Alokasikan Sekira Rp1 Miliar, IPAL Komunal Bakulan Wetan Patalan Jetis Bantul Diresmikan

Camat Jetis, Endang Rachmawati, saat Peresmian IPAL Komunal Bakulan Wetan Patalan. (Foto: Kecamatan Jetis)

Jetis, JOGJADAILY.COM ** Kamis (26/1/2017), digelar Peresmian dan penyerahan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Komunal, di Dusun Bakulan wetan, Desa Patalan, jetis, Bantul. Untuk Kabupaten Bantul pada 2016, IPAL tersebut menjadi yang terakhir atau ke delapan, dan telah selesai dibangun.

“Saya mengucapkan syukur kepada Allah SWT. Terima kasih kepada SKPD dan semua pihak yang telah mendukung guna terwujudnya bangunan IPAL Komunal ini,” ujar Camat Jetis, Endang Rachmawati, dirilis Kecamatan Jetis.

Pengerjaan IPAL Komunal di Jetis dimulai Juni hingga Desember 2016, dengan sistem kerja bakti atau gotong royong semua warga. Dana yang digunakan sekira Rp1 miliar, yaitu stimulan dari Satker PSLP DIY dan swadaya masyarakat. Tanah yang digunakan milik Surodinomo yang telah diwakafkan.

IPAL Komunal ini menampung air limbah dari rumah tangga yang telah tersalurkan sebanyak 119 rumah tangga. Sementara dana operasi dan pemeliharaan dibebankan kepada warga. Untuk satu rumah tangga, dipungut iuran Rp5.000 setiap bulannya.

“Kepada semua warga masyarakat Bakulan Wetan agar dapat memanfaatkan sebaik-baiknya dan nantinya dapat memelihara dan merawatnya dengan baik, sehingga rencana, harapan, dan tujuan pembangunan IPAL Komunal ini dapat terwujud,” tutur Camat Endang.

Acara yang dimulai pukul 09.00 itu dihadiri Kepala Satker PSLP DIY, Kepala DPU Bantul, Lurah Desa Patalan, dan Undangan.

Tentang IPAL

Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) BioRich adalah proses pengolahan limbah yang terstruktur secara sistematis menggunakan metode kombinasi biofilter anaerob-aerob. Pengolahan air limbah dengan proses biofilter anaerob-aerob terdiri dari beberapa bagian, yakni bak pengendapan awal, biofilter anaerob (anoxic), biofilter aerob, pengendapan akhir, serta khlorinasi (disinfectan).

Air limbah dialirkan melalui saringan fiber (bar screen) untuk menyaring limbah yang masih berbentuk padat. Setelah melalui screen, air limbah dialirkan ke bak pengendap awal, untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir, dan kotoran lainnya. Selain sebagai bak pengendapan, juga berfungasi sebagai bak pengontrol aliran, serta bak pengurai senyawa organik yang berbentuk padatan, sludge digestion (pengurai lumpur), dan penampung lumpur.

Air limpasan dari bak pengendap awal selanjutnya dialirkan ke bak kontaktor anaerob dengan arah aliran dari atas dan bawah ke atas. Di dalam bak kontaktor anaerob diisi media bioball. Jumlah bak kontaktor anaerob bisa dibuat lebih dari satu, sesuai kualitas dan jumlah air baku yang akan diolah.

Penguraian zat-zat organik yang ada dalam air limbah dilakukan oleh bakteri anaerobik atau fakultatif aerobik. Setelah beberapa hari operasi, pada permukaan media filter akan tumbuh lapisan film mikro-organisme. Mikro-organisme inilah yang akan menguraikan zat organik yang belum sempat terurai pada bak pengendap.

Air limpasan dari bak kontaktor (biofilter) anaerob dialirkan ke bak kontaktor (biofilter) aerob. Di dalam bak kontaktor aerob diisi dengan media honeycomb, sambil diaerasi atau diembus dengan udara, sehingga mikro-organisme yang ada akan menguraikan zat organik dalam air limbah serta tumbuh dan menempel pada permukaan media.

Dengan demikian, air limbah akan kontak dengan mikro-organisme yang tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan media. Hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat organik, deterjen, serta mempercepat proses nitrifikasi, sehingga efisiensi penghilangan ammonia menjadi lebih besar. Proses ini sering dinamakan Aerasi Kontak (Contact Aeration).

Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini lumpur aktif yang mengandung massa mikro-organisme diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Sementara air limpasan (over flow) dialirkan ke bak khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor, air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh mikro-organisme patogen.

Air olahan, yakni air yang keluar setelah proses khlorinasi dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran umum. Dengan kombinasi proses anaerob dan aerob, selain dapat menurunkan zat organik (BOD, COD), dapat pula menurunkan konsentrasi ammonia, deterjen, padatan tersuspensi (SS), phospat, dan lainnya.