Permudah Pengajuan Proposal Penelitian, Pemkot Luncurkan Simpelbang

Wali Kota Yogyakarta. Haryadi Suyuti bersama Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi saat melaunching Simplebang di Balai Kota. (Sumber: Diskominfo Kota Yogyakarta)

Umbulharjo, JOGJADAILY.COM ** Kini pengajuan proposal penelitian ke Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta akan semakin mudah dan cepat disusul dengan diluncurkannya Layanan Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengembangan (Simpelbang) oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta.

Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappeda Kota Yogyakarta Affrio Sunarno menjelasakan, ide Simpelbang berawal dari pengumpulan proposal untuk jurnal dan penelitian yang sangat konvensional. Ia berpendapat cara tersebut sudah tidak sesuai dengan perkembangan teknologi sehingga dirasa tidak efektif dan efisien.

“Kami membuatnya menjadi mudah. Seluruhnya akan ditayangkan secara online dengan memanfaatkan media internet,” paparnya  disela-sela peluncuran Simpelbang di Balai Kota, Selasa (11/7).

Lebih jauh, Affrio menjelaskan, dalam Simpelbang terdapat aplikasi e-jjournal dan e-jarlit. “pengajuan proporsal penelitian melalui on line dalam aplikasi e-jarlit simplebang, bukan untuk tahun ini namun untuk tahun 2018.” Jelasnya.

Ia menekankan tidak ada kriteria khusus untuk tiap penelitian yang diajukan oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Namun, penelitian yang diajukan harus terkait dengan persoalan Kota Yogyakarta, serta fokus penelitian juga berada di dalam Kota Yogyakarta.

Tahun ini, Bappeda Kota Yogyakarta mengalokasikan anggaran Rp.150 juta untuk lima jenis penelitian. Kelimanya sudah berhasil diputuskan untuk tim peneliti dari UAD,UTY dan UST. “Diantaranya adalah terkait dengan peta kuliner budaya di Kota Gede, smart info berbasis aplikasi mobile dan pemetaan daerah rekahan tanah,” tandasnya.

Affrio menyebut, beberapa hasil penelitian sudah berhasil dikembangkan menjadi rancangan peraturan daerah seperti untuk hasil penelitian tentang pemakaman kini sudag menjadi naskah akademik di bagian hokum.

“Maka nanti seluruh jurnal dan penelitian sangat mudah untuk diupload seperti namanya, simpelbang yang artinya mudah dan gampang,” sambungnya.

Affrio menambahkan animo penelitian di Kota Yogyakarta termasuk tinggi. Ia menyebut meski angka proposal penelitian menurun dari tahun 2016 ke 2017. “Pada 2016 terdapat 136 proposal penelitian yang masuk, sementara untuk tahun ini baru ada 63 proposal yang masuk,” urainya.

Meski terjadi penurunan, ia memastikan kualitas penelitian lebih bagus tahun ini dibandingkan tahun lalu. Menurutnya ada penelitian yang materinya lebih berisi. Ia menybutkan penurunan terjadi karena dana penelitian tidak lagi memakai hibah, namun dengan system swakelola.

Sementara itu Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti mengaku mengapresiasi website besutan Bappeda tersebut. “Aplikasi berbasis online yang berkaitan dengan pelayanan akan terus diperbanyak. Hal ini agar semakin memudahkan interaksi masyarakat dengan pemerintah,” paparnya menegaskan.

Jogja Kota Lama

Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Drs.Ahmad Charis Zubair M.A bersama Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti.

Sementara itu Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Drs.Ahmad Charis Zubair M.A memandang momentum peluncuran Simpelbang ini tepat mengingat Kota Yogyakarta tengah menghadapi tantangan serius dengan adanya bandara baru NYIA.

Ia menilai, untuk mengantisipasi dampak yang tidak diinginkan dari pembangunan NYIA seperti modernisasi yang berlebihan harus ada riset khusus untuk meneliti pembangunan kota berdasarkan aspek kebudayaan.

“Nyawa dan ruh kota Yogyakarta mestinya adaalah Yogya Kota lama sebagaimana Kyoto terhadap Tokyo di Jepang,” tandasnya.

Ia mengaku memiliki tema pembangunan Kota Yogyakarta dengan konsep “Yogyakarta Kota Lama”, didalamnya nanti mencakup pengertian Kota pusaka, heritage, Kota Budaya, Kota Seni, Kota pendidikan, Koat Seni, Kota perjuangan serta kota batik dunia.

“Konsep kota cerdas yang melestarika budaya,” imbuhnya.

Untuk itu, ia menjelaskan harus ada masukan tema permasalahan akatual yang dihadapi kota Yogyakarta. Serta pertimbangan untuk memberikan solusi atas problematika kota terutama soal transportasi, tata ruang dan pendidikan.

“Yang terpenting juga adalah adanya titik temu anatar masukan solusi penelitian institusi pendidikan dengan program Bappeda secara kontinyu,” jelasnya.