Reresik Sampah Visual, Gerakan Menjaga Keistimewaan Ruang Publik Jogja

Tujuh Sikap Komunitas Reresik Sampah Visual. (Foto: Sumbo Tinarbuko)
Tujuh Sikap Komunitas Reresik Sampah Visual. (Foto: Sumbo Tinarbuko)

Kota Jogja, JOGJADAILY ** Sebagai kota yang akrab dengan kebudayaan, Jogja layak menjaga kondisi keaslian dan keistimewaan yang telah melekat. Jogja menyimpan banyak sekali keistimewaan, termasuk keunikan bangunan dan tatakotanya.

Namun, bagaimana jika ruang publik di tiap sudut Kota Jogja terancam sampah visual. Tentu semua akan merasa resah dengan aksi marak yang belakangan menjadi tren iklan komersial dadakan itu.

Reresik Sampah Visual adalah salah satu gerakan asli Jogja yang concern menjaga keutuhan ruang publik Kota Jogja dari gangguan sampah-sampah visual, seperti reklame dan iklan komersial lain yang bervisual.

Gerakan Reresik Sampah Visual muncul pertama kali pada 19 juli 2012. Aksi massal yang mayoritas mahasiswa itu digawangi praktisi periklanan dan juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Sumbo Tinarbuko. Kala itu, Sumbo dan para relawan lain menyapu bersih baliho dan spanduk yang menempel di pepohonan. Menurutnya, iklan apa pun yang dipaku dipohon sangat mengganggu dan merusak lingkungan.

Aksi Reresik Sampah Visual mendapat respons positif dari Pemerintah Kota DIY. Setelah aksi pertama yang digelar pada 2012, gerakan Reresik Sampah Visual menggandeng Pemerintah Kota DIY untuk melakukan aksi sama di sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Diponegoro.

Aksi yang diprakarsai Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuthi, Satuan Polisi Pamong Praja Yogyakarta, dan Dinas Kebersihan Yogyakarta itu berhasil meraup partisipasi publik untuk ikut serta dalam membersihkan Kota Jogja dari sampah-sampah visual.

Dalam aksinya, Gerakan Reresik Sampah juga pernah bekerja sama dengan Panwaslu Kota Yogyakarta untuk membersihkan atribut kampanye calon legislatif dan partai politik yang menempel di pohon. Pada aksi tersebut, Gerakan Reresik Sampah Visual berhasil mengumpulkan sekitar enam puluh atribut kampanye partai politik dan calon legislatif. Namun demikian, aksi ini tetap mengutamakan perdamaian, tanpa tindakan anarki.

“Kegiatan mencabuti sampah visual tak perlu serius. Dilakukan santai sambil senang-senang saja. Jadi, situasinya bukan kayak mau perang,” terang Sumbo.

Dia mengaku akan terus melakukan gerakan ini, hingga pemerintah setempat memberikan kontribusi nyata terkait kelestarian ruang publik Kota Jogja yang semakin hari semakin menciut, karena desakan sampah-sampah visual. Ia menilai, pemerintah kabupaten dan kota di DIY belum memiliki Perda yang tegas mengatur pembatasan iklan luar ruangan.

“Sebenarnya bisa mengadopsi konsep kami, lima sila sampah visual. Peraturan KPU yang baru (tentang atribut kampanye) mengadopsi sebagian ide ini,” kata Sumbo.

Mendorong Kesadaran

Selain giat melakukan aksi membersihkan sampah visual, Gerakan Reresik Sampah juga bertujuan menggugah kesadaran masyarakat. Gerakan ini tidak jarang melakukan aksi dalam skala kecil, cukup sepuluh orang.

“Gerakan dalam skala kecil jumlahnya maksimal sepuluh orang yang tinggal bersama di satu perkampungan dan sudah ada di beberapa kampung. Misalnya, di Umbulharjo (Yogyakarta) dan sekitar Sonopakis (Bantul),” kata Sumbo.

Gerakan aktif memerangi sampah visual yang bertebaran di ruang publik bisa diawali dari hal kecil.

“Mulailah dari sekitar lingkungan kita di tingkat RT, atau kampung. Ideologi lingkungan mestinya dikedepankan dalam penataan lingkungan dan ruang di mana pun itu. Jangan membiarkan ruang publik dikuasai oleh pemilik modal,” tegasnya.

Gerakan Reresik Sampah mengajak semua pihak untuk membangun kesadaran bersama, melakukan revolusi mental, termasuk salah satunya mendidik masyarakat untuk tidak membiarkan terjadinya polusi sampah visual. Revolusi mental yang diikuti dengan aksi nyata untuk tidak membiarkan lingkungan dan halaman di sekitar tempat tinggal dikuasai sampah visual.

“Sebagai Kota Wisata sekaligus Kota Pendidikan mestinya Jogja juga perlu bersedia berbenah untuk menata ruang publik agar tetap berjalan, sesuai fungsinya dan menjadi ruang publik,” pungkas Sumbo.