Filantropi, Marketing 3.0, dan Teknologi Informasi

Ilustrasi berbagi. (Foto: Swardraws)
Ilustrasi berbagi. (Foto: Swardraws)

SETIDAKNYA ada dua kecenderungan besar yang terjadi pada era informasi sekarang ini. Pertama, ketersediaan informasi membuat siapa pun dapat memilih informasi mana yang penting untuknya. Bahkan media besar sekalipun, belum tentu dapat memaksa pencari informasi untuk mengunjungi porta-portal berita mereka.

Kedua, saking banyaknya informasi, publik menjadi overload. Semakin banyak informasi terkumpul tidak membuat seseorang menjadi cepat dan tepat mengambil keputusan. Apa yang terjadi selanjutnya? Kebutuhan publik pada keaslian informasi menjadi pilihan paling realistis untuk bersikap.

Kegiatan ekonomi yang terhubung dan bergantung sepenuhnya pada keberadaan teknologi melalui kecepatan internet dan telepon seluler, lantas berdampak pada murahnya sosialisasi produk serta cepatnya produksi dan penghantaran produk secara langsung kepada konsumen, justru melahirkan risiko dan ketidakpastian.

Kegagalan sistem ekonomi pada sebuah negara, seperti hancurnya perbankan, pasar saham, bisnis perumahan, serta instabilitas politik, dan kegagalan sistem keuangan, dapat menyebar cepat dan menciptakan kekacuan besar hingga membalikkan seluruh sistem menuju hasil yang tak terduga.

Pada konteks fenomena informasi dan tren konsumsinya yang crowded, justru melahirkan relasi baru tentang ‘kepercayaan’ dan ‘kepedulian’. Sebab, hanya dengan dua nilai tersebut, informasi masih memiliki tempat pada preferensi publik.

Dengan kepercayaan, website-website pribadi atau sederhana lantas terpilih. Bukan karena megah, tapi karena concern pada persoalan. Dengan kepedulian, informasi dapat menginisiasi banyak reaksi publik atas kejadian tertentu, meski mereka tidak saling mengenal. Beberapa kejadian dapat diketengahkan. Bahkan seruan di media sosial bisa mengubah keputusan yuridis. Sebuah era baru advokasi dengan teknologi informasi.

Tampak jelas bahwa informasi dan kepedulian menemukan simpulnya di sini. Semakin tinggi konsumsi informasi publik, semakin tinggi pula kepedulian mereka. Lazismu dan teknologi informasi dapat dieratkan perannya, dan saling menguatkan. Lazismu sebagai lembaga filantropi mendapat angin segar alamiah dari membludaknya aktivitas publik yang semakin keranjingan informasi. Informasi yang terkadang menjemukan, tapi tetap tak bisa dihindari.

Marketing 3.0

Untuk membahas lebih lanjut tentang teknologi informasi dan filantropinya Lazismu, ada baiknya melongok era mutakhir marketing yang kini menggejala kuat di dunia, bertajuk Marketing 3.0. Wacana ini berfokus pada kemanusiaan, atau disebut dengan human-centric era.

Pada era ini, kegiatan marketing bukan menjadi produk utama, karena pelaku bisnis justru menonjolkan aktivitas kemanusiaan, dengan berbagai kegiatan sosial maupun pelestarian lingkungan hidup.

Konsep Marketing 3.0 mulai diperkenalkan pada November 2005 oleh sebuah grup konsultan pemasaran bernama MarkPlus, pimpinan Hermawan Kartajaya. Setelah dua tahun melakukan perbaikan pada konsep, Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya kemudian meluncurkan draf naskah Marketing 3.0 pada peringatan hari ulang tahun ke 40 tahun Association of South East Asian Nations (ASEAN) di Jakarta.

Konsep Marketing 3.0 pada dasarnya mengandalkan kemampuan pemasar untuk merasakan kegelisahan dan hasrat konsumen akan kreativitas, budaya, nilai warisan leluhur dan lingkungan untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Sebagai teori ilmu pemasaran, Marketing 3.0 dapat dipandang sebagai konsep penyeimbang terhadap perkembangan makroekonomi. Ketika lingkup makroekonomi berubah, begitu juga dengan apa yang terjadi terhadap perilaku konsumen, dan tentu saja akan membawa strategi pemasaran untuk ikut berubah.

