Garebeg Besar Tahun Alip 1947 Jatuh Pada 5 Oktober 2014

Grebeg Jogja. (Foto: Jogjawarning Blogspot)
Grebeg Jogja. (Foto: Jogjawarning Blogspot)

Kota Jogja, JOGJADAILY ** Hajad Dalem Pareden (Gunungan) Garebeg 10 Besar Alip 1947 akan jatuh pada Minggu (5/10/2014). Hal tersebut berdasarkan surat berbahasa Jawa dari Tepas Dwarapura Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Nomor 36/SK/TPD/IX/2014 tanggal 9 Dulkangidah Alip 1947 atau 4 September 2014.

Surat yang ditandatangani Penghageng Tepas Dwarapura Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Jatiningrat, menginformasikan kepada masyarakat bahwa jumlah Pareden (Gunungan) ada tujuh, yakni 5 Pareden akan dikirim ke Masjid Gedhe Kauman, 1 Pareden akan dikirim ke Pura Paku Alaman, 1 Pareden akan dikirim ke Kepatihan Danurejan (Pemda DIY).

Hajad Dalem yang akan dikirim ke Kepatihan diperkirakan tiba pukul 11.30 dan akan diserahterimakan dari utusan Dalem ke Sekretaris Daerah DIY, Ichsanuri, untuk selanjutnya didoakan.

Sebagian akan dibagikan kepada Pimpinan SKPD dan selebihnya untuk diperebutkan karyawan dan masyarakat sekitar Kepatihan. Acara penyerahan Hajad Dalem di Kepatihan juga akan dimeriahkan oleh grup hadrah.

Garebeg

Upacara Garebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun penanggalan Jawa, yaitu 12 Mulud, 1 Sawal, dan 10 Besar. Pada hari-hari tersebut, Sultan mengeluarkan sedekahnya kepada rakyat sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan.

Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad Dalem, berupa pareden (gunungan) yang terdiri dari Pareden Kakung, Pareden Estri, Pareden Pawohan, Pareden Gepak, dan Pareden Dharat, serta Pareden Kutug/Bromo yang hanya dikeluarkan delapan tahun sekali pada saat Garebeg Mulud tahun Dal.

Gunungan Kakung berbentuk kerucut terpancung dengan ujung sebelah atas agak membulat. Sebagian besar gunungan terdiri dari sayuran kacang panjang berwarna hijau yang dirangkaikan dengan cabai merah, telur itik, dan beberapa perlengkapan makanan kering lainnya.

Gunungan Estri, jodhang berbentuk keranjang bunga yang penuh rangkaian bunga. Sebagian besar disusun dari makanan kering terbuat dari beras maupun beras ketan berbentuk lingkaran dan runcing. Kedua gunungan ditempatkan dalam sebuah kotak pengangkut.

Gunungan Pawohan terdiri dari buah-buahan segar yang diletakkan dalam keranjang dari daun kelapa muda (janur) berwarna kuning. Gunungan ini ditempatkan dalam jodhang dan ditutup kain biru.

Gunungan Gepak berbentuk Gunungan Estri, hanya permukaan atasnya datar.

Gunungan Dharat berbentuk seperti Gunungan Estri namun memiliki permukaan atas yang lebih tumpul.

Gunungan Kutug (Bromo) berbentuk khas, karena secara terus-menerus mengeluarkan asap (kutug) berasal dari kemenyan yang dibakar. Gunungan ini tidak diperebutkan masyarakat, melainkan dibawa kembali ke dalam keraton untuk dibagikan kepada kerabat kerajaan.

Kedua gunungan terakhir tidak ditempatkan dalam jodhang melainkan hanya dialasi kayu berbentuk lingkaran.