Gugah Semangat Baca, Agung Rela Blusukan ke Kampung-kampung

Agung Nugroho saat mengendarai Perpustakaan Kelilingnya. (Foto: Keoleksi Pribadi)

Agung Nugroho nekat blusukan keliling ke kampung-kampung demi menjajakan koleksi buku-buku yang dikemas dalam perpustakaan keliling miliknya. Bermodal sepeda motor roda tiga dan sejumlah buku yang tidak begitu banyak, warga ledok tukangan ini bermimpi mewujudkan Yogyakarta sebagai Kota Literasi.

Bakatnya membaca dan suka mengoleksi buku sudah mulai nampak semasa agung duduk di bangku Sekolah Dasar. Agung kecil sudah terbiasa membaca koran dan beberapa majalah yang ia dapat dari orang tuanya.

Hobi Pria Jebolan Fakultas Tarbiyah ini berlanjut hingga ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Di kampus ia sudah aktif mengoleksi buku.

Pria 40 tahun ini biasa berkeliling empat hari selama seminggu, lokasi yang biasa digunakan untuk memangkalkan motor pintarnya ini yakni hari senin di masjid al ikhlas mergangsan, hari rabu di masjid bani ismail sorosutan, hari jum’at di masjid baitul rahman jagran dan hari sabtu di masjid lempuyangan.

“Saya mulai berkeliling tiap jam empat sore sampai adzan maghrib. Selain berkeliling pada jadwal yang sudah ada, saya juga sering diundang untuk mengikuti pameran-pameran buku dan pendidikan,” katanya.

Tidak susah untuk bisa meminjam buku di perpustakaan keliling milik Agung Nugroho ini. Peminjam hanya diwajibkan mengisi buku peminjaman, setiap orang diberikan jatah meminjam maksimal tiga buku selama satu minggu.

“Syarat tidak penting, bagi saya yang terpenting mereka mau membaca pasti saya pinjamkan. Dengan syarat yang mudah saja kadang masih jarang yang mau baca, tapi biasanya anak-anak dan para ibu rumah tangga justru sering menjadi langganan saya,” tuturnya.

Agung Nugroho yang juga pengajar di SD N Widoro ini mengawali ide motor pintaranya sejak 2003 lalu, saat itu sebenarnya ia tidak memiliki modal yang memadai, namun dengan tekad yang kuat akhirnya ia pun nekat memulai pustaka keliling hanya dengan 50 judul buku.

“Ketika itu saya hanya memiliki satu sepeda motor tua dan beberapa judul buku saja, namun sejak 2003 hingga tahun 2017 saya rutin membeli tiga judul buku setiap bulan,” ceritanya.

Ia pun mengaku, semua modal pustaka keliling miliknya murni menggunakan dana pribadi. Baru pada tahun 2009 Agung Nugroho baru bisa mendapatkan bantuan dari para donatur. Hingga saat ini, pustaka keliling miliknya mampu mengoleksi 5000 judul buku.

Bapak dua anak ini nekat melakukan idenya demi mewujudkan Kota Yogyakarta sebagai Kota Literasi. Selain itu, hal yang lebih penting lagi menurutnya adalah untuk mencerdaskan bangsa menuju masyarakat yang bermartabat.

“Cita-cita saya adalah ingin menghidupkan kembali budaya membaca di Kota Yogyakarta. Karena membaca adalah kunci kemajuan, tidak peduli mau membaca dimana saja, yang terpenting adalah menyerap ilmu untuk kehidupan yang lebih berkemajuan,” jelasnya.

Namun ia mengaku, untuk mencapai keinginannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Menurutnya hal itu bisa tercapai dengan bersama-sama mengkampanyekan Gerakan Indonesia Membaca.

Suami Nur Waidah ini berharap perjuanganya selama ini mendapatkan dukungan baik dari Pemerintah dan masyarakat. “Menurut saya sebaiknya setiap kecamatan memiliki satu pustaka keliling atau motor pintar agar gerakan indonesia membaca bisa dilakukan secara maksimal serentak diseluruh kecamatan di Kota Yogyakarta,” pungkasnya.

Add Comment