UGM Science Techno Park, Cara Baru Tekan Produk Impor

Rektor UGM Dwikorita Karnawati optimis sciance techno park dapat menekan laju impor produk alat kesehatan. (Foto: Humas UGM)
Rektor UGM Dwikorita Karnawati optimis sciance techno park dapat menekan laju impor produk alat kesehatan. (Foto: Humas UGM)

Depok, JOGJADAILY ** Tingkat ketergantungan Indonesia terhadap produk impor masih terbilang sangat tinggi. Guna menekan laju tersebut, Universitas Gadjah Mada tengah menggagas upaya baru untuk mengatasinya, yakni dengan membangun Science Tehcno Park.

Science Tehcno Park adalah wahana yang nantinya dipergunakan untuk hilirisasi hasil riset inovatif yang telah dilakukan peneliti kepada masyarakat secara langsung. Sehingga selain bertujuan akademis, dampaknya pun dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Rencananya Science Tehcno Park ini baru akan direalisasikan pada tahun 2018 mendatang, namun UGM sudah merintisnya sejak sekarang.

“Saat ini UGM telah menyiapkan produk-produk hasil riset yang diproduksi di mini factory, kata Rektor UGM Dwikorita Karnawati, Selasa (20/9).

Pengembangan dan produksi melalui Science Tehcno Park ini, lanjut Dwikorita salah satunya adalah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap berbagai produk impor.

“Hingga saat ini setidaknya 90 persen peralatan kesehatan yang digunakan di Indonesia masih dipenuhi dengan produk impor, ” paparnya.

Selain memproduksi alat-alat kesehatan UGM juga berencana mengembangan produk-produk dalam bidang agroinsdustri baik pangan maupun non pangan.

Beberapa diantaranya adalah pengolahan kakao, susu kambing PE, serta pengolahan primer dan sekunder kayu. Selain itu, dikembangkan pula produk-produk dalam bidang energi baru dan terbarukan, dan manufaktur, rekayasa, teknologi infromasi dan komunikasi.

Bekerjasama dengan Pemkab Kulonprogo

Selain menggandeng pihak industri, UGM juga akan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo untuk mengembangkan Science Tehcno Park ini.

Kulon Progo dinilai memiliki potensi sumber daya hayati yang cukup tinggi, namun pengelolaanya belum optimal sehingga hasilnya pun belum bisa dirasakan oleh masyarakat setempat.

Dwikorita berharap Science Tehcno Park ini mampu mendorong perekonomian masyarkat lokal Kulon Progo.

Sementara itu Direktur Direktorat Perencanaan dan Pengembangan UGM, Muhammad Sulaiman menjelaskan bahwa nantinya produk yang dihasilkan teaching factory ini akan ditangkap langsung oleh industri untuk selanjutnya didistribusikan kepada  masyarakat.

“Dari teaching industry ini juga dikembangkan berbagai produk-produk inovatif dalam berbagai bidang. Produk-produk yang dikembangkan merupakan produk yang dibutuhkan secara langsung oleh masyarakat,” pungkasnya.