Resmikan Gedung SDIT Hidayatullah, Gubernur DIY Tekankan Tiga Komponen Mutu Pendidikan

Peresmian Gedung SDIT Hidayatullah Yogyakarta. (Foto: Simpul Oktavianto)
Peresmian Gedung SDIT Hidayatullah Yogyakarta. (Foto: Simpul Oktavianto)

Ngaglik, JOGJADAILY ** Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X menekankan tiga komponen penentu mutu pendidikan di sekolah, yakni guru, siswa, dan masyarakat. Peranan tiga komponen itu strategis menggerakkan komponen lainnya.

“Komponen lain yang mendukung mutu pendidikan adalah sarana prasarana pengajaran dan manajemen pengajaran,” jelas Sultan dalam sambutan tertulis yang dibacakan Biro Kesra Pemerintah Provinsi DIY, Puji Astuti, saat acara peresmian gedung baru SDIT Hidayatullah Sleman, baru-baru ini.

Menurut Sultan, dengan gedung baru yang representatif tersebut, SDIT Hidayatullah semakin maju, utamanya dalam pembentukan pribadi manusia menurut ukuran normatif.

Dengan bisa menerapkan sistem pendidikan yang baik, lanjut raja Yogyakarta ini, akan mencetak dan memunculkan generasi penerus bangsa berkualitas, yang mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Gubernur DIY mengapresiasi upaya pengelola SDIT Hidayatullah Sleman yang telah berusaha menghadirkan gedung baru yang representatif untuk proses pembelajaran siswa di kawasan Sleman Utara.

“Atas nama Pemda DIY, saya mengucapkan selamat, terima kasih, dan penghargaan kepada seluruh pengurus atas upaya dan dukungannya, sehingga pembangunan gedung baru ini bisa selesai,” jelasnya.

Ketua panitia acara, Syamsul Ma’arif, menyebutkan, acara ini dihadiri oleh 1.500 orang undangan dari berbagai kalangan, baik orangtua siswa, maupun pejabat pemerintah dari berbagai tingkatan di Kabupaten Sleman.

“Peresmian ini sekaligus menampilkan kreativitas siswa dalam membaca Al-Quran dengan menggunakan Metode Ummi. Sekolah ini telah dijadikan sekolah model yang ditunjuk oleh Ummi Foundation Pusat,” terang Syamsul.

Acara peresmian dihadiri Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Nashirul Haq. Ada pula kegiatan Tablig Akbar oleh Pimpinan Pesantren Masyarakat Jogja, Ustadz Puji Hartono.

Kualitas Guru

Pada kesempatan berbeda, akademisi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Nuryadi, berpandangan, paradigma masyarakat terhadap mutu pendidikan sekolah hanya melihat tingkat kelulusan sekolah, tanpa memandang kompetensi lulusan dan pendidikan karakter.

“Pendidik (masih) dipandang (sebagai) suara jelas (bagi) partai politik dan mudah dikendalikan, yaitu dengan kenaikan gaji. Pendidik juga diribetkan dengan perubahan kurikulum dan administrasi, dan sebagai survive guru agar tunjangan keluar (sertifikasi),” ungkapnya.

Akademisi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Nuryadi. (Foto: Arif Giyanto)
Akademisi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Nuryadi. (Foto: Arif Giyanto)

Dari dua hal tersebut, sambungnya, peran guru sebagai pendidik siswa dapat dikatakan mengalami reduksi, sehingga apabila kenakalan siswa terjadi di sekolah, pihak sekolah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, karena menyangkut eksistensi sekolah.

“Sehingga perlu dikaji sistem evaluasi yang menyangkut kelulusan,” kata Nuryadi.

Menyoal kualitas guru, sambungnya, perlu ditingkatkan dengan standar peningkatan mutu guru. Hal tersebut belum ada, hanya sebatas kenaikan golongan.

“Padahal, hanya administratif saja agar naik gajinya. Dan perlu dilihat, banyak guru melanjutkan studi S2 dan setelah lulus, apakah ada bedanya? Apa sumbangsih mereka? Silakan melakukan riset tentang pengaruh guru-guru yang S2 terhadap mutu pendidikan di sekolah; tentu hal yang menarik,” ucapnya.

Ia menambahkan, bukan rahasia lagi banyak kalangan melanjutkan studi sebatas mengejar kenaikan golongan agar dana pensiun tinggi.

“Bukan naik karena benar-benar prestasi seorang guru, dilihat dari kompetensi dan profesionalitas guru,” tandasnya.