Kuliah Umum UAJY: Sekira 100 Juta Penduduk Indonesia Miskin dan Rentan

Kuliah Umum FE UAJY. (Foto: UAJY)
Kuliah Umum FE UAJY. (Foto: UAJY)

Sleman, JOGJADAILY ** Sekitar 40 persen atau sekira 100 juta penduduk Indonesia saat ini merupakan penduduk miskin dan rentan. Tingkat ketimpangan pendapatan masyarakat semakin tinggi.

Kesenjangan distribusi pendapatan merupakan konsekuensi pembangunan yang berorientasi pertumbuhan. Porsi pendapatan yang diterima golongan penduduk berpendapatan rendah saat ini, meningkat amat kecil. Sementara pendapatan yang diterima lapisan menengah ke atas secara konsisten semakin tak terkejar.

Demikian disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi UI, Prof. Suahasil Nazara, dalam Kuliah Umum bertema ‘Pembangunan Ekonomi Nasional: Manusia sebagai Modal Utama Pembangunan’, Rabu (1/10/ 2014) di Ruang 3.3 Lantai III, Gedung Bonaventura, Fakultas Ekonomi Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FE UAJY), Jalan Babarsari.

Menurut Guru Besar yang menamatkan studi doktornya di University of Illionis pada 2003 tersebut, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tergolong tinggi, angka pengangguran cenderung turun, akan tetapi terdapat persoalan yang amat krusial.

“Persoalan tersebut adalah semakin meningkatnya ketimpangan, dalam tataran ekonomi makro. Yang membuat kesenjangan itu semakin mencengangkan adalah karena derajat kesenjangan saat ini merupakan angka yang tertinggi selama 50 tahun terakhir, yang dalam sisa waktu akhir pemerintahan SBY saat ini makin tidak bisa diatasi,” paparnya.

Ia menjelaskan, pemerintah harus membantu warganya untuk me-manage risiko-risiko yang dihadapi kelompok penduduk berkategori miskin dan rentan tersebut. Hal ini dapat ditempuh dengan memberikan perlindungan sosial lewat UU No. 40/2004 tentang Jaminan Sosial Nasional, meliputi tunjangan kesehatan, kecelakaan kerja, hari tua, pensiun, dan kematian.

Di samping itu, pemerintah juga wajib melaksanakan Program Penanggulangan Kemiskinan, meliputi bantuan sosial Rumah Tangga, pemberdayaan masyarakat, dan penciptaan lapangan kerja dan penghasilan.

Desa Wisata Pesisir Puswira UAJY

Pusat Kewirausahaan (Puswira) Universitas Atma Jaya Yogyakarta belum lama ini mengembangkan sebuah desa wisata di Pantai Depok, Bantul. Meski hanya berjalan tiga semester dari empat semester yang direncanakan, setidaknya ada banyak temuan yang dapat diceritakan ke publik.

“Hal terpenting membangun desa wisata pesisir adalah mindset. Sumberdaya manusia harus siap. Tidak berpikir bagaimana mendapatkan uang sebanyak mungkin dalam waktu sebentar, tapi juga mengkreasi program jangka panjang berkelanjutan,” ujar Ketua Puswira, Anna Purwaningsih, di ruang kerjanya.

Ia melanjutkan, lokasi yang ada memungkinkan masyarakat untuk mengkreasi aktivitas yang melibatkan semua kalangan. Fasilitas pemerintah, baik dalam bentuk pembiayaan, pendampingan, atau yang lain juga diperlukan.

Selain itu, promosi dengan memaksimalkan media umum dan komunitas, baik cetak, online, radio, maupun televisi mempercepat penyampaian informasi. Hal yang tak kalah penting adalah kebijakan pembayaran retribusi yang tidak memberatkan.

Anna menjelaskan konsep desa wisata ideal di kawasan pesisir. Menurutnya, desa wisata pesisir menjual kehidupan masyarakat pantai sehari-hari. Pantai merupakan anugerah yang sudah ada sejak mereka dilahirkan, berbeda dengan masyarakat di pedalaman yang harus bersusah payah mengkreasi tempat agar menarik.

“Desa wisata pesisir bukan hanya tempat beraktivitas tapi juga berekreasi. Modal alam yang luar biasa dapat ‘dijual’ apabila masyarakatnya terbuka dan mau berubah. Biasanya masyarakat pesisir, terutama tujuan obyek wisata sering berpikir, tanpa pendampingan saja sudah laku, buat apa didampingi,” papar Anna.

Untuk memaksimalkan desa wisata pesisir, sambungnya, dibutuhkan kewirausahaan pesisir. Mengkreasi aktivitas rekreasi menyenangkan bagi wisatawan.

“Kewirausahaan jangan dipandang hanya sebagai bertemunya penjual dan pembeli kemudian melahirkan transaksi. Kewirausahaan adalah kemampuan melihat hal yang biasa menjadi sesuatu bernilai tambah,” tutur Anna.

Masyarakat pesisir, sambungnya, tidak hanya memanfaatkan laut sebagai sumber matapencarian sehari-hari, tapi juga mampu melihat banyak peluang pengembangan bisnis sebagai sumber pendapatan baru agar lebih sejahtera.

“Misalkan membuat ajang voli pantai. Biayanya murah, dan wisatawan dapat menyewanya per jam. Asalkan dikelola berkelanjutan, hal-hal kecil tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir,” pungkasnya.