Indeks Nilai Tukar Petani DIY Meningkat, Subsektor Tanaman Perkebunan Terbesar

Wahana Pembelajaran Pertanian Terpadu Joglo Tani yang beralamat di Mandungan 1, Margoluwih, Seyegan, Sleman. (Foto: Arif Giyanto)
Wahana Pembelajaran Pertanian Terpadu Joglo Tani yang beralamat di Mandungan 1, Margoluwih, Seyegan, Sleman. (Foto: Arif Giyanto)

Kota Jogja, JOGJADAILY ** Badan Pusat Statistik DIY merilis Nilai Tukar Petani (NTP) DIY yang mengalami peningkatan pada Juni 2014. Respons positif ini diharapkan terus mengalami kenaikan pada Juli dan bulan-bulan selanjutnya. Meski angka relatif tipis, naiknya angka NTP menguatkan seluruh nilai pada subsektor.

Nilai Tukar Petani merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan.

Sebab kenaikan adalah kenaikan lebih besar indeks harga produk pertanian yang diterima petani dibanding kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dibayar petani.

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik DIY, naiknya indeks NTP gabungan pada Juli 2014 disebabkan oleh naiknya indeks NTP pada seluruh subsektor. Subsektor tanaman perkebunan rakyat menjadi subsektor yang mengalami kenaikan terbesar, yaitu mencapai 1,18 persen, diikuti oleh subsektor hortikultura sebesar 0,66 persen, subsektor perikanan 0,41 persen, subsektor peternakan 0,21 persen dan subsektor tanaman pangan sebesar 0,07 persen.

Pada Juni 2014, NTP Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai angka 102,10 atau mengalami kenaikan sebesar 0,46 persen dibandingkan indeks bulan sebelumnya yang tercatat 101,63. Angka tersebut disusul dengan naiknya angka setiap subsektor.

NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 95,63; NTP Subsektor Hortikultura (NTPH) 97,10; NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 117,70; NTP Subsektor Peternakan (NTPT) 103,31; dan NTP Subsektor Perikanan (NTN) 103,58.

Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Bambang Kristianto menjelaskan kenaikan indeks terjadi pada semua kelompok konsumsi rumah tangga dengan kelompok bahan makanan mengalami kenaikan terbesar, yaitu sebesar 1,58 persen.

Kenaikan indeks terbesar selanjutnya terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 0,32 persen, kelompok sandang sebesar 0,25 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau dan kelompok transportasi dan komunikasi masing-masing sebesar 0,10 persen, diikuti kelompok perumahan sebesar 0,04 persen, dan terakhir kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,01 persen.

Indeks Harga Petani Naik 0,96 Persen

Sementara Indeks Harga yang Diterima Petani (It) menunjukkan fluktuasi harga beragam dari komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada Juni 2014, secara umum It di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami kenaikan indeks sebesar 0,96 persen dibandingkan dengan It Mei 2014, yaitu dari 112,44 menjadi 113,53.

Kenaikan It terjadi pada semua subsektor dengan rincian subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami kenaikan terbesar, yaitu sebesar 1,60 persen; disusul subsektor hortikultura sebesar 1,23 persen; subsektor perikanan sebesar 0,80 persen; subsektor peternakan sebesar 0,66 persen; dan subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan sebesar 0,61 persen.

Adapun Indeks harga yang diterima petani (ib) Pada Juni 2014 mengalami kenaikan sebesar 0,50 persen bila dibandingkan Mei 2014, yaitu dari 110,64 menjadi 111,19.

Kenaikan Ib terjadi pada semua subsektor dimana kenaikan terbesar dialami oleh subsektor tanaman hortikultura sebesar 0,57 persen.

Selanjutnya, diikuti oleh subsektor tanaman pangan yang naik sebesar 0,54 persen, subsektor peternakan naik sebesar 0,46 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat naik sebesar 0,42 persen dan terakhir subsektor perikanan naik sebesar 0,39 persen.

Kenaikan Ib tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura disebabkan oleh naiknya harga beberapa komoditas bahan makanan konsumsi rumah tangga, seperti bawang merah, bawang putih, daging ayam ras dan telur ayam ras.