Lestarikan Budaya Adiluhung, 17 Kecamatan Ikuti Festival Kethoprak Bantul

Salah satu lakon kethoprak. (Foto: Cermithantonio Blogspot)
Salah satu lakon kethoprak. (Foto: Cermithantonio Blogspot)

Bantul, JOGJADAILY ** Festival Kethoprak digelar di pendopo Desa Tamanan, Banguntapan, Kamis (2/10/2014). Acara ini mengambil tempat secara berpindah. Pada 2 Oktober 2014, bertempat di Desa Tamanan Banguntapan. Tanggal 6 Oktober 2014, diadakan di Desa Sidomulyo Bambanglipuro.

Selanjutnya, 8 Oktober 2014 di Desa Bangunjiwo Banguntapan. Tanggal 10 Oktober 2014, di Desa Trimulyo Jetis. Terakhir, pada 12 Oktober 2014, di Desa Bantul Bantul, sekaligus penutupan dan pembagian hadiah.

Peserta festival merupakan perwakilan 17 kecamatan se-Kabupaten Bantul.

Menurut Asisten Administrasi Umum Sekda Bantul, Sunarto, budaya kethoprak merupakan seni budaya adiluhung dan perlu dilestarikan keberadaannya.

“Apalagi kita berada di Daerah Istimewa Yogyakarta yang disebut Kota Budaya. Namun, seiring perkembangan zaman, diperlukan kreativitas, inovasi seni dan budaya, tanpa meninggalkan nilai dan karakteristiknya yang khas,” ujarnya.

Serbuan budaya global, sambungnya, terkadang mengintervensi budaya lokal, sehingga identitasnya semakin hilang. Untuk itu, budaya yang telah ada sejak nenek moyang dan memiliki karakter dan ‘ruh luhur’ harus dipertahankan.

Sementara itu, menurut Ketua Panitia, Bambang Legowo, tujuan diadakannya festival adalah untuk memberikan wawasan tentang pembinaan, pengembangan, dan pelestarian kebudayaan yang adiluhung.

Sejarah Kethoprak

Kethoprak adalah drama rakyat tradisional dari Jawa Tengah yang dibawakan, baik oleh pemain pria maupun wanita dengan jumlah tergantung lakon. Kethoprak dimainkan pada malam hari selama 3-4 jam. Kostum yang dikenakan berupa pakaian daerah Jawa dengan berbahasa Jawa. Ceritanya pada sejarah atau Babad Jawa dengan pelukisan tokoh kethoprak lebih realistis. Penampilan kethoprak terkadang unsur seni tari, seni suara, seni musik dan seni akting.

Dilansir dari referensimakalah.com, kethoprak dikatakan tradisional karena drama ini dipertunjukkan kepada penonton tanpa menggunakan teks, sebagaimana yang berlaku pada drama modern. Para pemainnya tidak perlu menghapalkan teks terlebih dahulu sebelum bermain. Para pemain mengucapkan dialog-dialognya secara improvisasi atau memakai pola-pola kalimat tertentu yang dikenal secara tradisi oleh masyarakat.

Menurut Asti Diponingrat, kethoprak berasal dari Surakarta yang kemudian masuk ke Kota Yogyakarta pada 1926. Nama kethoprak diambil dari bunyi yang dihasilkan dari alat musiknya. Pada waktu itu, kethoprak menggunakan alat musik lesung (alat penumbuk padi), seruling, terbang, kendang. Irama yang dihasilkan dung dung prak prak, pating ketuprak sehingga orang menyebutnya kethoprak.

Menurut Ensiklopedia Indonesia, kethoprak berasal dari Surakarta. Kethoprak semula diciptakan Raden Kanjeng Tumenggung Wreksodiningrat, Bupati Gedong Kiwo, Kesunanan Surakarta pada 1898. Pada saat itu, Surakarta terjangkit penyakit pes. Raden Kanjeng Tumenggung Wreksodiningrat sedih dan terharu melihat warganya mati di jalan-jalan, terkapar di barak darurat sambil merintih. Ia kemudian menyuruh para abdinya untuk menghibur warga yang tertimpa kemalangan.

Hiburan yang diberikan berupa nyanyian dan tarian dengan diiringi lesung. Dari sinilah timbul sebutan kethoprak lesung. Pada tahun-tahun berikutnya, kethoprak masih berkembang dan mulai tumbuh beberapa kelompok yang main di luar keraton, bahkan sampai menyebar ke daerah Yogyakarta pada tahun-tahun berikutnya.

Pada 1927, mulai ada kethoprak beriringan gamelan, akan tetapi lesung masih digunakan. Pada masa itu, kethoprak mengalami masa transisi antara kethoprak lesung dan kethoprak gamelan. Tahun 1928, kethoprak baru melepaskan diri dari musik lesung dan hanya memakai gamelan lengkap.