Alberto Giovanni Sundah, Racik Untung Jualan Jamu

Alberto Giovanni Sundah (Foto: Koleksi Pribadi)

Jetis, JOGJADAILY ** Siapa bilang jamu identik dengan minuman kuno atau jadul? Minuman berbahan dasar rempah itu kini justru tengah naik daun. Tidak hanya dipandang sebagai jamu, minuman warisan leluhur ini pun juga terbukti ampuh mendatangkan pundi-pundi uang. Kondisi itupun langsung diracik oleh sosok muda bernama Irfan.

Sudah setahun ini pria bernama lengkap Alberto Giovanni Sundah ini meracik bisnis jualan jamunya. Untuk mendapatkan respon positif pasar, ia pun putar otak menggali ide bisnisnya. Hasilnya, kini ia berhasil memasarkan produk jamunya hingga tembus di toko-toko berjejaring modern seperti Plaza UNY.

Selain bisa dijumpai di toko-toko tersebut, Mujamu, merk produk jamunya ini juga sudah biasa menjadi langganan para anggota dewan di Kantor DPRD Kota Yogyakarta. Bahkan, karena kejeliannya Mujamu juga sering menjadi jamuan untuk tamu-tamu di Balai Kota Yogyakarta.

Bahkan  tidak sedikit para turis yang mampir ke Yogyakarta sudah pernah mencicipi produk lokal ini. Warga Jogoyudan Kelurahan Gowongan, Jetis ini mengaku tidak segan-segan memasarkan Mujamu, ia berdalih bahwa minuman ini harus dipopulerkan karena bagian dari warisan budaya.

Irfan membeberkan rahasia bisnisnya, menurutnya ujung tombak keberhasilan suatu bisnis berada pada proses pemasaran yang baik, tertata dan memiliki sasaran yang jelas. “Saya sengaja memasarkan Mujamu dari warung ke warung, setelah itu saya baru pasarkan pada level diatasnya yakni toko modern hingga nantinya tembus di hotel-hotel,” paparnya.

Selain meracik bisnisnya dengan pemasaran yang begitu matang, Pria jebolan Fakultas Teknik ini juga tidak melupakan kualitas produk jamunya. Ia memastikan Mujamu diproses dengan sangat teliti dan konvensional tidak menggunakan bahan-bahan kimia yang berbahaya. Bahkan untuk pemanis ia memilih gula asli dibanding sintesis.

Mujamu tersedia dalam tiga varian rasa yakni beras kencur kunir asem dan gulas, semuanya dikemas dalam botol berukuran 330 ml. Harganya pun cukup murah dibandingkan minuman kemasan lainya, yakni hanya Rp.7000 per botol.

Mujamu dikemas praktis dan menarik layaknya minuman kemasan lainya. Ia menuturkan, tujuanya agar jamu bisa dinikmati layaknya minuman kemasan yang lain, dengan begitu jamu tidak lagi identik dengan obat. “Kini jamu bisa ditemukan dengan mudah dan bisa dinikmati secara praktis,” terangnya.

Kini paling tidak dalam sehari, Irfan harus memproduksi 100 botol untuk memenuhi kebutuhan pasarnya. Dengan dibantu tiga orang karyawan, andik mengaku masih belum tertarik untuk mendirikan rumah produksi, sehingga hingga saat inipun ia masih memproduksinya di rumah.

Ia berharap Mujamu bisa menjadi minuman kebanggaan Warga Yogyakarta, ia juga berharap Jamu menjadi minuman jamuan pada acara-acara Pemerintah Daerah. “Karena itu merupakan bentuk pelestarian warisan budaya lokal, jamu bagian dari minuman warisan leluhur yang harus tetap dilestarikan,” tandasnya.

Selain itu, dengan menjamurnya produksi jamu, tentu akan mendongrak petani dan pedagang rempah-rempah. “Saya mengambil bahan-bahan jamu dari pasar Bringharjo, bukan dari luar daerah,” jelasnya.

Add Comment