Desa Wisata Kembang Arum Sleman, Citarasa Perdesaan yang Guyub

Desa Wisata Kembang Arum Sleman. (Foto: Visiting Jogja)
Desa Wisata Kembang Arum Sleman. (Foto: Visiting Jogja)

Sleman, JOGJADAILY ** Dahulu, apabila Anda berkunjung ke Desa Kembangarum, Donokerto, Turi, Sleman, suasana terenyuh lebih kental terasa ketimbang optimisme. Ketika itu, desa yang hanya berjarak 20 km dari pusat Kota Yogyakarta tersebut termasuk salah satu desa termiskin atau tertinggal di Kabupaten Sleman.

Kini, kebersamaan dan keinginan pengelola dan warga setempat untuk memajukan desa, membuat desa termiskin itu kini menjadi desa yang dikagumi dan didatangi banyak orang.

Datanglah ke Desa Kembangarum. Pada gapura desa tertera moto ‘Anda datang senang, pulang tambah pintar’. Memasuki desa, Anda akan disambut perkebunan salak yang tertata rapi di pinggir jalan desa. Sawah hijau terbentang, sungai dengan air jernih, dan udara yang segar menjadi daya tarik alamiah lain.

Dilansir laman promosi wisata Pemprov DIY, Visiting Jogja, ide pembuatan desa wisata berawal dari seorang tekun bernama Hery Kustriyatmo. Suatu ketika, istri Hery ingin mencari rumah. Pencarian membawa mereka ke Kembang Arum. Rumah milik salah satu warga desa akhirnya bisa menjadi milik Hery.

Rumah baru tersebut kemudian ia jadikan Sanggar Lukis Prastita. Bermula dari sanggar ini, Hery menangkap potensi Desa Kembang Arum dan berkembanglah ide untuk menjadikannya desa wisata. Dengan daya kreativitas dan kemauan tinggi, Heri mampu mengajak warga setempat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki desanya.

Secara perlahan, Hery melakukan pendekatan kepada kelompok masyarakat Desa Kembang Arum, mulai dari kumpulan sesepuh, bapak-bapak, ibu-ibu PKK, hingga Karangtaruna.

Memanfaatkan tanah seluas 22 hektar yang terdiri tanah warga, kas desa, dan milik Sanggar Pratista, Hery sebagai pengelola mampu menggerakkan ekonomi lokal dengan merespons potensi alam yang ditata indah. Desa ini kini didatangi sekitar 65 ribu wisatawan.

Hambatannya adalah pengaruh sosial masyarakat, terutama generasi muda. Pada umumnya, para pemuda mulai meninggalkan kegiatan bertani dan bercocok tanam, sehingga kemampuan mereka pun turun secara drastis dibandingkan generasi sebelumnya. Untuk menanggulangi hal ini, dibuatlah sarana untuk tetap menjaga minat warga akan potensi desa mereka dan menjaga nilai-nilai.

Melibatkan Warga

Kegiatan desa banyak melibatkan peran masyarakat Kembang Arum sendiri. Dengan melibatkan warga secara langsung, menjadikan warga lokal sebagai tuan rumah di tempat tinggalnya sendiri serta mampu menciptakan rasa memiliki terhadap desanya sendiri.

Paket acara wisata yang masuk dalam agenda kegiatan Desa Wisata Kembang Arum pun berasal dari kegiatan sehari-hari warga yang dilakukan secara inisiatif oleh warga.

Banyak kegiatan yang telah dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Salah satunya, Festival Pijat Massal. Warga bertindak sebagai pemijat, dan pengunjung menjadi pasien. Sederhana dan merekatkan hubungan satu dengan lainnya. Secara ekonomi, warga mendapatkan tip secara langsung dari festival.

Prestasi yang pernah diraih juga tidak sedikit. Keberhasilan tersebut antara lain, Juara 1 Hatinya PKK Tingkat Kabupaten, Juara 1 Kebersihan dan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional, Juara 1 Pembuatan Jamu se-Kabupaten Sleman (Jamu Pulih Raga), Juara 1 Lomba Desa Wisata tahun 2008 se-Kabupaten Sleman, Juara 1 Penampilan Seni Budaya dan Pameran Kabupaten Sleman.