Bila Requiem Dikumandangkan untuk Sang Presiden

Ilustrasi kekuasaan. (Foto: Holifah Agong)
Ilustrasi kekuasaan. (Foto: Holifah Agong)

PADA 2010 lalu, saya dengan beberapa teman mendatangi kamp pengungsian korban bencana erupsi Gunung Merapi. Letusan Gunung Merapi saat itu luar biasa. Selain memakan korban banyak, termasuk juru kunci Merapi yang masyhur, Mbah Maridjan, erupsi memaksa penduduk lereng Gunung Merapi bagian utara (Selo, Cepogo, Samiran), yang sebelumnya tidak pernah mengungsi, terpaksa meninggalkan hunian mereka.

Selo, Samiran, dan Cepogo bersebelahan langsung dengan Gunung Merbabu. Selo dan Samiran yang terletak di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu merupakan desa terdekat dari puncak Merapi. Bahkan jarak antara puncak merapi dengan desa tersebut separuh dari kampung di mana Mbah Maridjan tinggal.

Selo dan desa-desa sekitarnya tidak memiliki sejarah mengungsi dari bencana yang disebabkan Merapi. Ada dua alasan atas hal ini. Pertama, masyarakat yang berada di lereng Merapi sebelah utara merasa aman dari lahar merapi karena berada di arah yang berlawanan dari jalur lahar. Kedua, ada kepercayaan di benak mereka, bahwa efek dari bencana Merapi tidak akan mungkin mengarah ke utara, karena sama dengan Gunung Merapi menyerang, atau berani melawan Gunung Merbabu. Menurut mereka ini mustahil.

Alasan kedua ini yang menjadi sebab kami menyambangi pengungsi Merapi yang lari menjauh ke lereng Gunung Merbabu. Kepercayaan tentang Merapi yang tidak mungkin melawan Merbabu yang menggiring mereka menuju ke arah utara di lereng-lereng Merbabu. Pengungsi kebanyakan berada di titik-titik pengungsian yang berada di daerah Ampel Boyolali dan sekitarnya.

Di samping karena beberapa orang pengungsi yang kami kenal, keputusan untuk memilih pergi ke Ampel adalah karena konsentrasi bantuan bencana lebih terpusat di daerah Jogja dan sekitarnya dan yang terdekat adalah Boyolali Kota. Sedangkan kamp-kamp pengungsi yang tersebar di daerah Ampel dan sekitarnya kurang mendapat perhatian.

Pada kesempatan itu, di salah satu kamp pengungsian yang sebenarnya rumah penduduk yang dialihfungsikan, saya didaulat memberi wejangan, dan memimpin doa agar bencana ini cepat selesai. Doa dimaksud hanya saya isi dengan pembacaan Surat Yasin bersama-sama, dan sedikit pesan saya sampaikan, yang sebenarnya sekadar mengingatkan kembali tentang kekuasaan Allah, menegaskan kembali kekuasaan Allah Swt pada bencana yang terjadi saat itu. Kita percaya kekuasaan-Nya meliputi sesuatu yang ada di jagat raya ini, termasuk Gunung Merapi.

Sebenarnya, saya tidak lebih berhak menyampaikan pesan atau wejangan kepada mereka, para pengungsi yang pada kenyataan pengabdian mereka, dan kesabaran mereka lebih baik dibanding saya. Karena tidak seperti kebanyakan orang-orang di perkotaan, mahasiswa, atau akademisi, penduduk desa mempraktikkan kebijaksanaan, pengabdiannya, tanpa lebih dulu harus mencari referensi di rak-rak perpustakaan atau toko buku untuk kemudian mereka perdebatkan, seperti pada umumnya mereka lebih mementingkan ‘laku’.

Karena sebab itu pula, balai desa tempat berembuk untuk memperbincangkan persoalan-persoalan sering kali sepi, karena sebab ‘laku’ itu tadi.

Pilpres 2014

Requiem adalah bagian dari misi suci Ordinarium dan Proporium yang disatukan sebagai wujud ungkapan ibadah doa kematian umat gereja Katolik Roma untuk seseorang yang telah meninggal dunia agar arwahnya diterima dalam hening-heningnya ketenangan abadi rasa damai di sisi Tuhannya.

Requiem aeternamdonaeis, Domine. Demikian kepanjangan asli mantra suci itu berbunyi, yang artinya, “Tuhan, limpahkanlah kepada mereka keheningan abadimu.”

Konon, Wolfgang Amadeus Mozart menciptakan doa akhir ibadah kematiannya dalam bentuk karya terakhirnya yang sangat indah, Misa Requiem (1791), hanya beberapa saat sebelum komponis besar itu pecat nyawa.

Dalam tradisi Islam juga dikenal doa pengantar kematian yang mirip dengan Requeim atau misa arwah dalam tradisi Katolik, disebut dengan talqin. Talqin berasal dari kata laqqana, yang artinya mengajarkan secara lisan, mendiktekan, danmembisikkan.

Sedangkan menurut istilah, talqin adalah mengajarkan dan mengingatkan kembali kepada orang yang sedang naza’ (tengah mendekati kematian) atau kepada jenazah yang baru saja dikubur dengan bacaan-bacaan tertentu. Tujuannya sama, untuk kedamaian kekal jiwa-jiwa dari orang yang telah meninggal.

Presiden Indonesia sejatinya penguasa yang mewarisi kecakapan raja-raja masa lalu. Kesalehan Sultan Malik as-Saleh, kecerdasan Wisnuwarman, ketangguhan Hayam Wuruk, keterampilan Raden Fattah, kejeniusan Airlangga, keberanian Ken Arok, kebajikan Kertajaya, atau kecerdikan Hadiwijaya.

Untuk itu, Presiden Indonesia haram untuk sambat ngaru-oro, atau berkeluh kesah di depan rakyatnya. Presiden harus sigrak, tidak loyo. Jika tidak, rakyat tidak sungkan menghantarkan doa requiem atau menuntun talqin untuk ‘Amir’ loyonya, dan ini adalah bencana terbesar. Apalagi rakyat memang telah memiliki ‘laku’-nya sendiri.