Ikatan Ahli Perencana Indonesia: Jogja Kota Ternyaman se-Indonesia

Turis asing akrab dengan warga Jogja di Kampung Wisata Dipowinatan Yogyakarta. (Foto: Djumaidi WordPress)
Turis asing akrab dengan warga Jogja di Kampung Wisata Dipowinatan Yogyakarta. (Foto: Djumaidi WordPress)

Kota Jogja, JOGJADAILY ** Selain memiliki kekayaan alam melimpah, Indonesia adalah negara dengan wilayah sangat luas. Menurut data terakhir Kementerian Dalam Negeri pada Juli 2013, Indonesia terdiri dari 34 provinsi, 412 kabupaten, dan 93 kota (tidak termasuk 5 kota administratif dan 1 kabupaten administratif di Provinsi DKI Jakarta).

Adapun jumlah penduduk Indonesia mencapai 253,60 juta jiwa. Dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) mencapai 1,49 persen per tahun. Kondisi tersebut memaksa pemerintah untuk melakukan perencanaan, untuk Indonesia ke depan.

Luas wilayah, jumlah penduduk, dan tingkat pertumbuhan penduduk harus sejajar dengan tingkat kualitas infrastruktur kota. Terkait hal tersebut, Ikatan Ahli Perencana Indonesia (IAP) telah melakukkan survei bertajuk ‘Kota Ternyaman di Seluruh Indonesia’ pada 2013.

Berdasarkan hasil survei, Jogja adalah kota dengan nilai teratas. Jogja mendapatkan predikat The Most Liveable City atau kota ternyaman untuk ditinggali. Indeks ini dihasilkan dari pendekatan Snapshot, Simple, and Actual yang dilakukan melalui survei kepada 1.200 warga di 12 Kota Besar di Indonesia, yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Palangkaraya, Pontianak, Menado, Makassar, dan Jayapura.

Kota dengan jumlah penduduk sekitar 3.452.390 jiwa ini dinilai pantas dinobatkan sebagai kota ternyaman, karena telah memenuhi beberapa indikator, yakni tataruang lingkungan, transportasi, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, infrastruktur, ekonomi, keamanan, dan kondisi sosial.

“Indikatornya bukan cuma sungai yang bersih, tapi ada juga ruang terbuka hijau yang baik, ada faktor kemacetan lalu lintas, termasuk (minimnya) permukiman kumuh, dan itu Yogyakarta yang paling enak dihuni menurut IAP,” kata Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Hermanto Dardak.

Survei ini ditetapkan dengan 25 kriteria penentuan liveable city seperti kualitas penataan kota, jumlah ruang terbuka, ketersediaan angkutan umum, kualitas angkutan umum, ketersediaan lapangan kerja, fasilitas untuk kaum difabel, perlindungan bangunan bersejarah, kebersihan, tingkat pencemaran lingkungan, kondisi jalan, fasilitas pejalan kaki, ketersediaan fasilitas kesehatan, kualitas fasilitas kesehatan, ketersediaan fasilitas pendidikan, kualitas fasilitas pendidikan, ketersediaan air bersih, kualitas air bersih, jaringan telekomunikasi, informasi pelayanan publik, hubungan antarpenduduk, ketersediaan listrik, ketersediaan fasilitas rekreasi, kualitas fasilitas rekreasi, tingkat aksesibilitas tempat kerja, tingkat kriminalitas.

Angka Kriminalitas Rendah

Salah satu aspek yang paling diperhatikan untuk menentukan tingkat keamanan dan kenyamanan suatu wilayah tempat tinggal adalah rendahnya angka kriminalitas. Kota-kota besar, seperti Jogja, tidak jarang disinyalir sebagai wilayah paling sering terjadi tindakan kriminal.

Lantaran sebagai pusat pariwisata sekaligus pusat pendidikan, dengan segala risikonya, Jogja sering dianggap sebagai kota dengan tingkat kriminalitas tinggi. Hal tersebut diperkuat dengan terjadinya penembakan di Lapas Cebongan beberapa waktu lalu.

Namun agaknya, anggapan tersebut kini semakin melebur. Selain data ilmiah hasil survei yang menunjukkan Jogja sebagai kota ternyaman dijadikan tempat tinggal, data juga membuktikan bahwa tigkat kriminalitas di Jogja rendah atau setidaknya, mengalami penurunan angka.

Direskrimum Polda DIY, Kombes Pol Kris Erlangga, menyatakan, Yogyakarta masih dalam kondisi relatif aman. Hal itu terlihat dari tingkat kriminalitas yang bahkan menurun dibanding sebelum terjadinya peristiwa LP Cebongan. Hanya saja, Kris memang tidak menunjukkan kalkulasi jumlah kriminalitas dan perbandingannya.

Kini, seluruh jajaran Polda DIY terus mengupayakan tingkat keamanan wilayah DIY. Pihaknya juga optimis akan menekan terjadinya tindakan kriminal di Kota Gudeg. Kepolisian tetap menggiatkan patroli rutin setiap malam.

Patroli gabungan Polresta, Brimob, Kodim, dan Satpol PP digelar setiap malam. Patroli pengamanan wilayah itu dilakukan antara pukul 22.00-02.30.