Selama enam puluh tahun terakhir, pemasaran telah bergerak dari product-centric (Marketing 1.0) menjadi consumer-centric (Marketing 2.0). Saat ini, kita melihat marketing bertransformasi sekali lagi dalam rangka merespons gerakan baru di dalam kehidupan manusia untuk mencapai dunia yang lebih baik (Marketing 3.0). Pemasaran yang dahulu terfokus pada produk, kemudian ke konsumen, saat ini pelaku pasar lebih cenderung menggantinya dengan peran produk untuk mengatasi masalah kemanusiaan.

Marketing 3.0 adalah tahap ketika perusahaan berganti dari consumer-centric kepada kemanusiaan sebagai poros isu. Perusahaan mulai menyeimbangkan pendapatan keuntungan finansial dengan corporate responsibility.

Karena pola interest konsumen yang berubah, pemasaran pun mengalami perubahan. Di tingkatan pertama, marketing adalah semata-mata kegiatan yang berorientasi transaksi dan hanya terfokus pada bagaimana meningkatkan angka penjualan. Pada tingkatan kedua, marketing berorientasi kepada pembangunan relationship dengan konsumen. Di tingkatan ketiga, pemasaran berganti arah untuk mengajak konsumen agar berpartisipasi di dalam pembangunan produk dan komunikasi perusahaan.

Collaborative marketing merupakan pilar pertama dari bangunan Marketing 3.0. Perusahaan yang mempraktikkan Marketing 3.0 memiliki tujuan mengubah dunia. Mereka tidak bisa melakukan ini sendirian. Dalam ekonomi yang saling terhubung, mereka harus bekerja sama dengan anggota masyarakat, shareholder, rekanan usaha, para pekerja, dan konsumen. Marketing 3.0 adalah sebuah kerangka kerja sama dalam entitas bisnis yang memiliki seperangkat nilai serta hasrat yang sama, demi membangun dan meningkatkan taraf hidup manusia.

Sementara pilar kedua bangunan teori Marketing 3.0 adalah cultural marketing. Cultural marketing adalah rangkaian kegiatan pemasaran yang memberi fokus lebih pada agenda kampenye brand lewat kebudayaan. Untuk membangun kampanye pemasaran berbasis budaya, para pelaku pemasaran harus memahami tentang ilmu antropologi dan sosiologi. Mereka harus mampu mengenali paradoks budaya yang mungkin tidak tampak di masyarakat. Ini adalah hal sulit untuk dilakukan, karena paradoks budaya bukanlah sesuatu yang orang-orang perbincangkan.

Di pilar ketiga, pendekatan Marketing 3.0 yaitu melalui spiritual marketing. Spiritual yang dimaksudkan adalah kebangkitan masyarakat kreatif untuk memberikan solusi atas permasalahan sosial. Masyarakat kreatif adalah kumpulan individu warga negara tanpa susunan birokratis yang membelenggu kemerdekaan untuk berekspresi. Anggota masyarakat kreatif lebih memiliki kepercayaan diri yang kuat disertai definisi peran sebagai anggota komunitas.

Teknologi untuk Berbagi

Pada setting modal, Kelas Menengah dianggap sebagai kelompok yang paling sadar informasi. Mereka memiliki alat untuk mengakses informasi, lantas mengolahnya menjadi sesuatu yang mereka mau. Kelas Menengah juga merupakan potensi filantropi tinggi, lantaran rata-rata dari mereka telah berkecukupan dan membutuhkan gaya hidup baru dengan berbagi.

Untuk menggapai Kelas Menengah, media informasi menjadi penting perannya. Tinggal bagaimana pesan dirangkai secara bertahap dan sistematis untuk membangun gaya hidup filantropis. Berbagi akan menjadi kebutuhan lazim bagi mereka yang membutuhkan keaslian suasana kemanusiaan. Zaman di mana berbagi menjadi pelepas dahaga aktivitas kerja yang padat dan menjemukan.

Teknologi informasi dan Kelas Menengah mengatup dalam desain media filantropis. Ajakan, seruan, atau anjuran tanpa menggurui akan diterima Kelas Menengah dengan nuansa batin yang nyaman, sebab memang mereka membutuhkannya. Jujur dan ketepatan tak bisa dihindarkan, karena Kelas Menengah bukan kelompok tak berpendidikan. Mereka punya cara untuk memfilter informasi atau mendukung besar-besaran dengan cara unik. Ya, mereka adalah kelompok kreatif.

Pada akhirnya, Kelas Menengah bisa menjadi titik tumpu penting maju atau tidaknya aktivitas filantropi di Indonesia. Perlakukanlah mereka dengan baik, maka filantropi akan menjadi gaya hidup baru yang menyenangkan. Karena sekali lagi, Kelas Menengah membutuhkannya. Wallahu a’lam.