Rencana Pembangunan Mega-Infrastruktur, Investasi Kulon Progo Capai Rp1,04 Triliun

Fase final Master Plan New Yogyakarta International Airport (NYIA) Restricted Access Area dilihat dari utara. (Foto: Bappeda Kulon Progo)
Fase final Master Plan New Yogyakarta International Airport (NYIA) Restricted Access Area dilihat dari utara. (Foto: Bappeda Kulon Progo)

Wates, JOGJADAILY ** Faktor rencana pembangunan mega-infrastruktur, salah satunya Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA), mendorong peningkatan investasi di Kulon Progo. Pada 2012, investasi di Kulon Progo hanya sebesar Rp144 miliar, sementara pada 2015, naik menjadi Rp1,04 Triliun.

“Investasi di Kulon Progo tidak akan terganggu, karena letak geografis di daerah ini sangat mendukung. Sebagai contoh, jika terjadi gunung meletus di sebelah timur Sungai Progo, tidak khawatir, karena imbasnya tidak sampai di Kulon Progo,” ujar Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, dalam Seminar ‘Membedah Potensi Investasi dan Pariwisata DIY’ di Aula Adikarta Gedung Kaca, Rabu (1/6/2016).

Ia mengungkapkan, pengembangan potensi Kulon Progo yang potensial adalah kawasan industri Sentolo, karena daerah ini sangat strategis, sebagai daerah penghubung antara Yogyakarta dengan Kulon Progo. Apabila hendak ke bandara pun tidak jauh.

Potensi sektor lain yang dikembangkan, sambungnya, adalah pengembangan produk lokal seperti gula semut, serta gula merah atau gula jawa. Produk ini tidak ada tandingannya, karena di beberapa negara, tidak melakukan proses produksi secara manual, seperti memanjat pohon kelapa (menek) atau nderes.

“Gula merah adalah peluru tajam yang bisa menjaga diri atau bersaing dengan negara lain di ASEAN,” tandas Hasto, dirilis Pemkab Kulon Progo.

Oleh karena itu, Bupati Hasto mengimbau unsur terkait agar mempermudah investasi di Kulon Progo.

“Jika mau investasi jangan nylekuthis (pamrih atau ingin mendapatkan sesuatu di luar semestinya). Kalau pengusaha mau investasi, ya langsung saja ke warga atau melalui forum CSR,” tuturnya.

Dokter Hasto menambahkan, Kulon Progo telah menggagas pembangunan Taman Raja Nusantara di Pendowoharjo, Kecamatan Girimulyo. Rencananya, akan dipresentasikan di depan Menteri Pariwisata.

Potensi Wisata Budaya

Sementara itu, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Tachir Fathoni, mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, memaparkan, pada konteks pangsa pasar kepariwisataan, ada tiga hal yang membuat wisatawan tertarik untuk datang ke Indonesia.

“Faktor alam 30 persen, faktor budaya 65 persen, dan faktor buatan hanya 5 persen. Kondisi ini sangat mendukung investasi di suatu wilayah atau daerah,” terangnya.

Menurut Tachir, Kulon Progo sangat sesuai dengan hal tersebut. Apalagi di Kulon Progo akan dikembangkan berbagai potensi wisata budaya dan wisata lain menyongsong era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Bukan tidak mungkin, lanjutnya, daerah ini akan maju dalam hal investasi.

Hadir pula sebagai pembicara, Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal Pusat, Tamba Parulian Hutapea.

Paparan materi juga disampaikan Dirut Angkasa Pura I, Sulistyo Wimbo S. Harjito; Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) UGM, A. Tony Prasetiantono; Otoritas Jasa Keuangan DIY, Fauzi Nugroho.

Seminar ini diharapkan memberi gambaran kepada investor tentang start small, mulai dari apa. Misalnya, basis data di mana kabupaten lain belum memperhatikan hal tersebut secara khusus. Basis data itu dapat dibangun dengan basis fiber optik. Apa yang dapat dikerjakan sekarang, dapat terakses.

Acara yang dilaksanakan Badan PMPT Kabupaten Kulon Progo tersebut juga menampilkan Musik Krumpyung Khas Kabupaten Kulon Progo.