Biomas Pelet Bantul, Bahan Bakar Alternatif dari Limbah Uang Kertas

Biomas Pelet. (Foto: Koreabizwire.com)
Biomas Pelet. (Foto: Koreabizwire.com)

Bantul, JOGJADAILY ** Siapa sangka, limbah uang kertas, ampas tebu, sekam, debu tembakau jerami, dan limbah grajen, setelah mendapatkan sentuhan teknologi, ternyata bernilai ekonomi tinggi? Umumnya, kalau tidak dimanfaatkan untuk bahan pembuatan suvenir, limbah uang kertas hanya akan menjadi pupuk.

Namun, bagi warga Desa Kalangan, Bangunjiwo, Bantul, dengan teknologi Biomas Pelet (Biomass Pellet), semua limbah tersebut berhasil diubah menjadi energi terbarukan atau energi altrernatif sebagai bahan bakar selain gas dan kayu.

Arya Parubaya, pengelola Biomas Pelet, menjelaskan, bahan baku limbah uang kertas diperoleh dari Bank Indonesia. Limbah sudah dihancurkan hingga berukuran kecil-kecil, dari hasil penarikan uang yang sudah tidak berlaku lagi.

Limbah uang kertas dari BI itu kemudian diberi campuran, digiling, dan keluar dalam bentuk pellet mail. Apabila digunakan untuk pembakaran, dibandingkan dengan bahan bakar lain, pellet mail lebih efisisen. Bila memasak dengan anglo, 0,5 kg pellet mail bisa bertahan 1 jam, dengan harga Rp450 per kg. Harga arang kini yang paling murah mencapai Rp2.500 sampai dengan Rp3.000 per kilogram.

Dilansir Humas Pemprov DIY, menurut Arya, rata-rata sebulan, Biomas Pelet mendapatkan limbah seberat 50-70 ton per bulan. Setelah diproses menjadi Biomas Pelet, dari jumlah tersebut, rendemennya mencapai 90 persen. Jadi, apabila yang diolah 50 ton, setelah diproses menjadi 45 ton.

Permintaan Biomas Pelet Tinggi

Sementara itu, Pembina dan Pemasaran Biomas Pelet, Monita Indrayanti, menuturkan bahwa pembuatan Biomas Pelet bukan saja dari limbah uang kertas. Atas kreatiivitas anak muda Yogyakarta, Biomas Pelet ini bisa dibuat dari rumput, sekam, ampas tebu, tahi gergaji, dan dedaunan kering, yang diproses menjadi bahan bakar alternatif.

Untuk bulan ini, order dari pabrik teh di Bandung sebanyak 18 ton. Meski demikian, Biomas baru bisa memenuhi pesanan 14 ton. Bahan baku yang diminta klien Bandung sangat khusus, yaitu bahan baku dari ampas tebu. Menurut pemesan, aroma bahan bakar berbahan dasar ampas tebu wangi. Aroma tersebut berpengaruh pada aroma teh yang diproduksi. Hasilnya, teh banyak diekspor ke Jepang. Masyarakat Jepang menyukai teh Indonesia lantaran aromanya yang berbeda dengan teh dari negara lain.

Biomas Pelet juga diekspor ke Korea sebagai bahan bakar sumber panas energi.

“Dengan demikian, kita pun harapannya ke depan harus bisa memanfaatkan Biomas Pelet ini sebagai sumber panas energi dalam skala kecil, misalnya 1 atau 2 mega watt. Saya kira, tahun depan harus terwujud, setelah ada penambahan alat produksi satu lagi,” ungkap Monita.

Ia menambahkan, Biomas Pelet sangat cocok digunakan untuk aplikasi berbagai proses pengolahan (masak) untuk industri dengan jangka waktu lama. Misalnya, untuk open furniture, penetasan telur ayam, katering, pabrik kerupuk, pabrik tahu, dan lainnya.

“Kalau untuk skala rumah tangga, memang kita belum ke sana,” pungkasnya.