Gunawan Nugroho Utomo, Bertumpu Modal Sosial Kerek Pasar Tradisional Go International

TRENGGINAS – Gunawan berdialog bersama salah satu pedagang Pasar Beringharjo. (Foto: UPT Pusat Bisnis Beringharjo)

Gondomanan, JOGJADAILY.COM ** Kapasitasnya mumpuni. Bukan hanya wawasan, tapi juga aksi nyata. Ia birokrat yang mampu membaca gerak zaman, tapi tetap teguh pada pelayanan publik. Ia Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang peduli pada kesejahteraan rakyat banyak, tapi tidak selalu anti-pasar. Bisnis dan pengabdian mewujud manunggal dalam amanahnya sebagai Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Bisnis Pasar Beringharjo. Mari berkenalan dengan Gunawan Nugroho Utomo.

Gunawan kini menenggelamkan diri pada aktivitas revitalisasi sosial dan revitalisasi fisik pasar tradisional, pengembangan modal sosial pasar tradisional dengan nilai-nilai kekuatan pasar tradisional, pembangunan pasar tradisional yang ramah lingkungan dengan daur ulang sampah dan listrik pasar tenaga surya, serta perintisan lapak digital, yakni semacam online shop untuk pasar tradisional.

“Pasar tradisional telah waktunya ramah lingkungan dan menjadi barometer ekonomi kerakyatan yang berwawasan sosial,” ujar Gunawan membuka pembicaraan, Kamis (21/11/2017), di kantornya.

Sebuah kalimat bernas yang mencerminkan jam terbangnya jatuh-bangun, bersama pasar tradisional. Bukan mengada-ada, karena semua telah terukur. Bukan dibuat-buat, karena ia tengah bergerak bersama visi itu. Ia tidak lagi di luar, tapi berjibaku di dalam, bersama para pedagang pasar tradisional.

“Pada 1997, saat Indonesia dan beberapa negara Asia dilanda krisis moneter, hanya pasar tradisional dan sektor riil yang mampu bertahan. Ada aspek luar biasa dari nilai-nilai yang ada di pasar tradisional, yaitu modal sosial pasar tradisional,” tandasnya penuh nilai.

Menurut alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada tersebut, modal sosial juga menjadi salah satu kekuatan pasar tradisional yang tidak dimiliki pasar modern.

Mengapa pasar tradisional perlu dilestarikan? Gunawan membangun analoginya. Ia menjelaskan, apabila jumlah pedagang pasar tradisional di Kota Yogyakarta sekira 12 ribu pedagang, dan misalkan setiap pedagang mempekerjakan 3 orang karyawan, berarti telah ada 36 ribu orang yang terhidupi dari pasar tradisional.

MENINJAU – Gunawan meninjau pekerjaan perkuatan struktur Pasar Beringharjo. (Foto: UPT Pusat Bisnis Beringharjo)

“Belum lagi, pengunjung pasar, buruh gendong, tukang becak, bank plecit, potang, suplier, dan masih banyak lagi stakeholder yang terlibat dalam aktivitas pasar tradisional. Hitungan kasar saya, kurang lebih ada 50 ribu orang yang mengandalkan pasar tradisional di Kota Yogyakarta setiap hari,” katanya.

Nilai transaksi yang sangat signifikan, yakni nilai transaksi yang berputar di lingkup masyarakat banyak, itulah, simpul Gunawan, salah satu aspek sosial pasar tradisional.

“Belum lagi tawar menawarnya. Perbedaan mendasar pasar tradisional dengan pasar modern ya di tawar menawar itu, bukan pada bangunan atau sarana prasarananya. Jadi, kekuatan modal sosial pasar tradisional sangatlah luar biasa. Tinggal bagaimana kita melestarikan pasar tradisional dengan menyesuaikan diri bersama situasi dan perkembangan yang ada. Pasar tradisional harus ambil bagian dalam perubahan zaman. Jangan hanya menjadi saksi,” paparnya meyakinkan.

Pro-Rakyat Sejak Belia

Gunawan tentu saja tidak tumbuh dan besar, tanpa proses panjang. Pengaruh dan inspirasi semasa kecil, misalnya. Kedua orangtuanya, terutama almarhum Sang Ayah, sangat menginspirasi kehidupan sosial Gunawan. Ia juga mengagumi sosok Romo Mangun Wijaya dengan gerakan girli (pinggir kali) dan perjuangannya membela rakyat kecil di Wonogiri.

“Mungkin seperti halnya rekan-rekan lain seusia saya yang lahir pada 1979-an, masih sangat dimanjakan oleh kekayaan alam dan aspek sosial kemasyarakatan yang sangat kental. Apalagi, saya Jawa. Lahir dan besar di Jogja, Saya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi,” kisah Gunawan tentang asal-usulnya.

