Sumbo Tinarbuko, Melawan Teror Visual

Sumbo Tinarbuko saat mengikuti reresik sampah visual baru-baru ini (Foto: Astama Izqi Winata)

Mungkin Sumbo Tinarbuko menjadi orang pertama di Indonesia raya ini yang begitu getol mengkampanyekan anti sampah visual. Pria kelahiran Jakarta ini memiliki cara berfikir kritis sekaligus unik namun mengena sasaran. Namanya beranjak menyeruak ke publik saat ia membidani lahirnya gerakan reresik sampah visual jogja.

Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual dan Program Pascasarjana ISI Yogyakarta ini dikenal sebagai sosok yang begitu garang membebasakan Jogja dari cengkraman sampah visual. Pria 50 tahun ini menyatakan perang dengan iklan luar ruang yang sangat semrawut, Iklan produk hingga alat peraga kampanye.

Suami Agnes Setya Wardhani ini mulai prihatin dengan kondisi ruang publik di jogja yang semakin semrawut dan mengganggu keindahan sudut-sedut jogja. Pada awal 2012 Sumbo mulai mendengungkan anti sampah visual dan mengembalikan ruang publik sebagai hak warga jogja.

Saat itu, Pria jebolan FSRD ISI Yogyakarta ini mulai menyuarakan gagasannya melalui media sosial, facebook hingga twitter. Hasilnya, gagasannya pun mendapat perhatian sekaligus sorotan publik dunia maya. Banyak yang mendukung gagasan Sumbo, mulai dari mahasiswa, akademisi praktisi, hingga ativis.

Melihat dukungan yang terus menguat tersebut, pada juli 2012 Sumbo membulatkan tekadanya untuk meluncurkan komunitas reresik sampah visual di Jogja. Sejak saat itu juga Sumbo dan komunitasnya melakukan aksi nyata membersihkan sampah visual di sekitar kampus ISI.

Aksi yang dimotori warga sono pakis yogyakarta inipun berhasil mengundang perhatian publik tidak hanya di Jogja saja bahkan komunitas reresik sampah visul juga sudah ada di semarang dan malang.

Sumbo ingin reresik sampah visual menjadi tanggungjawab semua warga negara Indonesia mengingat pada era modern saat ini sampah visual menjadi teror yang harus dihadapi bersama dalam sebuah gerakan sosial atau komunitas.

Ia pun tidak muluk-muluk, bagi pria yang juga pernah berprofesi sebagai jurnalis ini gerakan reresik sampah visual tidak harus formal. Baginya yang terpenting adalah bisa melakukan aksi nyata secara cair dan bersinergi dengan komunitas lain.

Bakat dan pemikiran Sumbo memang masih terhitung jari di Indonesia, bakatnya tersebut ternyata warisan dari ayahnya Almarhum Murianto alumnus akademi seni rupa indonesia (ASRI) sekaligus tim artistik di Balai Kota DKI Jakarta.

Dari situlah Sumbo tumbuh sebagai seorang seniman, karena sering mengikuti ayahnya dalam beberpaa perhelatan seni yang membuatnya bertemu dengan para seniman dan penulis.

Atas kerja kerasnya melawan sampah visual, Sumbo pun diganjar sederet prestasi diantaranya, anugerah tanda kehormatan satyalancana karya satya X tahun dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 201o silam.

Pada 2014, Atas asksinya yang dinilai konsisten dan berdaya sosial Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun kembali memberikan penghargaan serupa anugerah tanda kehormatan satyalancana karya satya XX tahun.

Nama Sumbo tidak hanya moncer pada sampah visual saja, pria yang hobi berorganisasi ini juga mendapatkan pengahrgaan dalam bidang jurnalis. Ia pernah menyabet Walikota Award HUT ke-251 Kota Yogyakarat kategori penulis artikel terbaik jogjaku bersih dan hijau pada 2007.

Pada bidang desain visual ia juga pernah meraih juara dua lomba desain iklan student creative award creative circle Indonesia pada 2003.

Pria yang kini juga menjadi kolumnis ini menilai bahwa penyebaran sampah visul yang kian menjamur hanya akan mengurangi keistimewaan Jogja. Pemasangan papan reklame dengan tidak memerhatikan estetika lingkungan justru akan memberi kesan bahwa Yogyakarta tidak toleran lagi, karena justru akan memberi teror visual kepada penduduknya.

Add Comment