipungut biaya. Tidak banyak yang bisa dilakukannya, kecuali memberikan semangat dan dukungan serta doa untuk keberhasilan sang buah hati.

Memeluk Ibu

Ketika mendengar kabar diterima kuliah di jurusan yang diimpikannya, Dyah tak mampu menahan rasa gembira dan haru. Impiannya menjadi seorang dokter menjadi semakin dekat.

“Waktu dikabari kakak kalau diterima di FK UGM, saya langsung berpelukan dengan ibu. Senang dan haru, campur aduk jadi satu. Enggak menyangka, bisa diterima di jurusan favorit kebanyakan pelajar, dengan persaingannya cukup ketat,” ucapnya.

Alumnus SMA 1 Yogyakarta ini berharap, kelak bisa menolong dan membantu saudara dan tetangga sekitar.

Ditanya soal kiat khusus keberhasilannya, Dyah menjawab, “Tidak ada kiat khusus, hanya belajar secara teratur disertai dengan doa.”