Suhardi, Guru Besar Kebanggaan UGM yang Berpuasa Gandum

Suasana penyemayaman almarhum Suhardi. (Foto: Humas UGM)
Suasana penyemayaman almarhum Suhardi. (Foto: Humas UGM)

Sleman, JOGJADAILY ** Guru Besar Fakultas Kehutanan, Prof. Suhardi (62 tahun) meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta, Kamis (28/8) sekitar pukul 21.40.

Rektor UGM, Pratikno, mengatakan, UGM menyampaikan rasa duka mendalam atas meninggalnya sosok putra terbaik bangsa sekaligus sosok alumni UGM yang patut diteladani.

“Almarhum adalah sosok ideal alumni dan juga sosok ideal dosen Universitas Gadjah Mada,” kata Pratikno dalam sambutannya, mewakili Keluarga Besar UGM.

Alrmarhum, kata Pratikno, seorang akademisi yang sangat produktif. Banyak karya akademiknya yang telah dihasilkan terkait rehabilitasi hutan tropika, penghutanan lahan pasir, dan pengembangan tanaman pangan di kawasan hutan.

“Karya-karya ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal nasional dan internasional,” ujarnya.

Walaupun produktif di bidang akademiknya, namun almarhum dikenal selalu menolak untuk mempatenkan semua produk hasil penelitiannya dengan alasan bahwa rakyat telah membiayai pendidikannya selama ini.

“Bukan semata memproduksi Iptek yang digunakan orang lain, ia juga mengaplikasikan inovasinya bagi kepentingan masyrakat,” katanya.

Salah satu yang dilakukan Suhardi adalah penanaman pohon cemara udang di Pantai Samas. Almarhum juga menjadi motor bagi pengembangan penanaman kayu meranti yang kini merupakan salah satu pohon produktif di Indonesia. Selain itu, dia juga menjadi inisiator dan pelopor tanaman pangan, seperti ketela pohon, ketela rambat, gerut, ganyong, dan gadung.

Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Keluarga Besar UGM di Sawit Sari, Jumat (29/8/2014) pukul 15.30. Sebelumnya dilakukan penghormatan terakhir dari sivitas akademika di Balairung, Gedung Pusat UGM.

Hadir dalam upacara penyemayaman Rektor UGM Prof Pratikno, Ketua Majelis Wali Amanat UGM Prof Sofian Effendi, Ketua Majelis Guru Besar UGM Prof Susamto Somowiyarjo, Mantan Ketua MPR RI Prof Amien Rais, Mantan Menteri Pendidikan Nasional Prof Yahya Muhaimin, dan Sekjen Partai Gerindra Fadli Zon.

Puasa Gandum

Yang menarik, semangat almarhum untuk berupaya mengembangkan kemandirikan pangan di seluruh Indonesia. Semangat tersebut diwujudkan dalam bentuk menjalankan puasa untuk tidak makan gandum sebagai bentuk protes atas kebijakan pemerintah atas impor gandum. Sebaliknya, almarhum membangun gerakan sosial menolak gandum dan menggantikannya dengan ketela, demi kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat desa.

“Tahun ini adalah tahun ke-26 almarhum menjalani puasa,” terangnya.

Semasa masih aktif mengajar, Suhardi bahkan lebih banyak menggunakan sepeda onthel saat berangkat dan pulang kerja dari kampus.

“Almarhum tidak suka menggunakan AC dan lebih suka menanam pohon di dekat jendela ruang kantornya,” katanya.

Dalam daftar riwayat hidup yang dibacakan oleh Dekan Fakultas Kehutanan UGM Satyawan Pudyatmoko, disebutkan, Suhardi dilahirkan di Klaten Jawa Tengah pada 13 Agustus 1952. Suami dari Lestari Rahayu Waluyati ini meninggalkan 3 orang anak.

Suhardi menamatkan pendidikan Sekolah Rakyat Negeri Mandok, Trucuk, Klaten tahun 1964. Pendidikan SMP dan SMA diselesaikan di SMP Negeri Cawas Klaten STM pertanian Delanggu tahun 1970. Ia kemudian melanjutkan pendidikan sarjana di Fakultas Kehutanan UGM hingga lulus tahun 1977. Pendidikan master dan doktor diselesaikan di College of Forestry UPLB Filipina pada 1982 dan tahun 1987.

Dosen mata kuliah fisiologi pohon ini pernah menjabat Dekan Fakultas Kehutanan UGM tahun 2000-2001, serta Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan tahun 2001.

Selain menjabat Ketum partai Gerindra, almarhum juga pernah menjabat Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat Deptan RI; Ketua Pokja Ahli Dewan Ketahanan DIY; Ketua Lembaga Masyarakat Peduli Hutan, Kebun, dan Pangan.