Suyatmi, Bukan Mustahil Menanam Anggrek di Tengah Kota Yogyakarta

Suyatmi di Kebun Anggreknya (Foto: Astama Izqi Winata)

Bagi sebagian orang menanam anggrek merupakan pekerjaan susah. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa tanaman bernama latin orchid ini memang membutuhkan penanganan ekstra. Namun hal ini tidak berlaku bagi Suyatmi. Ditangan warga miliran rt 01 rw 04 ini, beragam jenis anggrek berhasil dibudidayakan dengan baik.

Ibu tiga anak ini mengaku tidak punya resep khusus untuk mengawali kiprahnya sebagai pembudidaya anggrek. “Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan biologi atau yang berkenanaan dengan tumbuhan, kemampuan menanam anggrek saya dapat secara otodidak,” jelasanya.

Awalnya hanya sekadar hobi mengoleksi tanaman hias saja, Suyatmi melanjtukan kisahnya, kemudian lambat laun mencoba untuk menanam anggrek. Baru pada tahun 1976 istri dari Arya Wisnutama ini mulai serius mempelajari cara menanam anggrek dengan mengikuti pelatihan singkat di Fakultas Biologi UGM.

“Sejak muda saya sudah suka mengoleksi tanaman hias termasuk anggrek, namun terbatas lahan untuk membudidayakan. Tapi karena sudah terlanjur suka, pada tahun 1976 saya mulai menanam anggrek dengan memanfaatkan lahan kecil diatas dapur,” kisahnya.

Kini setelah berjalan puluhan tahun, nenek empat cucu ini sudah berhasil membuat kebun anggrek seluas 500 meter persegi. Kebun inilah yang sehari-hari ia gunakan untuk melestarikan beragam jenis anggrek, setidaknya sudah ada puluhan jenis varietas anggrek di kebun ini.

“Memang menanam anggrek itu gampang-gampang susah, namun dengan modal suka dan hobi semua itu pasti bisa dilewati. Kuncinya adalah tidak mudah bosan, dan jangan menyerah hanya dengan sekali mencoba,” pesan nenek empat cucu ini.

Beragam jenis anggrek, mulai dari anggrek bulan atau Phalaenopsis amabilis, anggrek vanda, anggrek dendrobium, anggrek cattleya, anggrek gramatopilum hingga anggrek tebu khas jambi bisa dijumpai di kebun anggrek ini.

Atas kerja keras Suyatmi, kini anggrek-anggreknya menjadi buruan para kolektor, pedagang hingga para ilmuwan. Selain menyediakan bibit anggrek yang masih dalam botol, Suyatmi juga menyediakan anggrek yang sudah siap tanam hingga yang sudah berbunga.

Bahkan, tidak jarang kini anggrek-anggreknya diincar para desainer ruangan untuk dijadikan ikon dalam tata ruangan. “Kadang kalau ada acara-acara di hotel atau di Pemerintahan, anggrek-anggrek disini sering disewa untuk hiasan,” tuturnya.

Ditanya soal omset yang didapatkanya, Suyatmi hanya tersenyum, ia hanya mengatakan,” yang jelas setiap bulan kami bisa menghasilkan 35 ribu bibit anggrek,” bebernya.

Sederet penghargaan berhasil diraihnya, termasuk dua kali menyabet penghargaan dari Pemerintah Provinsi DIY. Selain itu, tidak sedikit dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat sekitar yang melakukan pelatihan di kebun ini.

Keberhasilan Suyatmi tidak lepas dari peran suaminya yang juga hobi menanam anggrek. Bahkan keduanya kini tengah melakukan upaya pelestarian anggrek dengan mendirikan Asosiasi Anggrek Kota.

“Asosiasi Anggrek Kota ini merupakan wadah bagi para pemula yang ingin menjadi pembudidaya anggrek. Disini ada pelatihan langsung, dan tidak ada biaya sedikitpun,” jelasnya.

Add Comment