Tuah Niat Baik Haryadi Suyuti

Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti saat meninjau proyek perbaikan drainase di Jl. Kenari Yogyakarta. (Foto: Astama Izqi Winata)

Modal niat baik dan dekat dengan rakyat mengantar sosok Haryadi Suyuti menjadi orang nomor satu di Kota Yogyakarta. Tak sembarangan, bahkan masyarakat Kota Pelajar pun memilihnya hingga tiga periode alias hattrick.

Pilihan HS, sapaan akrab Hayadi Suyuti menjadi seorang kepala daerah merupakan panggilan hidup yang tidak bisa ia hindari. Namanya mulai tersohor sejak ia didaulat menjadi Wakil Walikota Yogyakarta sepuluh tahun silam. Namun menariknya, orang nomor satu di Kota Pelajar ini eggan mengumbar popularitas demi meraup suara dalam kontestasi panggung politiknya.

Bapak dua anak ini mengaku lebih suka fokus pada pekerjaan yang diembanya sebagai Walikota daripada sibuk meraih pujian atau simpati warga alias pencitraan.  Rame ing gawe sepi ing pamrih adalah prinsip yang telah mengakar kuat pada diri pria asli Kota Yogyakarta ini.

“Jangan sampai karena kita berorientasi untuk pencitraan malah diperlihatkan aslinya oleh Allah. Biarkan Allah yang mencatat dan rakyat yang menilainya. Tidak perlu didengungkan,”tegasnya.

HS sapaan akrab Haryadi menilai masyarakat Kota Yogyakarta sudah cerdas, sehingga menurutnya tanpa gembar-gembor popularitas pun mereka pasti sudah bisa menilai secara proporsinal. “Fokus bekerjas saja, tidak usah mikirin pujian orang. Bekerja kan ibadah, pasti sudah dinilai oleh Allah,” tandasnya.

Selain itu, hal terpenting baginya adalah mengawali setiap pekerjaan dengan niat yang baik. Dengan niat yang baik, nisacaya Allah akan memudahkan setiap prosesnya sekaligus mencatatnya sebagai amal ibadah. Dengan begitu, ia yakin antara proses dan hasil akan memuaskan. “Pada masanya nanti niat baik niscaya berbuah manis,” jelasnya.

Kiprahnya mengabdi pada masyarakat dimulai sejak ia menjabat sebagai Wakil Walikota Yogyakarta periode 2006-2011. Kemudian disusul menjabat sebagai Walikota untuk periode 2011-2016. Puas dengan hasil kerja HS, masyarakat yogyakarta kembali memilihnya sebagai Walikota Yogyakarta untuk periode 2017-2022.

Sepuluh tahun mengabdikan diri sebagai pelayan masyarakat tentu bukan pekerjaan mudah, namun bagi alumnus Fisipol Universitas Gadjahmada ini menjadi Walikota bukanlah soal kekuasan. Ia justru memaknai seorang kepala daerah sebagai sosok pelayanan rakyat. “Bekerjanya harus untuk kepentingan dan kersejahteraan rakyat,” imbuhnya.

Tangan dingin pria 53 tahun ini berhasil mengantarkan Kota Yogyakarta semakin maju dan sejahtera. Terbukti sejak ia menjadi Walikota periode 2011-2016 silam, ia berhasil mencatat prestasi gemilang. Dalam kurun waktu lima tahun itu, HS mampu meningkatkan APBD Kota Yogyakarta 100 persen. Tahun pertama, APBD Kota Yogyakarta berada pada angka Rp.900 miliaran.

Pada akhir 2006, APBD sontak menanjak pada angka  Rp.2 triliun. Hal ini membuat neraca keuangan Pemkot Yogyakarta tergolong pada kondisi sehat. Meski ada penundaan transfer dana alokasi umum (DAU) APBD Yogyakarta tetap lancar. Hal ini karena belanja pegawai yang dialokasikan masih sesuai dengan batas wajar. “Keuangan yang sehat akan berdampak langsung pada masyarakat.” Kata Haryadi.

Hal lain yang berhasil dilakukan suami Tri Kirana Muslidatun ini adalah terkait jaminan pendidikan daerah. Bentuknya adalah jaminan pendidikan bagi bagi warga Kota Yogyakarta untuk mengenyam pendidikan selama 12 tahun. Bahkan untuk level SMA, jaminan ini merupakan yang terbesar se-DIY. Ketika masih menjadi kewenangan Kota, tiap siswa SMA mendapatkan jaminan Rp. 2 juta.

Tentu tidak akan cukup waktu menuliskan torehan prestasi bapak dua anak ini. Namun hasil kerja yang paling mendapat perhatian banyak pihak adalah, ketika HS memberanikan diri untuk melakukan terobosan menata ulang kawasan malioboro. Menggandeng Pemprov DIY, kini kawasan pendestrian malioboro berhasil disulap menjadi kawasan wisata belanja yang lebih indah dan nyaman.

Dibalik segudang prestasi yang berhasil ia torehkan untuk Kota Yogyakarta, HS termasuk sosok yang sangat mengutamakan keluarganya. Tak hanya piawai menjanlakan roda pemerintahan, namun ia juga berhasil menjadi sosok pemimpin teladan dalam rumah tangganya. “Bukan lantas semua waktu untuk keluarga, tapi menjaga figur ayah bagi anak-anak, suami bagi istri itu harus selalu ada tiap waktu,” tandasnya.

Ia menegaskan bahwa kesuksesan karirnya tidak bisa dilepaskan dari peran istri dan anak-anaknya. Ia mengungkapkan bahwa istri dan anak-anaknya bersedia mengorbankan waktunya untuk mengadbi pada masyarakat. “Jadi berbuat baiklah untuk sesama niscaya hasil baik akan menjadi ganjaran yang tak terduga nilainya,” pungkasnya. (Tam)

Add Comment