Daeng, Pengrajin Tas Kanvas yang Tak Mudah Puas

RISING STAR – Danang Prianto, atau akrab dipanggil Daeng, dalam sebuah acara perbankan. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Tegalrejo, JOGJADAILY ** Adalah Danang Prianto, atau akrab dipanggil ‘Daeng’. Meski disebut ‘Daeng’, dia sama sekali bukan orang Bugis. Pria kelahiran Jakarta, 9 April 1978, ini merupakan salah satu pelaku usaha muda di Kecamatan Tegalrejo.

Sejak mengikuti program Innovating Jogja yang diadakan tahun 2016 lalu dan mendapat peringkat tiga besar nasional, kiprahnya semakin gemilang. Diawali dengan usaha tas kanvas bermerek dagang Coucomonka yang pernah mendapatkan pesanan dari WWF Indonesia, berlanjut ke gelaran Innovating Jogja, Daeng membuat terobosan baru dengan mengenalkan Beaver & Beavers Woodworking, yakni knock down display atau alat pameran model knock down, terbuat dari kayu jati Belanda.

Produk Daeng itu kemudian mendapatkan apresiasi dari Tim Juri dan menjadi salah satu produk unggulan untuk mendapatkan program inkubasi bersama dua produk unggulan lainnya. Mereka sukses mencuri perhatian juri dari segi potensi pasar, peluang pendanaan, operasionalisasi produk, komitmen, dan kinerja selama program berlangsung.

Menurut Satryo Soemantri Bordjonegoro, Key Expert on Innovation and Technology dari EU-Indonesia Trade cooperation Facility (TCF), kedua belas peserta terpilih program Innovating Jogja adalah pemenang di bidangnya, tapi Tim Juri memilih tiga yang perlu dibantu melalui proses inkubasi sesuai potensi dan kapasitas yang saat ini ada di Balai Besar Batik dan Kerajinan.

“Seluruh pemenang diharapkan dapat mengembangkan bisnisnya dan menciptakan lapangan kerja untuk orang lain, sehingga meningkatkan daya saing industri dan perdagangan, khususnya pada sektor industri batik, kulit, dan kerajinan. Bagi mereka masuk inkubasi, akan mendapatkan pembinaan dan diupayakan masuk ke dalam pipeline bisnis Bank BNI,” ujar Satryo.

Untuk diketahui, program Innovating Jogja diluncurkan pada bulan Juli tahun 2016 yang lalu. Suatu kompetisi berbasis inovasi untuk menemukan dan mendukung ide-ide inovatif dalam bisnis, teknologi, dan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bagi industri batik, barang-barang kulit dan kerajinan di Yogyakarta.

Dan merupakan proyek percontohan dari inisiatif bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian dan TCF (Trade Cooperation Facility) dari Uni Eropa, bekerja sama dengan Bank BNI.

TIGA BESAR – Daeng saat menerima penghargaan Innovating Jogja 2016. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Proyek senilai 12,5 juta Euro yang didanai oleh Uni Eropa tersebut memiliki tujuan untuk memperkuat kapasitas institusi pemerintah dalam meningkatkan iklim perdagangan dan investasi di Indonesia, serta berkontribusi dalam membangun ekonomi dalam jangka panjang secara berkelanjutan. Proyek ini terdiri dari enam komponen yang dinilai penting dalam meningkatkan kinerja perdagangan internasional Indonesia.

Salah satu komponen tersebut adalah pemberian dukungan kepada tiga Kementerian/Lembaga Pemerintah terkait teknologi dan inovasi, yaitu: Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), serta bekerja sama untuk menciptakan proses keilmuan, teknologi dan inovasi dalam jangka panjang dan yang berkelanjutan di Indonesia.

Kompetisi Innovating Jogja juga melibatkan Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), Politeknik Negeri ATK Yogyakarta, Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI), Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Rakyat Indonesia (APIKRI), Balai Besar Batik dan Kerajinan (BBBK), Balai Besar Kulit, Karet dan Plastik (BBKP), serta beberapa pebisnis Yogyakarta seperti Salim Silver, Gendhis Bag, dan Batik Winotosastro sebagai anggota dewan juri.

Haus Ilmu

Dari kompetisi yang diikutinya itu, Daeng berkesempatan belajar dan mendapat pengetahuan tentang bisnis. Bahkan hingga sekarang, peserta program Innovating Jogja berkesempatan mengikuti beragam agenda kegiatan yang diadakan BPPI.

“Saya tipe orang yang mau belajar dan kebetulan setelah saya mengikuti lomba, keingintahuan saya tentang bagaimana menjalankan sebuah bisnis mulai mencuat. Sebagai seorang pelaku usaha pemula, saya sangat butuh media dan jaringan untuk mengembangkan usaha saya. Kemudian saya mendapatkan info adanya Rumah Kreatif Jogja yang terletak di Sagan,” tuturnya.

“Alhamdulillah, setelah menjadi salah satu anggotanya banyak manfaat yang saya peroleh. Antara lain, mendapatkan mentoring/pendampingan bisnis, mengikuti Program Evaluasi, Verifikasi & Klasifikasi Kompetensi, mendapatkan program inkubasi, mengenal karakteristik produk kita sendiri hingga belajar menggunakan aplikasi online untuk memasarkan produk kita,” cerita Daeng.

Dari pendampingan yang dilakukan oleh Rumah Kratif Jogja, Daeng didorong untuk membuat varian baru dari tas kanvas. Muncullah ide tas berbahan baku blacu berwarna monochrome dengan brand Rootzie Bag.

Sebagai seorang pengusaha muda, apa yang dijalani oleh Daeng sejak dia mengikuti kompetisi Innovating Jogja hingga bergabung menjadi anggota Rumah Kreatif Jogja merupakan suatu langkah tepat dalam mengembangkan suatu bisnis. Karena bisnis yang berhasil adalah bisnis yang mampu bertahan cukup lama dalam persaingan.

Add Comment