Menuju Winongo Wisataku 2030

Foto Ilustrasi (Hanang Widiandhika)
Foto Ilustrasi (Hanang Widiandhika)

“Keberadaan Sungai Winongo dapat dimanfaatkan sebagai wisata air pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan Bappeda Kota Yogyakarta mengadakan acara FGD ini sebagai acuan pengembangan Winongo Wisata Tahun 2030,”

Demikian dikatakan Oleg Yohan saat menyampaikan materinya dalam Forum Group Discussion (FGD) belum lama ini. Bertempat di Ruang Pepiling lantai II Kecamatan Tegalrejo, acara ini digelar guna membahas penataan sungai di Kota Yogyakarta, khususnya sungai winongo.

FGD tersebut merupakan kerjasama antara Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta dan Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA).
Tujuan utama acara tersebut adalah memetakan permasalahan dan mencari solusi penataan sungai Winongo menuju Winongo Wisataku 2030.
Dalam paparanya Oleg Yohan menyampaikan tentang kondisi Sungai Winongo yang mengalir dari utara ke selatan dan melewati 6 kecamatan. Menurutnya, Sungai Winongo memiliki prospek yang mendukung untuk dijadikan sebagai tempat wisata air.

Berbagai langkah telah dilakukan FKWA dan Bappeda, termasuk telah membuat grand design penataan Sungai Winongo sebagai tempat wisata.

Perlu komitmen bersama antara FKWA, masyarakat di bantaran Sungai Winongo, dan pemerintah, dalam menyukseskan tujuan akhir penciptaan Winongo Wisata 2030.

Komitmen Banyak Pihak

Mewakili Pemerintah Kota Yogyakarta Edy Muhammad menyampaikan bahwa, telah ada komitmen mengembangkan sungai sebagai tempat wisata. Dan telah ada perubahan paradigma masyarakat di bantaran sungai untuk membuat sungai tidak lagi menjadi bagian belakang rumah dan tidak lagi menjadi tempat pembuangan sampah.

“Bappeda Kota Yogyakarta sebagai pengampu kebijakan perencanaan pembangunan daerah telah memiliki acuan dalam pembangunan di Kota Yogyakarta, yaitu Rencana Pembangunan Daerah, baik jangka menengah maupun jangka panjang. Untuk jangka menengah, isu strategis pembangunan adalah kemiskinan, pembangunan wilayah, dan penataan bantaran sungai,” ucap Kepala Bappeda ini.

Menurutnya, penataan bantaran sungai menjadi pemicu pembangunan seluruh kota dan merupakan akselerasi kesenjangan dengan wilayah lain.

Namun demikian, ada kritik positif yang disampaikan perwakilan dari Dinas PUP-ESDM DIY. Menurutnya, apa yang digagas oleh FKWA adalah suatu hal yang luar biasa bagusnya, namun apakah hal tersebut telah ada sinkronisasi dengan kegiatan Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) DIY selaku pengampu wilayah sungai, khususnya Sungai Winongo.

Tanpa sinkronisasi kegiatan dengan BBWSO, apa yang dicita-citakan oleh FKWA dan masyarakat Kota Yogyakarta terkait menjadikan Winongo Wisata 2030, akan menjadi kurang maksimal.

Sebab, mulai 2017, akan ada pemisahan kewenangan bahwa bidang sumberdaya air PUP- ESDM DIY tidak lagi mengurusi bantaran sungai yang selanjutnya akan dilakukan oleh BBWSO DIY agar tidak tumpang tindih kegiatan maupun anggarannya.