Perubahan Nama Bandara NYIA, Diusulkan

Ilustrasi Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon Kulonprogo. (Info Penerbangan.com)

Yogyakarta, JOGJADAILY.COM ** Penamaan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon Kulonprogo berpeluang diganti dengan nama baru. Sebelum beroperasi pada 2019 mendatang nama bandara baru diusulkan.

Kalangan DPR RI asal Daerah Pemilihan (Dapil) DIY, Agus Sulistiyono mendukung usulan nama Bandara di Kulon Progo dengan sebutan Bandara Internasional Sultan Agung International Airport. Agus menyatakan, usulan pemberian nama tersebut sebelumnya diinisiasi oleh oleh sejumlah tokoh – tokoh muda Kabupaten Kulonprogo.

“Saya kira itu merupakan usulan yang sangat cerdas dan mulia. Sebab kita patut berbangga hati jika nama Raja kita (Sultan Agung) diabadikan sebagai nama bandara ini,” papar dia kepada wartawan melalui sambungan ponsel, Jumat (5/1).

Agus beralasan dedikasi Sultan Agung terhadap kemerdekan Republik Indonesia tidak bisa diremehkan. Ia dinilainya sebagai sosok yang sangat mendalami ilmu agama, selain sebagai ulama dan umara’ (tokoh pemerintahan saat itu). “Sultan Agung juga pahlawan nasional, cendekiawan yang ahli dalam berbagai disiplin keilmuan, seperti pertanian, perdagangan,” katanya.

Menurutnya penamaan bandara tersebut akan mengabadikan nama Sultan Agung. Selain itu memberikan makna kesejarahan.”Agar anak cucu kita, dan dunia internasional mengetahui jika Sultan Agung adalah Raja dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan RI,” sambungnya.

Lebih jauh lagi, Ketua DPW PKB DIY itu menyatakan bahwa, selain sebagai identitas sosial dari Ke-Istimewa-an Yogyakarta, pembangunan bandara ini harus menjadi bagian dari edukasi kebudayaan dan sejarah nasional. Sama seperti deretan nama bandara di Indonesia yang sudah ada, seperti Soekarno Hatta, Halim Perdana Kusuma di Jakarta, Juanda di Surabaya, I Gusti Ngurah Rai di Pulau Dewata dan masih banyak lagi lainnya.

“Mereka semua itu kan deretan nama pahlawan nasional dan pejuang kemerdekaan RI, yang tidak perlu lagi kita ragukan komitmen kebangsaannya, tidak diragukan lagi loyalitas  dan dedikasinya”, jadi ini penting dan harus direalisasikan, ucapnya.

Pembangunan bandara internasional di Kulon Progo sendiri sudah diwacanakan sejak tahun 2011 di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Proyek tersebut masuk dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Namun proyek itu mangkrak sehingga pengerjaannya harus dikebut, seperti diutarakan Presiden Joko Widodo saat melalakukan groundbreaking pada 23 Januari 2017, lalu.

Presiden Jokowi lantas meneken Peraturan Presiden 98/2017 tentang percepatan pembangunan dan pengoperasian bandara di Kulon Progo. Sebelumnya, Jokowi memasukkan Pembangunan Bandara Kulon Progo dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, sebagai satu dari 15 bandara yang harus dibangun dan direnovasi.

Tujuannya untuk meningkatkan konektivitas dan mencapai pemerataan pembangunan. Bandara lain yang turut disebut dalam dokumen itu, antara lain Kualanamu di Medan, Kertajati di Majalengka, serta Minangkabau di Padang.

Menanggapi hal itu Agus menyatakan dukungan percepatan pembangunan tersebut. “Saya mendukung sepenuhnya, sebab Pembangunan Bandara di wilayah Kulon Progo selain membangun konektivitas di wilayah Yogyakarta juga dalam rangka mendukung Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu destinasi wisata nasional dan internasional, ungkapnya.

Agus juga mengetengahkan bahwa pembangunan bandara internasional di Kulon Progo merupakan titah dan sabda leluhur. Bahkan Agus juga kembali mengulang ucapan Presiden Jokowi saat melakukan groundbreaking, pada tanggal 23 Januari 2017, lalu.

“Presiden Jokowi saat itu bilang; “Sesok ning tlatah Temon kene bakal ono wong dodolan camcau nang awang-awang. Tlatah Temon kene bakal dadi susuhe kinjeng wesi”. “Ini ungkapan dan sabda leluhur Ngayogyokarto Hadiningrat. Kinjeng wesi itu apa? Ya Pesawat,” beber Agus.

Selain dukungan percepatan pembangunan, Agus juga berharap agar pembangunan bandara di Kulon Progo ini dapat mendukung kota Yogyakarta sebagai salah satu Destinasi Wisata Terbaik nasional maupun internasional.

“Sebagai negara yang ditakdirkan dengan ragam kepulaan, Indonesia memang membutuhkan banyak bandara untuk konektivitas. Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu kota dengan destinasi wisata dunia tentu membutuhkan fasilitas dan sarana publik, infrastruktur transportasi yang mendukung dan memenuhi standar mumpuni,” papar dia.

Pihaknya meminta kepada pemerintah agar pembangunan bandara terus dipercepat sesuai dengan keputusan Presiden. Secara khusus Agus kembali mengungkapkan agar usulan nama “Sultan Agung International Airport” yang diusulkan oleh tokoh-tokoh pemuda sebagai representasi warga Yogyakarta sebagi nama bandara baru ini dikabulkan.

“Mohon direspon usulan nama tersebut ya pak presiden, nama itu Insya Allah berkah bagi tanah dan keberlangsungan hidup kota kami”. Saya kira Presiden tidak keberatan dengan nama “Sultan Agung International Airport” sebagai nama bandara ini, ” tandas dia.

Add Comment