Inisiasi Bela Beli Kulon Progo hingga Makan Singkong

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo saat membuka ikrar bela beli kulon progo. (Foto: Humas Kulon Progo)

Kulon Progo merupakan daerah segudang potensi alam, pertanian hingga laut. Namun dalam sejarahnya belum ada satu pemimpin pun yang mampu mengoptimalkan potensi tersebut. Akhirnya Kulon Progo pun menjadi daerah yang kaya potensi namun berpenduduk miskin terbanyak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun ditangan Bupati Hasto Wardoyo keterpurukan tersebut disulap seketika.

Pria Kelahiran 30 Juli 1964 ini pertamak kali muncul sebagai orang nomor satu di Kulon Progo pada 2011 silam. Ketika itu, Pria asli Kulon Progo ini mendapatkan kepercayaan warga Kulon Progo untuk menjabat sebagai bupati untuk periode 2011-2016.

Pria yang juga berprofesi sebagai dokter dan pengusaha ini mengawali kiprah politiknya Pemilihan Kepala Daerah Langsung tahun 2011, Ia bersama pasangannya Sutedjo yang didukung PDIP, PAN, dan PPP berhasil memenangkan pilkada Kulon Progo dengan perolehan suara sebesar 46.29 persen dari jumlah pemilih.

Di awal perannya sebagai Bupati Kulon Progo langsung melakukan sejumlah manuver berarti untuk membangun Kulon Progo sebagai daerah yang mandiri secara pangan dan ekonomi. Pada 2012  Pria 53 tahun ini meluncurkan gerakan “bela beli kulon progo”.

Menurut Jebolan Fakulas Kedokteran UGM ini Bela Beli Kulon Progo merupakan semangat pembelaan yang ditunjukkan oleh seluruh komponen masyarakat, tokoh, dan pemerintah Kulon Progo terhadap kepentingan untuk menumbuhkan perekonomian Kulon Progo secara konkrit dalam sikap sehari-hari.

“Semangat Bela Beli Kulon Progo merupakan semangat untuk membebaskan masyarakat Kulon Progo dari kaum kapitalis. Hal ini juga untuk membangkitkan semangat agar kita dapat lebih mengutamakan produk sendiri daripada produk asing,” tegasnya.

Melalui gerakan ini, bahkan Hasto mewajibkan pelajar dan PNS di Kulon Progo mengenakan seragam batik gebleg renteng, batik khas Kulonprogo, pada hari tertentu. Ternyata, dengan jumlah 80.000 pelajar dan 8.000 PNS, kebijakan ini mampu mendongkrak industri batik lokal. Sentra kerajinan batik tumbuh pesat, dari cuma 2 menjadi 50-an.

Ditangan Pria yang juga pernah menjadi dosen di Fakultas Kedokeran UGM ini perekonomian dan kesejahteraan di Kulon Progo pun kian meroket. Berbagai kebijakan lewat program Bela dan Beli, ternyata mampu menurunkan angka kemisikinan di Kulonprogo, dari 22,54 persen pada 2013 menjadi 16,74 persen pada 2014.

Tidak cukup itu, Hasto juga mendongkrak PDAM Kulon Progo untuk mampu memproduksi air kemasan sendiri. Haslinya pun, air kemasan bernama merk AirKu (Air Kulonprogo) moncer seantero Kulon Progo mengalahkan kemasan air minum berkenamaan.

Atas ide kreatif dan inovatinya tersebut suami Dwikisworo Setyowireni inipun diganjar sederet penghargaan bergengsi. Pada 2016 Hasto dinobatkan sebagai Bupati terbaik JPG Awards. Atas gebrakan-gebrakan yang ia lakukan saat memimpin Kulonprogo.

Bahkan pada awal karirnya sebagai Bupati pun Hasto Wardoyo sudah berhasil mendapatkan penghargaan Satyalancana Karya Bakti Praja Nugraha dari Kementerian Dalam Negeri atas Laporan Penyelengaraan Pemerintah Daerah 2013.

Pada 2016 Hasto Wardoyo kembali menerima anugerah Penghargaan sebagai Kepala Daerah Inovatif dari Koran Sindo yang diserahkan oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo bersama Ketua DPD RI Irman Gusman, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sanjoyo.

Pada 2017 pun Hasto dinobatkan sebagai salah satu dari 10 kepala daerah teladan versi tempo media group.

Namun dibalik prestasinya tersebut, ada satu hal menarik yang ada pada Hasto yakni, ia tidak akan makan nasi selama masih ada warga Kulon Progo yang miskin. Ia rela makan singkong sebagai bentuk kepedulian dan komitmenya terhadap kesejahteraan warga Kulon Progo.

Leave a Reply