Gelar Tabligh Akbar, Masjid Sulthoni Wotgaleh Ajak Jama’ah Telusuri Jejak Nabi Sulaiman di Tanah Jawa

Suasana Tabligh Akbar di Masjid Sulthoni Wotgaleh, Sabtu malam (5/11/2016). (Foto: Astama Izqi Winata)
Suasana Tabligh Akbar di Masjid Sulthoni Wotgaleh, Sabtu malam (5/11/2016). (Foto: Astama Izqi Winata)

Berbah, Sleman, JOGJADAILY ** Sabtu, (5/11) Takmir Masjid Sulthoni Wotgaleh menggelar kajian akbar. Mengusung tema “Candi Borobudur  Peninggalan Nabi Sulaiman”, warga muslim Sleman dan sekitarnya tampak memadati masjid milik keraton yogykarta ini. Bahkan sebagian jama’ah sudah hadir sejak sabtu siang, demi mengikuti kajian yang dibawakan langsung oleh KH.Fahmi Basya ini.

Tema Borobudur sebagai salah satu bukti peninggalan Nabi Sulaiman di nusantara ini memang menarik untuk terus dikaji. Termasuk Masjid Sulthoni Wotgaleh, sebagai representasi masjid paling bersejarah ingin mengajak umat islam untuk terus menelisik sejarahnya. Dalam pemaparanya, KH Fahmi Basya menyebutkan bahwa candi Borobudur merupakan istana ratu balqis, yang dalam kisah Nabi Sulaiman ratu balqis ini berasal dari negeri saba.

Saba, lanjutnya, adalah negeri yang begitu maju pada zamanya, sebuah negeri yang dijuluki sebagai Baldatun Thoiyyabatun (negeri yang baik), dan negeri tersebut adalah Indonesia. Bahkan ia menepis anggapan bahwa negeri saba adalah yaman. “Boleh saja peneliti lain mengatakan begitu,” tukasnya.

Ahli matematika islam ini mengaku telah mengantongi 40 bukti eksak yang mendukung keyakinannya bahwa candi boribudur sangat terkait erat dengan sejarah Nabi Sulaiman. Ia mengaku tak mudah untuk menuliskan temuanya itu, Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini membutuhkan waktu 33 tahun untuk menyimpulkan temuanya.

Di hadapan jama’ah Masjid Sulthoni Wotgaleh, ia memaparkan  bahwa salah satu bukti yang menguatkan pendapatnya adalah nama sulaiman yang merujuk pada nama orang yang berasal dari jawa. Awalan kata su pada sulaiman adalah karakteristik nama orang jawa. Su dan man memiliki arti hamba yang baik.

Pendapat ini ia sandarkan pada tafsirnya pada surat Shaad ayat 30 yang menyebut Sulaiman adalah sebaik-baik hamba. Selain itu, Nama Sulaiman dapat ditelusuri dengan sejarah Ibu Nabi Sulaiman yang bernama Batsyeba binti Eliam yang olehnya dianggap sebagai orang jawa.

Masjid Sulthoni Wotgaleh

Masjid berbentuk limasan ini adalah salah satu cagar budaya yang di lindungi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kental dengan arsitektur jawa kuno, masjid ini hampir tak pernah sepi pengunjung. Letaknya yang tidak jauh dari pusat Kota, menjadi daya tarik tersendiri bagi para penziarah.

Selain bernuansa jawa klasik dengan ikonik yang begitu menarik, daya tarik masjid ini adalah adanya makam pangeran purbaya yang berada persis di sebalah selatan masjid. Pangeran Purbaya adalah putra raja pertama Mataram Hadiningrat, Panembahan Senopati (1587-1601 M).

Berada di desa Sendangtirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, masjid ini dibangun pada tahun 1460 Masehi abad ke-17.  Dalam sejarahnya komplek masjid ini adalah sebuah komplek pesantren yang begitu maju dalam syiar islam, dan mampu meregenerasi tokoh-tokoh dakwah islam di Yogyakarta.

Kata Wotgaleh berasal dari kata wot ing penggalih. Artinya, jembatan hati menuju ketenteraman. Lokasinya yang berada agak jauh dari pemukiman warga, membuat jama’ah masjid ini semakin khusyu dalam melakukan ibadah sholat, dzikir ataupun iktikaf.