Berikut Langkah DIY Menekan Laju Inflasi

Bank Indonesia DIY. (Foto: Skyscrapercity)
Bank Indonesia DIY. (Foto: Skyscrapercity)

Kota Jogja, JOGJADAILY ** Inflasi merupakan masalah nasional yang serius. Penyebabnya bukan hanya kenaikan harga barang yang dikendalikan pemerintah, seperti BBM dan tarif listrik, tetapi juga faktor musim ekstrem yang membuat harga komoditas pertanian melonjak.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda DIY, Didik Purwadi, mengatakan, inflasi merupakan musuh masyarakat nomor satu, sehingga pengendalian inflasi mutlak dilakukan agar tidak mengangggu kinerja dan stabilitas perekonomian.

Menurut dia, sekitar 77 persen inflasi nasional disumbang oleh inflasi daerah, sedangkan inflasi daerah tidak terlepas dari permasalahan produksi, distribusi, tata-niaga, dan pengendalian ekspektasi konsumen.

“Jalur distribusi yang buruk juga menghambat pasokan barang. Jika ada masalah dengan jalur distribusi, bahan kebutuhan pokok di suatu wilayah akan langka,” kata Didik.

Menangani laju inflasi dibutuhkan kerja sama lintas instansi terkait. Hal tersebut mutlak dilakukan untuk melakukan koordinasi dan melakukan kontrol terhadap pergerakan keuangan daerah.

“Oleh karena itu, koordinasi mutlak diperlukan dalam tim yang solid yang terdiri atas unsur pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan pelaku usaha strategis di daerah,” imbuh Didik Purwadi.

Sementara itu, inflasi pada Juli 2014 diperkirakan akan lebih rendah dibanding dengan Juli 2013. Namun, meski demikian, perlu upaya menjaga kestabilan harga bahan pokok.

“Inflasi pada Juli 2014 akan lebih rendah. Adapun inflasi pada Juli 2013 cukup tinggi karena dipengaruhi kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Perkembangan inflasi pada Januari-Mei 2014 mencapai 1,39 persen, lebih rendah dari capaian nasional 1,56 persen,” ungkap Arief Budi Santoso, Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) III DIY.

Lebih lanjut, Arief menjelaskan, kondisi inflasi DIY masih dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang cukup realistis. Ketika harga daging melambung, permintaan kemudian bergeser ke daging ayam. Dengan meningkatnya ekspor CPO (Crude Palm Oil) ke Amerika Serikat, menyusul dijalankannya program diesel di negeri Paman Sam itu, menurutnya, dapat berujung menguatnya rupiah.

TPID DIY sebagai Stabilisator Inflasi

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pentingnya pengendalian dan stabilisasi inflasi. Untuk menangani kondisi seperti itu DIY membutuhkan suatu tim khusus sebagai wadah koordinasi antara instansi terkait.

“Pengendalian dan stabilisasi inflasi penting dalam upaya mendorong laju pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan,” jelas Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Dalam rangka mengatasi laju inflasi itu, Pemprov DIY telah membentuk dan merumuskan Tim Pengendali Inflasi Daerah atau TPID DIY.

“Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) memiliki peran sebagai ujung tombak stabilisasi inflasi,” tutur Sultan.

Di samping stabilisasi inflasi, persoalan pemerataan pendapatan layak menjadi fokus pemerintah DIY. Pertumbuhan ekonomi dapat diindikasikan dari tingkat pendapatan dan hal itulah yang menjadi tugas TPID.

“Pengendalian dan stabilisasi inflasi penting dalam upaya mendorong laju pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan,” kata Sultan.

Kini TPID DIY tengah fokus menjaga kestabilan harga pangan pokok. Untuk merealisasi hal tersebut TPID DIY menyiapkan dana Rp 60 juta untuk subsidi penyelenggaraan pasar murah. Komoditas yang dijual itu khusus pada harga barang berkencenderungan naik, yakni beras premium, gula pasir, minyak goreng, telur ayam, dan daging ayam.

DIY selama ini telah menunjukkan hasil kinerja baik, dengan meredam inflasi daerah, karena selama tiga tahun lalu, pola inflasinya berubah, di mana tren inflasi naik pada akhir tahun. Sedangkan DIY justru mampu meredam inflasi pada akhir 2013 lalu.

Dari hasil yang diraih tersebut, TPID DIY berhasil menyabet penghargaan TPID Terbaik 2013 khusus provinsi bersama Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur. Penghargaan ini merupakan apresiasi bagi upaya yang telah ditempuh TPID tersebut dalam upaya pengendalian inflasi.

“Sebenarnya, TPID dibentuk bukan untuk mencari penghargaan, tetapi benar-benar berupaya penuh mengendalikan inflasi di daerah. Terbukti selama ini inflasi DIY selalu berada di bawah capaian inflasi nasional, ke depan kami akan terus menambah inovasi dan terobosan guna menekan inflasi,” pungkas Didik Purwadi.