Kunjungi Yogyakarta, Letkol Laut (P) Salim Deklarasikan Kebangkitan Indonesia Negeri Saba dan Poros Maritim Dunia

Letkol Laut (P) Salim usai memberikan kuliah umum di President University. (Foto: Pemuda maritim).
Letkol Laut (P) Salim usai memberikan kuliah umum di President University. (Foto: Dokumentasi pribadi).

Berbah, Sleman, Jogjadaily ** visi Indonesia poros maritim masih terus menghangat, terlebih menyusul gagasan baru yang diusung oleh pakar maritim Letkol laut (P) Salim belakangan ini. Pemerhati maritim ini mengungkapkan bahwa Nusantara adalah negeri warisan Nabi Nuh. Ide besar ini telah ia deklarasikan di Yogyakarta, sabtu (5/11) sekaligus dalam rangka memperingati hari jadinya.

Pada kesempatan itu ia mengajak untuk mengembalikan identitas Indonesia sebagai negeri bahari, negara yang besar karena berhasil mengolah kekayaan lautnya. Hal ini sejalan dengan visi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkenal dengan jargon Among Tani Dagang Layar.

Menggandeng pakar Matematika Islam sekaligus penulis buku “Borobudur dan peninggalan Nabi Sulaiman” Fahmi Basya, Pakar sekaligus penggiat literasi ini merumuskan serta mendeklarasikan Kebangkitan Indonesia Negeri Saba dan Poros Maritim Dunia. Tema ini sekaligus menjadi judul buku ke-5 yang ia tuliskan selama ini.

Menurutnya Indonesia memiliki modal yang begitu besar untuk membangun poros maritim Dunia, selain dengan kekayaan alam yang melimpah, hal yang paling menonjol menurutnya adalah karena faktor sejarah. Pendapat ini ia sandarkan pada kajian sejarah yang membuktikan bahwa Nusantara adalah warisan Nabi Nuh.

“Menurut kamus Padmasusatra 1903 halaman 11, kata Nusantara berasal dari kata Nuh dan satara. Nuh memiliki arti Nabi Nuh, sementara santara berarti towong atau kosong,” paparnya kepada jogjadaily, rabu (9/11).

Ia mengungkapkan bahwa bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan kapal nabi Nuh adalah kayu jati yang berasal dari jawa. Kayu jati tersebut mengandung belerang yang cukup kuat, hal ini selanjutnya ia jadikan kode baru untuk menelisik lebih lanjut kebenaran Nusantara sebagai negeri dimana kapal nabi Nuh berawal.

Di Jawa Timur tepatnya di Trawas, sambungnya, teradapat gunung welirang dan penanggungan yang letaknya mirip dengan bukit judi irarat, bukit dimana kapal Nabi Nuh berlabuh. Antara trawas dan bukitjudi irarat sama persis, karena Allah memang menciptakan dunia kembar agar spesies yang dibawa kapal Nabi Nuh tetap mampu bertahan hidup sebagaimana di daerah asalnya.“Hal ini pernah disampaikan oleh mantan Presiden Republik Indonesia, Abdulrahman Wahid atau lebih akrab disapa Gusdur,” ungkapnya.

“Untuk itulah Indonesia harus bangkit dan sadar bahwa Indonesia adalah negeri yang dibangun oleh peradaban yang sangat agung, negeri bahari yang pernah jaya di kancah dunia, ” paparnya.

Penulis Buku My Fish My Life ini mengajak bangsa Indonesia bangkit sebagai negeri bahari yang adidaya, bangkit sebagai negeri yang maju dalam bidang ilmu pengertahuan dan teknologi. “Untuk mengubah jalanya sejarah Lemuria yang selama ini sudah salah arah,” imbuhnya.

Among Tani Dagang Layar

Ide Pakar Maritim Kelahiran Yogyakarta ini sejalan dengan gagasan yang diusung Gubernur Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwana X. Berkaca dari sejarah, Sri Sultan ingin mengembalikan Yogyakarta sebagai masyarakat maritim yang maju dengan modal laut yang begitu melimpah.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku buwana X bertekad untuk menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian masyarakat selatan DIY. Pihaknya berharap laut selatan menjadi halaman depan bagi masyarakat pesisir.

“Arti penting among tani dagang layar adalah merubah pola pikir petani agar laut selatan dijadikan halaman depan, bukan menggeser para petani untuk menjadi pelaut, namun justru untuk penguatan among tani, yakni sebagai petani agro bisnis seperti pada masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Ungkap Sri Sultan Hamengku Buwana X seperti dilansir laman resmi Pemprov DIY beberapa waktu lalu.

Hal senada disampaikan Letkol (P) Salim, kejayaan masa lalu akan peradaban yang tinggii tidak hanya untuk dikenang, atau sekadar untuk dibanggakan namun merupakan sebuah energi penggerak.

“Tugas kita adalah memikul tanggungjawab demi kejayaan Indonesia dan keberlanjutan peradaban yang pernah ditakdirkan di lintasan sabuk zamrud Nusantara, tidak untuk bangsa ini saja akan tetapi untuk kelanjutan seluruh spesies yang hidup di seluruh alam semesta” pungkasnya.