TINGKATKAN DAYA – Gunawan di Ruang Direksi Teknis untuk pekerjaan penambahan daya listrik Pasar Beringharjo, dari 345 KVA menjadi 555 KVA. Semua itu untuk peningkatan pelayanan dan kenyamanan Pasar Beringharjo. (Foto: UPT Pusat Bisnis Beringharjo)

Selain besar dalam keluarga yang memegang teguh nilai-nilai budaya Jawa, Gunawan juga memiliki kepekaan sosial tinggi, sehingga ia sungguh peduli pada perekonomian rakyat, terutama perkembangan pasar tradisional.

“Kebetulan, sejak SMA, saya masuk Jurusan IPS. Saya benar-benar diasah kepekaan sosial saya. Saat kuliah, 1998-2004, saya mulai banyak menggali kepekaan ekonomi kerakyatan saya, dan mulai merasakan pergeseran zaman, di mana pada waktu itu, sedang terjadi gejolak politik dan ekonomi sangat dasyat. Beberapa teori ekonomi yang selama ini hanya saya baca akhirnya terjadi, termasuk krisis moneter, embargo ekonomi, monopoli, dan masih banyak lagi,” kenangnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan, pergeseran mendasar zaman oleh teknologi informasi juga mengilhami Gunawan untuk mencintai pasar tradisional. Maraknya era digital, sambungnya, telah melemahkan nilai-nilai sosial generasi muda. Padahal, hal tersebut dapat menjadi terobosan penting untuk mendorong aspek sosial, khususnya ekonomi kerakyatan dan pasar tradisional.

“Sewaktu saya kecil, di depan rumah saya, ada pasar tradisional bernama Pasar Gledekan. Sekarang, sudah hilang,” kalimatnya mulai terasa emosional.

Kolaborasi Pasar Modern dan Pasar Tradisional

Gunawan mengaku, ia tidaklah anti-pasar modern, sama sekali tidak. Misalnya, saat ada pembeli yang membutuhkan bawang putih pukul 21.00, sementara pasar tradisional telah tutup, pasar modern dapat memenuhi kebutuhan itu.

“Kalau pasar modern menjamur, jelas kita hanya jadi konsumen dan karyawannya. Kita hanya jadi obyek dari megahnya pasar modern. Karena, aliran kasnya jelas masuk ke pusat-pusat jaringan pasar modern itu. Walaupun ada pembatasan ruang gerak pasar modern, dengan alasan tidak mencerminkan ekonomi kerakyatan, selama pasar tradisional tidak berbenah diri, situasinya akan sama saja,” jelas alumnus SMA Kolese Debritto ini.

TINJAU AC – Gunawan meninjau kinerja AC Central untuk kenyamanan Pusat Perbelanjaan Beringharjo. (Foto: UPT Pusat Bisnis Beringharjo)

Pembatasan, seperti kebijakan Jejaring Pasar Modern agar buka di pinggir kota, tetaplah tidak efektif. Sebab, lanjut Gunawan, harga, pelayanan, dan sarana prasarana pasar modern jauh lebih baik. Wajar bila pembeli memilih pasar modern saat berbelanja.

“Jadi, selain revitalisasi fisik pasar tradisional, harus ada revitalisasi sosial pasar tradisional. Revitalisasi sosial adalah konsep jitu pengembangan pasar tradisional,” tuturnya taktis-strategis.

Bahkan, bagi Gunawan, pasar modern dapat menjadi partner pasar tradisional. Sebab, masalah pasar tradisional serta pasar modern sekarang ini adalah hadirnya online shop.

“Mau tidak mau, hadirnya online shop akan menghancurkan pasar modern dan pasar tradisional. Mekanisme tawar menawar yang selama ini dimiliki pasar tradisional telah diadopsi pula oleh online shop,” ungkapnya.

Pusat Perekonomian dan Pusat Kebudayaan

Bagi sosok yang suka berjalan kaki dari rumah ke kantor ini, tantangan terberat yang ia hadapi saat ini adalah penyatuan konsep antara pengelola dan stakeholders pasar tradisional untuk tujuan yang lebih baik. Gunawan berpandangan, diperlukan serangkaian kebijakan yang berpihak pada pasar tradisional juga pengembangan bertahap secara terus-menerus.

Menghadapi permasalahan tersebut, ia terus berupaya membangun jaringan untuk mengembangkan modal sosial pasar tradisional. Selain itu, meningkatkan komitmen keberpihakan pada kelestarian aspek sosial di pasar tradisional.

“Dukungan dari Pemerintah Kota Yogyakarta sangat kuat dan concern pada pengembangan pasar tradisional. DPRD Kota Yogyakarta juga memberikan dukungan penuh kepada pasar tradisional,” kata Gunawan.

