Qodaran

SUMRINGAH - Simbok Pasar Jragan, Srandakan, Bantul. (Foto: IG @ketimbang.ngemis.yogyakarta)
SUMRINGAH – Simbok Pasar Jragan, Srandakan, Bantul. (Foto: IG @ketimbang.ngemis.yogyakarta)

“Wah, pisangnya bagus-bagus, Mbah,” kataku sembari berjongkok di depan perempuan sepuh yang berjualan di pinggir jalan, depan pasar.

“Lha monggo dipundut,” kata perempuan itu riang.

Sungguh sudah sangat sepuh. Rautnya penuh kerut. Kulitnya hitam. Kurus badannya. Tapi, suaranya cemengkling riang. Giginya terlihat masih utuh.

“Ini kepok kuning; bagus dikolak. Ini kepok putih; kalau digoreng sangat manis. Lha kalau itu, pisang pista; kulit tipis, harum manis. Tapi jangan dibeli, karena belum mateng.”

Aku hanya diam memperhatikan gerak tangannya yang cekatan, tapi telah ndredheg-dredheg gemetar.

“Sudah lama jualan, Mbah?”

“Belum. Ini ngejar rejeki buat Lebaran.”

“Putranya berapa, Mbah?”

Kathah, banyak. Pada glidik, kerja.”

“Kok enggak rehat aja to, Mbah? Siyam-siyam kok jualan.”

“Lha nggih ini karena siyam niku, to. Enggak boleh rehat. Mumpung Gusti Allah paring sehat.”

Aku tercenung dengan jawaban perempuan sepuh itu. Kulihat tangannya mengelap kening dan dahinya yang dlèwèran keringat dengan selendang lusuhnya.

Di antara para penjual ‘liar’ di pinggir jalan depan pasar itu, perempuan sepuh ini satu di antaranya yang menggelar dagangan tanpa iyuh iyuh peneduh. Padahal, hari itu panas luar biasa.

“Kalau pulang jam berapa, Mbah?”

“Jam tiga sudah pulang. Lha ada kewajiban nyiapkan wedang buat anak-anak TPA.”

“Kok kewajiban; yang mewajibkan siapa, Mbah?”

Nggih kula, nggih saya sendiri.”

“Ooo… begitu. Setiap hari selama puasa?’

Inggih. Wong cuma anak lima puluhan.”

“Wah Panjenengan hebat nggih, Mbah.”

“Halah cuma wedang sama penganan kecil-kecil, kok. Yang penting, bocah-bocah rajin ngaji. Mbah sudah seneng. Jangan bodoh kaya Mbahe yang cuma bisa Fatihah.”

Aku makin tercekat. Kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.

“Kok banyak banget, mau buat apa?’ tanyanya heran.

Aku hanya tersenyum.

“Semua berapa, Mbah?”

Perempuan sepuh itu menyebutkan nominal yang membuatku tercengang.

“Kok murah banget, Mbah.”

Mboten. Itu sudah pas. Ini bukan pisang kulakan. Panen sendiri.”

Nggih. Matur nuwun,” kataku sembari mengulurkan uang.

“Aduh, enggak ada kembalian. Belum kepayon.”

“Saya tukar dulu, Mbah.”

Aku sengaja meninggalkan perempuan sepuh itu. Pisang telah kuletakkan di motor. Mesin motor pun kunyalakan.

Agak menjauh dari perempuan sepuh itu, kumasukkan beberapa lembar uang puluhan ribu yang masih baru ke dalam amplop. Cukup dibagi satu-satu untuk anak TPA, yang katanya cah lima puluhan tadi. Penutup lem amplop kubuka, lalu kurapatkan.

Niki, Mbah. Sudah saya tukar. Sudah pas, nggih?”

Perempuan sepuh itu menerima amplop, masih dengan tangan dredheg gemetar. Tanpa menunggu jawaban, aku segera pergi.

Esoknya, aku mampir lagi, tapi kosong. Berikutnya, aku mampir lagi, kosong juga.

Penasaran, kutanyakan pada ibu pedagang sebelahnya.

Mbahe kok nggak jualan, Mbak?”

“Oh enggak. Beliau jualan kalau panen pisangnya aja. Sampeyan to yang kemarin ngasih amplop. Walah Mbahe nangis ngguguk. Jare bejo, dapet qodaran.”

Qodaran, barangkali yang dimaksudkan adalah Lailatul Qodar. Malam yang konon, lebih baik dari 1000 bulan. Para malaikat turun dari langit. Langit hati kita.

Allah melapangkan rezeki dan kemuliaannya bagi yang dikehendaki. Pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula. Rezeki sesuai kapasitas kita. Lantas siapakah yang mendapatkannya?

Barangkali, perempuan sepuh inilah yang mendapatkannya. Bukan karena ia ahli ibadah. Bukan pula karena iktikafnya yang kuat di masjid. Tapi dialah pelaksana dari yang katanya ‘hanya’ bisa Fatihah itu.

Kesungguhan iktikaf yang luar biasa. Bertindak, berlaku, dan berpasrah ikhlas (sebenar-benar pasrah) dalam keriangan rasa. Iktikaf di masjid yang digelar dalam keluasan Yang Maha. Bukan masjid yang sekadar bangunan ibadah.

Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan wedang dan penganan bagi lima puluhan bocah selama puasa, sungguh bukan perkara mudah. Hanya cinta tuluslah yang bisa.

Aku jadi teringat pertanyaan teman tentang pencapaian Lailatul Qodar. Benarkah memang ia turun di 10 hari terakhir malam ganjil?

Maka malam terbaik dari 1000 bulan bukanlah instan. Tak bisa di-jujug dengan akhiran. Semua butuh proses. Karena karunia terindah butuh wadah penuh ikhlas, yang dibangun dengan menapis kebaikan, sebelum, selama, dan sesudah Ramadhan.

Itulah sesungguhnya Qodaran. Bonus tak berbatas.

*Tulisan ini ditulis anonim, melalui media sosial, akhir Ramadhan 1437 H.