Perguruan Tinggi DIY Kompeten Garap Pengembangan Indonesia Timur

Rektor UGM, Pratikno, bersama perwakilan Selandia Baru. (Foto: UGM)
Rektor UGM, Pratikno, bersama perwakilan Selandia Baru. (Foto: UGM)

Kota Jogja, JOGJADAILY ** Jogja sebagai Kota Pelajar bukan hal baru. Setiap tahun, berduyun-duyun calon mahasiswa baru dari semua penjuru Nusantara bermaksud menuntut ilmu di kampus-kampus Jogja. Wajar bila kemudian kampus-kampus Jogja dapat membangun hubungan strategis dalam membangun perekonomian Indonesia.

Sebut saja Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang menandatangani MoU dengan Pemerintah Kabupaten Nabire, salah satu kabupaten di Provinsi Papua, Kamis (7/8/2014) lalu di Kampus II, Gedung Thomas Aquinas .

Tujuan kerja sama adalah penempatan sumberdaya manusia, khususnya mahasiswa dari Kabupaten Nabire dan UAJY, demi peningkatan pelaksanaan pembangunan daerah di Kabupaten Nabire serta untuk meningktakan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi UAY.

Lingkup kerja sama meliputi pembangunan kerja sama kemitraan di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, penigkatan pengembangan sumberdaya manusia secara luas dan menyeluruh, penciptaan iklim kondusif dalam pelaksanaan dan pengembangan lebih lanjut di Nabire Papua.

“Realisasi kerja sama ini bagi UAJY merupakan upaya untuk melanjutkan tekad yag sudah lama dirintis oleh para pimpinan universitas yang terdahulu, karena semangat kerja sama tersebut sejalan dengan visi misi UAJY, yakni hendak mewujudkan sebuah pendidikan yang menghasilkan pemimpin-pemimpin bangsa yang unggul, inklusif, humanis, serta memilik integritas yang baik,” ujar Rektor UAJY, Maryatmo.

Hal ini, sambungnya, semakin didorong dengan akan dilaksanakannya ulang tahun emas UAJY tahun depan. Menurut Rektor, hendaknya momentum 50 tahun UAJY dapat menjadi titik pijak yang lebih kokoh, mewujudkan cita-cita UAJY.

“Upaya-upaya untuk semakin membentuk pribadi yang unggul, inklusif, dan humanis, antara lain telah diwujudkan melalui pendirian asrama dan student centre (sporthall) sebagai sarana pembentukan mental sportif, pemupukan nasionalisme, dan lain sebagainya. Di samping itu, adanya bantuan keuangan (financial aid) yang diperuntukkan tidak hanya bagi mereka yang berprestasi, melainkan bagi mereka yang secara konkret membutuhkan biaya secara ekonomi, tentu akan menjadi sarana pemerataan demi terciptanya kesempatan yang lebih luas bagi yang benar-benar membutuhkan,” papar Maryatmo.

UGM Bekerja Sama dengan Selandia Baru

Pada awal tahun, Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Selandia Baru melakukan riset pengembangan sumberdaya ekonomi lokal pulau-pulau terpencil di daerah Indonesia bagian timur. Proyek kerja sama lima tahun ini diprioritaskan pada pengembangan energi terbarukan, manajemen risiko bencana, pengembangan ekonomi kreatif, dan resolusi konflik.

Menurut Rektor UGM, Pratikno, alasan dipilihnya daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil di bagian Indonesia timur adalah dalam rangka menjalankan mandat UGM sebagai universitas nasional. Salah satunya, menditribusikan ilmu pengetahuan dalam mendukung pembangunan masyarakat yang berada di daerah posisi terluar, terdepan dan tertinggal (3T).

“Kita akan fokuskan pada pengembangan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat setempat, sehingga bisa menurunkan angka kemiskinan,” kata Pratikno.