Beroperasi Mei 2017, Pabrik Kawasan Industri Piyungan Mulai Dibangun

Konsep 3D Kawasan Industri Piyungan. (Foto: BKPM DIY)

Piyungan, JOGJADAILY.COM ** PT Yogyakarta Isti Parama (YIP) berencana membangun pabrik di  Kawasan Piyungan seluas 335 Ha, tepatnya di Desa Srimulyo dan Desa Sitimulyo. Untuk tahap awal akan dibangun seluas 100 Ha, sementara tahap kedua, 235 Ha. Pabrik baru diperkirakan mulai beroperasi pada Mei 2017.

Perusahaan pengembang dan pengelola kawasan industri dan pariwisata tersebut akan mengembangkan industri bersifat padat karya, seperti industri kerajinan, mebel, garmen, mainan, serta kemasan dari kertas dan karton.

“Keberadaan pabrik diharapkan mampu memajukan industri nasional ke pentas dunia dan itu sebagai bentuk pengabdian kepada nusa dan bangsa,” ujar Direktur PT Yogyakarta Isti Parama, Eddy Margo Ghozali, saat Groundbreaking, di Dusun Cikal, Desa Srimulyo, Rabu (18/1/2017), dirilis Pemerintah Kabupaten Bantul.

Menurutnya, penanaman saham merupakan kerja sama dalam membantu pengembangan kawasan yang telah dipersiapkan menjadi lokasi industri, baik dari Provinsi DIY maupun Kabupaten Bantul.

Kawasan yang dikembangkan diharapkan menjadi industri berstandar internasional di Yogyakarta berbasis masyarakat, ramah lingkungan, dengan teknologi terintegrasi. Perusahaan akan menjaga ekosistem, sehingga penghijauan tetap lestari. Kebudayaan lokal, baik bangunan maupun kesenian, tetap terjaga dan apabila mungkin, dapat dikembangkan.

“Tidak ketinggalan, perusahaan juga akan mendidirikan pusat pelatihan tenaga kerja untuk mendidik masyarakat mandiri atau pun menyiapkan tenaga terampil bagi perusahaan. Tenaga yang dibutuhkan untuk perusahan seluas 335 Ha adalah 70.000 orang. Untuk tahap awal baru 1500-2000 tenaga,” ungkap Eddy.

Prioritaskan Masyarakat Sekitar

Bupati Bantul, Suharsono, berharap, keberadaan pabrik dapat memberi dampak pada kesejahteraan masyarakat Piyungan khususnya, dan Bantul pada umumnya.

“Tenaga kerjanya juga 75 persen dari masyarakat sekitar, sehingga gesekan yang biasa terjadi bisa diantisipasi,” tutur Suharsono.

Ia menerangkan, Kabupaten Bantul sebagai daerah yang sedang mengembangkan sumberdaya masyarakat dari sektor pertanian ke sektor industry selalu terbuka pada semua investor yang masuk. Syarat utama yang menjadi tuntutan, yakni harus mampu menyerap tenaga kerja banyak dan mengembangkan lingkungan untuk bergerak maju.

“Investor yang mau menanamkan sahamnya, Pemkab akan memberikan fasilitas kemudahan dalam pengurusan izin dan pencarian lokasi. Keberadaan industri bukan hanya masalah pembebasan lahan, izin, sarana fisik, dan investor, tetapi tidak kalah pentingnya, bagaimana sikap masyarakat sekitar,” kata Bupati Bantul.

Untuk itu, sambungnya, masyarakat diharapkan dapat bekerja sama denga baik, serta tidak membuat kegaduhan atau gangguan, sehingga berjalan dengan baik.

“Kalau ada masalah, jangan langsung demo atau membuat kerusuhan, tapi harus duduk bersama, dicari penyelesaian dengan pikiran dingin,” tandasnya.

Bupati Bantul memukul bende tanda dimulainya pembangunan pabrik. Pada kesempatan itu, dilakukan pula penamanan pohon langka yang selama ini hampir punah di sekitar pabrik secara simbolis, sehingga di samping lingkungan terlihat asri dan sejuk, pohon langka tetap lestari.