Di Kota Yogyakarta Imunisasi MR Sasar 103.151 Anak, Presiden: Jangan Remehkan Campak dan Rubella

Disuntik – Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti menyaksikan langsung proses suntik imunisasi campak dan rubella kepada salah satu murid SD Muhammadiyah Sapen. (Foto: Diskominfosan Kota Yogyakarta)

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) tahun ini menargetkan cakupan imunisasi campak dan rubella mencapai angka 103.151 anak, dengan sasaran target 95%.

Imunisasi Measles Rubella atau MR bertujuan untuk mencegah penyakit campak dan rubella merupakan satu program Kemenkes yang akan dilaksanakan bulan agustus dan september 2017. Sasaranya adalah anak berusia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun.

Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti turun tangan langsung dalam pencanangan kampanye imunisasi Measles Rubella di SD Muhammadiyah Sapen, selasa (1/8) pagi. Selain memberikan motivasi Wali Kota juga menyaksikan langsung proses imunisasi.

“Katakan, tidak sakit, tidak sakit” seru Haryadi Suyuti bersama para siswa SD Muhammadiyah Sapen yang sedang mengantre mendapatkan imunisasi MR.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota mengajak para orang tua untuk turut aktif dalam mensukseskan imunisasi yang digelar secara nasional ini. Ia juga meminta para petugas untuk memberikan pendekatan ekstra kepada anak-anak agar mereka tidak takut dan mau untuk disuntik.

Meski gratis, Ia menjamin vaksin ini tetap memiliki manfaat yang besar dan kualitasnya pun juga bagus. “Jangan berfikir mumpung gratis tapi mumpung dilakukan secara serentak. Sayangilah anak-anak kita dengan memberikan vaksin MR,” ujarnya meyakinkan.

Wali Kota menegaskan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta berkomitmen untuk ikut mendukung Pemerintah RI untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian Congenital Rubella Syndrome (CRS) dengan target pada tahun 2020 mendatang.

“Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa penyakit campak dan rubella masih mejadi masalah kesehatan di Indonesia. Pada 5 (lima) tahun terakhir, masih ditemui satu atau dua kasus campak di beberapa wilayah Kota Yogyakarta,” paparnya.

Wali Kota meminta kepada seluruh masyarakat, jajaran instititusi kesehatan, jajaran pendidikan swasta maupun negeri, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta organisasi sosial dari berbagai kalangan dan latar belakang, agar ikut mendukung program ini.

Sebab, menurutnya program imunisasi MR ini sangat penting untuk kesehatan kita bersama dan  tidak akan berhasil tanpa dukungan berbagai pihak.

Menanggapi penolakan yang dilakukan sejumlah pihak, Wali Kota meminta agar mereka tetap dapat ikut ambil bagian, agar tidak muncul kekhawatiran terjadinya cakupan imunisasi yang rendah, sehingga dapat mempengaruhi kekebalan komunitas.

“Dan yang kita khawatirkan, penyakit campak dan rubella menjadi sulit untuk diberantas,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Fita Yulia Kisworini menerangkan, di Kota Yogyakarta Imunisasi MR akan dilakukan sejak agustus hingga September dengan sasaran 103.151 anak. Dari angka tersebut Dinkes menargetkan cakupan imunisasi pada angka 95%.

“Kampanye vaksin MR ini wajib didukung oleh berbagai pihak, agar bisa berjalan dengan lancar dan sesuai target yang ditetapkan pemerintah,” katanya.

Meski terlihat ringan, sebenarnya campak dan rubella ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan komplikasi penyakit yang serius. Komplikasi campak diantaranya adalah radnag paru, radang otak, buta, gizi buruk hingga kematian.

Sedangkan rubella yang menyerang ibu hamil bisa memberikan dampak kepada bayi yang sedang dikandung. “Selain keguguran, bayi yang dikandung bisa mengalami kecacatan, misalnya kelainan jantung, kepala kecil, gangguan mata hingga gangguan pendengaran,” urainya.

Jangan Remehkan Campak dan Rubella

Presiden Joko Widodo menegaskan campak dan rubella adalah bahaya sekaligus ancaman bagi anak-anak bangsa ini. Ia pun meminta agar masyarakat tidak meremehkannya. “Dua Penyakit yang belum ada obatnya tersebut hanya bisa ditangkal melalui imunisasi,” tandas Joko Widodo saat membuka kampanye Imunisasi campak dan rubella di Sleman, selasa (1/8).

Dalam kesempatan tersebut Jokowi juga menepis anggapan bahwa imunisasi ini haram. Menurutnya Pemerintah berpegang pada fatwa majelis ulama Indonesia (MUI) no.4/2016 yang menyatakan bahwa hokum imunisasi adalah mubah.

“Artinya akan mendatangkan faidah apabila dilakuka, tetapi tak masalah apabila ditinggalkan,” jelasnya meyakinkan.

Selain itu, Jokowi juga meminta Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk turun tangan menjelaskan manfaat imunisasi MR ini.

“Karena campak dan rubella terbukti sangat berbahaya kalau dibiarkan,” ujarnya.