Lurah Suhardi, Ubah Kawasan Kumuh Sungai Buntung Menjadi Untung Beliung

TELADAN – Lurah Suhardi (kiri), teladan warga dalam membangun Sungai Buntung. (Foto: Kurniawan Sapta Margana)

Tegalrejo, JOGJADAILY.COM ** Kawasan pinggir sungai di perkotaan identik dengan kawasan kumuh dan tak teratur. Perlu kerja keras dan kolektivitas dari masyarakat untuk mengentaskan kekumuhan tersebut. Salah satu contoh pengentasan kawasan kumuh berbasis partisipasi masyarakat adalah di Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta.

Sejak 2010 hingga sekarang, di sepanjang Sungai Buntung, terutama segmen satu hingga empat, sudah mulai terlihat perubahan yang besar. Hal ini terjadi sejak adanya Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) yang digagas Kementerian Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat. Selain dana dari pusat, program PLPBK juga mendapatkan bantuan dana dari World Bank yang bernilai miliaran rupiah.

Sungai Buntung awalnya merupakan wilayah yang kumuh dan tak tertata. Masyarakat di sekitar Sungai Buntung masih menganggap Sungai Buntung adalah halaman belakang rumah mereka sehingga Sungai Buntung dianggap tempat pembuangan sampah dan lain sebagainya.

Butuh proses panjang untuk mengubah daerah di bantaran Sungai Buntung yang dulunya adalah kawasan kumuh dan langganan banjir menjadi kawasan yang layak huni. Salah satu proses yang harus dilewati dan sulit adalah memberi pemahaman kepada masyarakat dan mengubah mindset berpikir masyarakat untuk menata kawasan.

Setelah masyarakat mau terlibat akhirnya proses penataan pun dilakukan. Rumah-rumah masyarakat yang tadinya memunggungi sungai diubah menjadi menghadap sungai. Selain itu pinggiran sungai pun ditalud dan dibuatkan jalan di dua sisi dengan lebar satu meter.

Salah satu sosok yang berperan dalam penataan Sungai Buntung adalah Suhardi, Lurah Karangwaru yang telah menduduki jabatan lurah sejak 2009 yang lalu. Sosok Suhardi memang sangat lekat di hati masyarakat Karangwaru. Sosoknya yang humanis, selalu mengedepankan musyawarah dalam setiap langkahnya. Dukungan masyarakat Karangwaru sangat memudahkan setiap program dan kegiatan yang dilaksanakan di Karangwaru.

Hubungan antar-lembaga sosial di Karangwaru juga memudahkan pekerjaannya sebagai perwakilan Pemerintah Kota Yogyakarta di wilayah.

“Kami akan selalu mengajak lembaga sosial masyarakat untuk berkiprah membangun wilayah Karangwaru. Lembaga sosial yang ada, seperti LPMK, BKM, RT/RW, Posyandu, maupun PKK menjadi sangat penting peranannya dalam membangun Karangwaru. Sementara kami sebagai perwakilan pemerintah hanya akan memfasilitasi, mengkoordinasikan, serta menjadi motivator pembangunan,” kata Suhardi membuka pembicaraan.

Sebagian besar waktunya bahkan dicurahkan kepada masyarakat Karangwaru. Karena, acap kali kegiatan masyarakat dilangsungkan saat sore hingga malam hari bahkan di luar jam kerjanya. Dedikasinya yang cukup tinggi terhadap masyarakat, membuatnya cukup disegani di lingkungan Karangwaru.

Karangwaru Riverside dan 5K

Disinggung tentang Karangwaru Riverside, sebuah keberhasilan pembangunan pedestrian di pinggir sungai, Suhardi menyinggung konsep 5 K, yaitu Kampus, Kampung, Keprajan, Keraton, dan Komunitas yang turut membuat Karangwaru Riverside berkembang.

“Konsep Kampung, Keprajan, dan Komunitas merupakan awal perkembangan Karangwaru Riverside. Pengurus dan lembaga sosial masyarakat yang ada di Karangwaru (Kampung) dipadukan dengan adanya peran serta pemerintah (Keprajan) mampu menggerakkan komunitas (Komunitas) untuk tumbuh dan berkembang. Yang pada akhirnya menggerakkan elemen kampus (Kampus) untuk ikut menyumbangkan pemikirannya melalui Karangwaru Bergerak,” paparnya.

Kehadiran program Yogya Semesta Masuk Desa yang digagas Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X beberapa waktu lalu, sambungnya, secara tidak langsung menggeliatkan potensi masyarakat sekitar Karangwaru. Sosok HB X tak terlepas dari hadirnya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Keraton).

Komitmen Tinggi

Subandono, seorang fasilitator dan pimpinan kolektif Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Tridaya Waru Mandiri melihat sosok Suhardi sebagai seorang yang punya komitmen tinggi kepada masyarakat.

“Saya melihat sosok beliau (Suhardi) sosok yang luar biasa dalam menggerakkan potensi masyarakat Karangwaru. Beliau mampu membaur terhadap semua lapisan masyarakat dan mampu mengayomi masyarakat Karangwaru. Mungkin, karena beliau dulu pernah sebagai fungsional juru penerang (saat Departemen Penerangan masih ada) dan kepala seksi pemberdayaan masyarakat maka memudahkan komunikasinya dengan masyarakat,” kata Subandono.

Lurah Suhardi pula yang menginisiasi pembangunan di kelurahan Karangwaru di bagi dalam segmen-segmen agar tidak terjadi perebutan program pembangunan. Pembagian segmen tersebut berdasarkan skala prioritas yang telah ditetapkan bersama oleh masyarakat. Segmen satu hingga segmen empat di Sungai Buntung, segmen lima di kampung Bangirejo dan segmen enam di Kampung Petinggen (Bantaran Sungai Code).

Penempatan empat segmen di Sungai Buntung karena di sana dipandang tempat sampah terpanjang dan berpotensi menimbulkan penyakit. Untuk itu, Sungai Buntung mendapatkan prioritas untuk dibersihkan dan dinormalisasi dengan mengedepankan pendekatan sosial.

Saat ini, di Sungai Buntung telah dibangun segmen satu, segmen dua (dua tahap) dan segmen empat (dua tahap) sementara segmen tiga belum disentuh karena banyaknya permasalahan sosial dan bangunan yang melewati batas sungai. Namun akhir-akhir ini warga masyarakat di segmen tiga sebagian besar sudah menyatakan kesanggupannya untuk rela ditata.

“Pak Lurah Suhardi selalu duduk bersama dengan kami, BKM dan LPMK dalam merencanakan program pembangunan maupun menyelesaikan masalah di lapangan, sehingga semua tugas dan permasalahan selalu terselesaikan dengan baik,” imbuh Subandono menutup pembicaraan.

Add Comment