69 Tahun Serbuan Kotabaru, Walikota Yogya Serukan Jaga Kebersamaan

Menyalakan obor di Monumen Serbuan Kotabaru oleh Walikota, Muspida, dan para veteran.  (Foto: Pemkot Yogyakarta)
Menyalakan obor di Monumen Serbuan Kotabaru oleh Walikota, Muspida, dan para veteran. (Foto: Pemkot Yogyakarta)

Kota Yogyakarta, JOGJADAILY ** Peringatan 69 Tahun Serbuan Kotabaru digelar Dewan Harian Cabang Badan Penerus Pembudayaan Kejuangan 45 (DHC 45) Kota Yogyakarta di Lapangan Asrama Korem 072 Pamungkas Jalan Atmosukarto, Kotabaru Yogyakarta, Selasa (7/10/2014).

Upacara dipimpin Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, dengan peserta upacara para pelajar, mahasiswa, paguyuban, dan organisasi, serta TNI dan Polri.

Walikota menandaskan, 69 Tahun Serbuan Kotabaru harus dimaknai sebagai sebuah kebersamaan dan semangat perjuangan yang harus tetap tumbuh dalam relung-relung kehidupan masyarakat, terutama generasi muda.

“Serbuan Kotabaru mempunyai makna yang luar biasa bagi Yogyakarta. Untuk itu, semangat perjuangan ini harus kita maknai, kita isi, kemudian kita lestarikan, sehingga semangat perjuangan ini tidak lekang oleh zaman,” ujar Walikota, seperti diberitakan laman Pemkot Yogyakarta.

Walikota menambahkan, Peringatan Serbuan Kotabaru adalah momentum sangat spesial karena bertepatan dengan HUT ke-258 Kota Yogyakarta. Hal tersebut bisa dimaknai sebagai bagian untuk terus mengembangkan sikap lebih mementingkan kepentingan negara dan bangsa daripada kepentingan individu atau kelompok serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Kota Yogyakarta.

“Terima kasih pahlawanku. Kuteruskan perjuanganmu,” kata Walikota.

Acara Peringatan 69 Tahun Serbuan Kotabaru diakhiri dengan menyalakan obor di Monumen Serbuan Kotabaru oleh Walikota, Muspida, dan para veteran. Walikota juga berpesan kepada para generasi muda sebagai generasi yang meneruskan tongkat estafet dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan agar mewaspadai hal-hal yang dapat merusak kebersamaan.

Melucuti Jepang

Dilansir dari UNS Digital Library, penyerbuan markas Jepang di Kotabaru Yogyakarta diawali perundingan antara Jepang dengan pejuang Yogyakarta, 6 Oktober 1945. Perundingan tidak mencapai mufakat, karena Jepang tidak mau menyerahkan senjatanya kepada pejuang Yogyakarta. Pada 7 Oktober 1945, dilakukan penyerbuan ke markas Jepang oleh para pejuang Yogyakarta.

Badan Keamanan Rakyat (BKR) merupakan pemimpin perundingan dan pertempuran di Kotabaru. KNID Yogyakarta dan Polisi Istimewa ikut serta menjadi penyemangat para pejuang. Para pemuda di sekitar Kotabaru ikut dalam pertempuran dan diberi nama, Laskar Rakyat.

Dampak pertempuran Kotabaru memberikan kekuatan baru bagi Badan Keamanan Rakyat. Karena, persenjataan Jepang yang berhasil direbut diberikan kepada Badan Keamanan Rakyat sehingga dapat melebur menjadi Tentara Keamanan Rakyat. Kemenangan di Kotabaru memberikan semangat perjuangan untuk melucuti senjata Jepang di Pingit dan Maguwo.

Dalam peristiwa penyerbuan Kotabaru sebanyak 21 pejuang dan pemuda Yogyakarta gugur. Sementara di pihak musuh, 27 tentara tewas. Nama-nama para pejuang yang gugur inilah kemudian diabadikan menjadi nama jalan di sekitar kawasan Kotabaru.