CEK GENSET – Gunawan melakukan pengecekan genset. (Foto: UPT Pusat Bisnis Beringharjo)

Di masa depan, ucapnya, dengan inovasi yang dapat diterapkan, pasar tradisional dapat berperan lebih luas bagi Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Bagi DIY, pasar tradisional yang lestari, efisien, efektif, dan produktif tentunya akan menjadi jembatan komoditas dari luar provinsi. Pedagang pasar tradisional di Kota Yogyakarta kan juga berasal dari daerah-daerah di luar Jogja. Hal itu akan memberikan kontribusi pemerataan pendapatan melalui luasnya lapangan kerja yang ada di pasar tradisional,” terangnya.

Sementara bagi Kota Yogyakarta, lanjut Gunawan, dapat dikembangkan pasar tradisional yang sehat, berbudaya, dan memiliki nilai wisata serta edukasi. Selain menjadi pusat perekonomian, pasar dapat menjadi pusat pengembangan nilai-nilai kebudayaan luhur.

“Kebanyakan pasar tradisional yang ada di Kota Jogja, selain menjadi pusat perekonomian dan perkulakan, juga menjadi pusat kebudayaan dan sejarah yang masih lestari di tengah kemajuan teknologi informasi saat ini,” kali ini Gunawan benar-benar menunjukkan integritasnya.

Ia juga yakin, pasar tradisional dapat Go International.

“Kami di UPT Pusat Bisnis sudah membangun jaringan dengan beberapa Media Center untuk mendukung kegiatan bertajuk Beringharjo Go International. Beringharjo sebagai pilot project pasar tradisional yang dapat Go International. Saya yakin sekali dengan pasar tradisional yang dapat Go International,” tutup Gunawan penuh percaya diri.

13 thoughts on “Gunawan Nugroho Utomo, Bertumpu Modal Sosial Kerek Pasar Tradisional Go International

  1. perekonomian di pasar tradisional harus terus dikembangkan dengan tetap memegang teguh nilai local wisdom… mantab Pak Gunawan…!!!

  2. pasar tradisional harus terus dipertahankan dan dikembangkan dengan tetap memegang teguh nilai kearifan lokal. semangat Mas Gunawan!!!

  3. mirna nurkusuma ari SH

    - Edit

    Reply

    Tingkatkan terus pak gunawan.alhamdullilah selama bapak ada di upt pasar bringharjo,banyak kemajuan yg kami alami.mulai dari lantai,penguatan Tulang beton Dan fasilitas AC.semoga banyak di adakan event2 di pasar sehingga banyak menarik pengunjung semakin banyak ke pasar bringharjo… Lanjutkan pak.

  4. Suksesss selalu untuk sedulur mas bro gunawan nugroho utomo…beliau selalu konsisten dalam memajukan pasar tradisional di kota yogyakarta…

  5. Pasar Beringharjo, tidak hanya aset ekonomi tapi juga aset sosial budaya Yogyakarta.
    Semua perlengkapan tradisional jawa mulai jamu sampai rias manten ada di pasar beringharjo.
    Dengan keunikan pasar beringharjo dan dukungan pemerintah kota yogyakarta, Insya Allah Pasar Beringharjo bisa Go Internasional…

  6. e-commerce wajib dilihat sebagai bentuk tantangan didepan. Mengingat saat ini banyak cut off rantai distribusi dimana buyer langsung terhubung ke produsen langsung tanpa melalui distributor (dalam hal ini sodara2 kita yg jualan di pasar tradisional/pengulak). Jgn sampai gejala tutupnya ritel bbrp perusahaan ritel distributor besar berimbas ke pasar tradisional, karena tdk mengantisipasi perkembangan teknologi.
    Jadikan pasar tradisional sebagai tempat ekonomi, wisata dan budaya. Maju terus mas Gun….

  7. Duduk bersama, utk bicarakan konsep. Bringharjo butuh branding. Kami siap utk menjadi pihak k 3 utk sbg mitra, krn pasti butuh Pendanaan dari swasta, pemerintah dan swadaya, serta perlu peran serta aktif para pelaku d dlmnya. Monggo bisa d tindak lanjuti jika di setujui. Nuwun..

  8. Mantap…Josss!!!
    Jogja butuh orang yg memperjuangkan Pasar tradisional, Maju terus Pasar tradisional jgn sampai hilang kumandang e !!!

  9. Nicholas S.
    Dengan semakin maraknya pembangunan dan pertambahan Mall, maka pasar tradisional kiranya perlu lebih bisa “dandan” (bersolek, perbaikan) agar tidak hanya tampak menarik, namun juga perlu diperbaiki dan ditata infrastruktur dan pelakunya sehingga kearifan lokal dalam perilaku ekonomi masyarakat Yogyakarta tetap asri terjaga. Sukses pak gunawan nugroho utomo. Semoga ekonomi yang berbudaya bisa selalu tetap terjaga,

Add Comment