Mengolah Potensi Pesisir DIY dengan Kewirausahaan dan Teknologi Pesisir

Anna Purwaningsih. Ketua Puswira UAJY. (Foto: Arif Giyanto)
Anna Purwaningsih. Ketua Puswira UAJY. (Foto: Arif Giyanto)

Babarsari, JOGJADAILY ** Pusat Kewirausahaan (Puswira) Universitas Atma Jaya Yogyakarta belum lama ini mengembangkan sebuah desa wisata di Pantai Depok, Bantul. Meski hanya berjalan tiga semester dari empat semester yang direncanakan, setidaknya ada banyak temuan yang dapat diceritakan ke publik.

“Hal terpenting membangun desa wisata pesisir adalah mindset. Sumberdaya manusia harus siap. Tidak berpikir bagaimana mendapatkan uang sebanyak mungkin dalam waktu sebentar, tapi juga mengkreasi program jangka panjang berkelanjutan,” ujar Ketua Puswira, Anna Purwaningsih, di ruang kerjanya.

Ia melanjutkan, lokasi yang ada memungkinkan masyarakat untuk mengkreasi aktivitas yang melibatkan semua kalangan. Fasilitas pemerintah, baik dalam bentuk pembiayaan, pendampingan, atau yang lain juga diperlukan.

Selain itu, promosi dengan memaksimalkan media umum dan komunitas, baik cetak, online, radio, maupun televisi mempercepat penyampaian informasi. Hal yang tak kalah penting adalah kebijakan pembayaran retribusi yang tidak memberatkan.

Desa Wisata Pesisir

Anna menjelaskan konsep desa wisata ideal di kawasan pesisir. Menurutnya, desa wisata pesisir menjual kehidupan masyarakat pantai sehari-hari. Pantai merupakan anugerah yang sudah ada sejak mereka dilahirkan, berbeda dengan masyarakat di pedalaman yang harus bersusah payah mengkreasi tempat agar menarik.

“Desa wisata pesisir bukan hanya tempat beraktivitas tapi juga berekreasi. Modal alam yang luar biasa dapat ‘dijual’ apabila masyarakatnya terbuka dan mau berubah. Biasanya masyarakat pesisir, terutama tujuan obyek wisata sering berpikir, tanpa pendampingan saja sudah laku, buat apa didampingi,” papar Anna.

Untuk memaksimalkan desa wisata pesisir, sambungnya, dibutuhkan kewirausahaan pesisir. Mengkreasi aktivitas rekreasi menyenangkan bagi wisatawan.

“Kewirausahaan jangan dipandang hanya sebagai bertemunya penjual dan pembeli kemudian melahirkan transaksi. Kewirausahaan adalah kemampuan melihat hal yang biasa menjadi sesuatu bernilai tambah,” tutur Anna.

Masyarakat pesisir, sambungnya, tidak hanya memanfaatkan laut sebagai sumber matapencarian sehari-hari, tapi juga mampu melihat banyak peluang pengembangan bisnis sebagai sumber pendapatan baru agar lebih sejahtera.

“Misalkan membuat ajang voli pantai. Biayanya murah, dan wisatawan dapat menyewanya per jam. Asalkan dikelola berkelanjutan, hal-hal kecil tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir,” pungkasnya.

Laut sebagai Ekosistem dan Sistem Nilai Terintegrasi

Sementara itu, di tempat dan waktu yang berbeda, Bambang Kusumo Prihandono, Sosiolog Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjelaskan filosofi laut yang dapat menampung segala rupa air. Menurutnya, masyarakat pesisir yang plural merupakan melting pot kebudayaan. Masyarakat yang tinggal pada wilayah agraris dan pantai bersinggungan dan bernegoisasi dagang serta kebudayaan di pesisir.

“Pesisir merupakan tempat bersemainya multikultural, karena paling demokratis. Soalnya, masyarakat darat dan laut bernegoisasi banyak hal di sana,” katanya.

Meski demikian, lanjutnya, paradigma pembangunan yang agraris, dan tidak menempatkan laut sebagai prioritas strategis, membuat masyarakat pesisir turut berparadigma agraris.

“Masyarakat Jawa, misalnya, memiliki filosofi hidup seperti samudera. Artinya, dapat menampung kehidupan seperti apa pun. Namun, pada kenyataannya, laut masih dianggap sebagai ruang tempat sumberdaya alam yang hanya perlu dieksploitasi. Itu karakter agraris, karena hanya menganggap laut untuk memenuhi kebutuhan makan,” jelas Kepala Program Studi Sosiologi UAJY itu.

Teknologi Berbasis Laut

Menurut Bambang, laut adalah ekosistem dan sistem nilai yang terintegrasi. Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, laut menyimpan potensi sebagai sentral pertumbuhan ekonomi.

“Laut dapat dimanfaatkan untuk banyak hal, terutama teknologi dan inovasi. Sentral pertumbuhan yang dimaksud adalah ketika laut dapat melahirkan teknologi serbaguna penggerak perekonomian dan budaya masyarakat,” tuturnya.

Banyak hal yang dimaksud adalah sistem transportasi dan energi, misalnya. Tidak hanya digunakan untuk memfasilitasi kehidupan masyarakat pesisir, transportasi dan energi berbasis laut dapat juga dimanfaatkan masyarakat pedalaman.

“Teknologi menjadi kunci bergeraknya kita ke masyarakat maritim, meski harus diakui, investasi ke arah sana sangatlah mahal. Namun, melihat potensi laut yang sedemikian besar, teknologi maritim akan berpengaruh besar pada kehidupan masyarakat Indonesia, tidak hanya di wilayah pesisir,” papar Bambang.

Ia menambahkan, tidak hanya laut, sungai jangan selalu dijadikan halaman belakang. Biasanya sungai dianggap tempat membuang sampah dan kotoran. Paradigma kemaritiman mampu mengalihfungsi sungai sebagai sumber daya penting menuju kesejahteraan.

“Laut, sekali lagi, bukan hanya tempat memenuhi kebutuhan sehari-hari kita, seperti makan. Laut merupakan kesatuan ekosistem dan sistem nilai yang dapat menopang kehidupan kita,” ucapnya.